
Sister dan paksu harus tahu jika adenomiosis terjadi ketika jaringan endometrium yang seharusnya ada di dalam rongga rahim malah masuk ke dalam otot rahim. Kondisi ini bisa membuat ukuran rahim membesar, menyebabkan perdarahan haid yang lebih berat, nyeri panggul, atau terkadang tidak menimbulkan gejala sama sekali. Meski sering tidak disadari, adenomiosis cukup sering ditemukan pada perempuan yang sedang menjalani pemeriksaan infertilitas, terutama mereka yang mengalami keguguran berulang atau kegagalan implantasi berulang saat menjalani program hamil.
Kenapa Adenomiosis Diduga Mengganggu Kesuburan?
Pada tingkat jaringan, adenomiosis mengubah struktur dan fungsi rahim. Kontraksi otot rahim bisa menjadi tidak teratur, sehingga mengganggu perjalanan sperma dan pergerakan embrio. Lingkungan endometrium pun bisa mengalami peradangan kronis, peningkatan radikal bebas, perubahan reseptor hormon, serta penurunan molekul penting seperti integrin, LIF, dan HOXA10 semuanya berperan kunci dalam proses implantasi. Ketika “jendela implantasi” tidak sinkron, embrio berkualitas baik sekalipun bisa kesulitan menempel di dinding rahim.
Bagaimana Dampaknya pada Program IVF?
Sejumlah penelitian menunjukkan hasil yang berbeda-beda. Ada studi yang tidak menemukan penurunan peluang kehamilan pada pasien adenomiosis, tetapi banyak penelitian lain justru menunjukkan pola negatif: angka implantasi lebih rendah, risiko keguguran lebih tinggi, dan angka kelahiran hidup yang turun. Sebuah meta-analisis besar bahkan mencatat bahwa adenomiosis dapat menurunkan peluang hamil klinis hingga sekitar 28% serta menggandakan risiko keguguran. Penelitian yang hanya menggunakan embrio euploid pun tetap menunjukkan peningkatan risiko keguguran menegaskan bahwa masalahnya berasal dari lingkungan rahim itu sendiri.
Tingkat Keparahan Berhubungan dengan Risiko IVF
Hasil studi terkini menunjukkan bahwa semakin banyak ciri adenomiosis yang ditemukan pada USG atau MRI, semakin besar penurunan peluang keberhasilan IVF. Pada kasus dengan empat atau lebih karakteristik adenomiosis, peluang hamil dapat turun hingga separuhnya. Variasi kriteria diagnosis antar studi (USG 2D/3D vs MRI, jumlah kriteria yang digunakan, dan perbedaan interpretasi) menjadi salah satu penyebab hasil penelitian sebelumnya saling bertentangan.
Perlukah Terapi Sebelum IVF?
Untuk itu diperlukan penggunaan agonis GnRH selama beberapa bulan sebelum IVF untuk membantu mengecilkan lesi dan mengurangi peradangan. Pendekatan ini tampak bermanfaat terutama pada siklus transfer embrio beku. Namun, hasilnya belum konsisten di semua penelitian. Operasi untuk mengangkat adenomiosis pun memiliki risiko khusus, termasuk risiko robekan rahim di masa kehamilan, sehingga harus dipertimbangkan dengan matang sesuai kondisi pasien.
Hampir separuh perempuan dengan adenomiosis memiliki kondisi lain seperti endometriosis atau mioma. Karena endometriosis sendiri dapat menurunkan peluang hamil, penelitian sering kesulitan memisahkan dampak masing-masing penyakit. Ini membuat interpretasi hasil IVF pada pasien adenomiosis menjadi lebih kompleks.
Mengapa Diperlukan Standarisasi Diagnosis?
Perbedaan cara diagnosis antar penelitian membuat hasil studi sulit dibandingkan. Penggunaan USG transvaginal sering lebih praktis untuk skrining, sementara MRI lebih akurat untuk kasus tertentu. Namun hingga kini belum ada standar global mengenai berapa banyak ciri USG/MRI yang diperlukan untuk menegakkan diagnosis adenomiosis. Tanpa standarisasi ini, sulit membuat panduan klinis yang benar-benar akurat untuk meningkatkan peluang IVF.
Berdasarkan bukti ilmiah saat ini, adenomiosis tampaknya dapat menurunkan peluang keberhasilan IVF, meningkatkan risiko keguguran, dan memengaruhi angka kelahiran hidup. Meski begitu, banyak faktor yang belum terstandarisasi mulai dari metode diagnosis, perbedaan derajat keparahan, hingga keberadaan penyakit lain yang menyertai. Karena itu, penanganan adenomiosis perlu sangat individual, mempertimbangkan usia, gejala, tingkat keparahan, dan rencana reproduksi jangka panjang pasien. Untuk informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Squillace, A. L. A., Simonian, D. S., Allegro, M. C., Júnior, E. B., de Mello Bianchi, P. H., & Bibancos, M. (2021). Adenomyosis and in vitro fertilization impacts-a literature review. JBRA Assisted Reproduction, 25(2), 303.