AMH Rendah Bukan Cuma Soal Jumlah Sel Telur: Tapi Juga Risiko Kehilangan Kehamilan Dini

 

 

Selama ini, AMH sering dibicarakan sebagai penanda cadangan ovarium. Angkanya rendah, lalu langsung diasosiasikan dengan “stok sel telur sedikit”.

Padahal, riset terbaru menunjukkan bahwa AMH rendah tidak hanya berkaitan dengan peluang hamil, tetapi juga berkaitan dengan kemampuan kehamilan untuk bertahan di awal.

Ketika Embrio Sudah Normal, Tapi Kehamilan Tetap Gugur

Salah satu pertanyaan besar dalam dunia fertilitas adalah mengapa keguguran masih bisa terjadi, padahal embrio yang ditransfer sudah dinyatakan normal secara genetik. Banyak orang mengira bahwa begitu faktor kromosom dieliminasi, risiko keguguran akan turun drastis. Namun kenyataannya, tidak selalu demikian.

Pada perempuan dengan AMH rendah, kehilangan kehamilan dini ternyata tetap terjadi lebih sering. Bukan hanya itu, peluang untuk mencapai kehamilan klinis juga lebih rendah, dan angka kelahiran hidup pun ikut menurun. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun embrio terlihat “baik” secara genetik, ada faktor lain dari tubuh perempuan yang tetap memegang peranan penting.

Yang menarik, risiko ini tetap muncul bahkan setelah berbagai faktor lain diperhitungkan. Artinya, AMH rendah bukan sekadar penanda tambahan, tetapi berdiri sebagai faktor risiko tersendiri. Dampaknya justru terlihat lebih jelas pada perempuan usia di bawah 35 tahun, terutama mereka yang baru pertama kali menghadapi masalah infertilitas, bahkan pada kondisi ketika jumlah folikel awal masih tampak cukup.

Temuan ini menggeser cara kita memaknai AMH. Selama ini, AMH sering dipahami hanya sebagai indikator jumlah sel telur. Padahal, kenyataannya AMH juga berkaitan dengan kualitas lingkungan biologis yang menopang kehamilan sejak fase paling awal. Di titik ini, AMH tidak lagi sekadar angka, melainkan sinyal tentang kesiapan tubuh dalam mempertahankan kehamilan, bahkan ketika embrio sudah berada dalam kondisi terbaiknya.

AMH mungkin juga mencerminkan kompetensi sel telur, bukan hanya soal berapa banyak, tapi juga seberapa siap sel telur tersebut mendukung kehamilan yang sehat.

Dengan kata lain:

  • embrio bisa tampak normal,
  • proses transfer bisa berjalan baik,
  • tetapi kualitas biologis dari sel telur tetap berperan dalam keberlanjutan kehamilan.

Apa Artinya untuk Pasangan yang Sedang Promil?

Untuk sister yang masih masih muda, AMH rendah, dan sering bingung saat keguguran terjadi meski “semuanya terlihat baik”.

Ini bukan soal menyalahkan tubuh. Tapi soal memahami bahwa fertilitas tidak bekerja satu lapis saja.

AMH rendah bukan vonis. Namun ia memberi sinyal bahwa pendekatan promil perlu lebih personal dan hati-hati, termasuk:

  • strategi stimulasi,
  • pemilihan waktu dan metode,
  • serta kesiapan tubuh untuk mempertahankan kehamilan.

AMH bukan sekadar angka di hasil lab. Ia adalah potongan kecil dari cerita besar tentang kesiapan reproduksi. Karena keberhasilan hamil tidak berhenti di embrio yang “normal”, dan perjalanan menuju kelahiran hidup melibatkan banyak faktor yang saling berkaitan. Karena itu, promil terutama pada AMH rendah tidak bisa disederhanakan, dan tidak bisa disamakan antara satu orang dengan yang lain. Jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id ya

Referensi

  • Sun, L., Zhang, C., Yin, B., Li, J., Yao, Z., Tian, M., … & Zhang, Y. (2025). Low anti-müllerian hormone levels increased early pregnancy loss rate in patients undergoing frozen-thawed euploid single blastocyst transfer: a retrospective cohort study. Reproductive Biology and Endocrinology, 23(1), 112.