
Bagi banyak perempuan, hasil AMH sering menjadi angka yang menegangkan. Apalagi ketika usianya sudah memasuki 40 tahun. AMH yang rendah sering dianggap sebagai tanda bahwa peluang kehamilan ikut menurun. Namun, apakah benar demikian? Tidak selalu.
Sebuah studi besar dari Taiwan justru menunjukkan bahwa AMH rendah tidak selalu berarti IVF akan gagal, dan temuan ini sangat melegakan bagi banyak perempuan.
AMH Menggambarkan Jumlah, Bukan Kualitas
AMH adalah indikator seberapa banyak cadangan sel telur yang masih dimiliki. Jika angkanya rendah, itu artinya jumlah telur memang sudah berkurang—hal yang sangat wajar seiring bertambahnya usia.
Tetapi, banyak yang salah paham dan mengira AMH rendah berarti kualitas telurnya juga buruk.
Padahal, penelitian ini menemukan bahwa:
Jumlah boleh sedikit, tapi kualitasnya belum tentu menurun.
Apa yang Ditemukan Penelitian Ini?
Dalam studi tersebut, para peneliti mengikuti ribuan perempuan usia 40 tahun yang menjalani IVF. Mereka dikelompokkan menjadi AMH rendah dan AMH normal untuk melihat perbedaannya.
Hasilnya cukup jelas: AMH rendah membuat jumlah telur yang didapat lebih sedikit.
Ini memang fungsi utama AMH: menilai kuantitas. Namun kualitas telurnya tetap sama antara kedua kelompok. Peluang embrio menempel, berkembang, hingga menjadi kehamilan tidak berbeda secara signifikan.
Hasil akhir IVF termasuk kelahiran hidup juga sama. Artinya, AMH bukan penentu keberhasilan IVF pada usia 40. Karena faktor Utama Tetap Usia, Bukan AMH
Pada usia 40, kualitas oosit memang secara alami menurun karena faktor biologis. Namun AMH tidak mengukur kualitas ini. Ia hanya mengukur berapa banyak sel telur yang bisa direkrut dalam satu siklus.
Temuan ini menegaskan bahwa: AMH rendah = jumlah telur sedikit, Tetapi peluang keberhasilan IVF tetap sama, selama kualitas telur masih memungkinkan
Apa Artinya untuk Perempuan yang Sedang Menjalani IVF?
Data ini membawa perspektif baru: AMH rendah bukan alasan untuk menyerah. Banyak perempuan tetap berhasil hamil lewat IVF meskipun angka AMH mereka sangat kecil.
Hal yang perlu dipahami adalah:
- AMH membantu dokter menentukan strategi stimulasi hormon
- Namun bukan patokan untuk menilai kualitas telur
- Dan bukan juga penentu apakah IVF akan gagal atau berhasil
Akhirnya, yang paling penting adalah kualitas embrio yang terbentuk dan bagaimana tubuh merespons proses IVF.
Kesimpulan: AMH Rendah Bukan Akhir dari Peluang Kehamilan
AMH adalah angka yang memberi informasi penting, tetapi tidak menentukan segalanya. Meski jumlah sel telur menurun, kualitasnya masih bisa tetap baik. Itu sebabnya banyak perempuan dengan AMH rendah justru berhasil melalui IVF. Jadi, kalau sister melihat hasil AMH rendah tenang. Peluangmu tetap ada, dan tetap nyata. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Wang, M. J., Lin, M. H., Yang, J. H., Lee, R. K. K., & Lee, K. S. (2025). Low antimüllerian hormone (< 1.2 ng/ml) does not impact oocyte quality and IVF/ICSI outcomes in women≤ 40 years old. Taiwanese Journal of Obstetrics and Gynecology, 64(2), 248-252.