
Banyak perempuan bertanya diam-diam:
“Kalau ibu saya susah hamil, apakah saya juga akan begitu?”
Atau, “Kalau di keluarga saya banyak yang keguguran, apakah risikonya lebih besar?”
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak berlebihan. Dalam beberapa dekade terakhir, ilmu reproduksi mulai menelusuri pola antargenerasi (intergenerational trends) dalam infertilitas dan kehilangan kehamilan. Bukan untuk menyimpulkan bahwa semuanya ditentukan oleh keturunan, tetapi untuk memahami apakah ada jejak biologis, lingkungan, atau perilaku yang ikut diwariskan.
Apa yang Dimaksud Pola Antargenerasi?
Pola antargenerasi berarti kecenderungan suatu kondisi muncul pada beberapa generasi dalam satu keluarga. Dalam konteks reproduksi, ini bisa terjadi melalui:
- Faktor genetik atau epigenetik
- Paparan lingkungan dan gaya hidup yang serupa dalam keluarga
- Paparan saat dalam kandungan (in utero exposure)
Ketiganya sering kali saling berkelindan, sehingga sulit dipisahkan secara tegas.
Secara global, infertilitas dialami sekitar 1 dari 7 pasangan. Menariknya, sejumlah studi menunjukkan bahwa beberapa komponen infertilitas tampak memiliki pola keluarga.
Ovulatory Dysfunction dan Cadangan Ovarium
Cadangan oosit perempuan ditentukan sejak dalam kandungan. Karena itu, kondisi ibu saat hamil berpotensi memengaruhi kesuburan anak perempuannya di masa depan.
Penelitian menunjukkan bahwa:
- Usia menopause ibu berkaitan dengan cadangan ovarium anak perempuan
- Ibu yang mengalami menopause dini lebih mungkin memiliki anak perempuan dengan cadangan ovarium lebih rendah
- Premature ovarian insufficiency (POI) dapat muncul pada beberapa anggota keluarga
Namun, bukti ilmiahnya masih terbatas dan banyak studi berukuran kecil. Artinya, ada sinyal biologis, tetapi belum cukup kuat untuk dijadikan alat prediksi individual.
PCOS dan Endometriosis: Jejak Keluarga yang Lebih Konsisten
Dibandingkan kondisi lain, PCOS dan endometriosis menunjukkan pola antargenerasi yang relatif lebih jelas. Datanya sekitar 40% perempuan dengan PCOS memiliki riwayat keluarga tingkat pertama. Daughters dari ibu dengan endometriosis memiliki risiko dua kali lipat mengalami kondisi yang sama
Meski belum ditemukan satu gen tunggal penyebab, kombinasi faktor genetik, hormonal, metabolik, dan lingkungan diduga berperan. Ini menjelaskan mengapa dua perempuan dalam satu keluarga bisa sama-sama mengalami gangguan ovulasi atau nyeri haid berat, tetapi dengan manifestasi yang berbeda.
Lalu bagaimana dengan laki-laki?
Selama bertahun-tahun, pembahasan pola keluarga dalam infertilitas lebih fokus pada perempuan. Padahal, data awal menunjukkan bahwa infertilitas faktor pria juga bisa muncul dalam pola keluarga. Hal ini dipengaruhi oleh:
- Paparan rokok ibu saat hamil berhubungan dengan jumlah sperma anak laki-laki di usia dewasa
- Paparan ini tampaknya terjadi sangat dini, bahkan sebelum ibu sadar hamil
- Ada indikasi bahwa infertilitas faktor pria lebih sering dilaporkan pada keluarga tertentu, meski datanya masih terbatas
Pengetahuan kita tentang transmisi risiko melalui jalur ayah masih sangat minim, terutama terkait epigenetik sperma.
Keguguran: Lebih dari Sekadar “Nasib Buruk”
Sekitar 15% kehamilan berakhir dengan keguguran, dan sebagian kecil pasangan mengalami keguguran berulang.
Studi epidemiologi menunjukkan:
- Perempuan dengan ibu atau saudara perempuan yang mengalami keguguran memiliki risiko sedikit lebih tinggi
- Pola ini lebih sering terlihat melalui jalur perempuan dibandingkan laki-laki
- Faktor imun, trombofilia, dan fungsi endometrium diduga berperan
Namun, penting dicatat: risikonya meningkat sedikit, bukan pasti terjadi. Sebagian besar keguguran tetap disebabkan oleh kelainan kromosom yang bersifat sporadik, bukan diwariskan.
Tidak Semua Kehilangan Kehamilan Bersifat Turun-Temurun
Menariknya, untuk stillbirth, bukti ilmiah saat ini relatif menenangkan. Studi besar berbasis registri menunjukkan tidak ada pola antargenerasi yang kuat antara ibu dan anak perempuan terkait stillbirth.
Hal ini menunjukkan bahwa tidak semua komplikasi kehamilan mengikuti pola keluarga dan beberapa kondisi lebih dipengaruhi oleh faktor kehamilan saat itu, bukan riwayat keluarga
Peran Epigenetik dan Lingkungan
Salah satu temuan paling relevan adalah bahwa apa yang dialami orang tua sebelum dan selama kehamilan bisa meninggalkan jejak biologis, tanpa harus mengubah gen.
Contohnya adalah merokok, paparan bahan kimia, obesitas dan stres kronis
Jejak ini dapat memengaruhi fungsi reproduksi anak di masa depan. Namun, bidang ini masih berkembang dan belum cukup matang untuk diterjemahkan menjadi rekomendasi klinis spesifik.
Ilmu reproduksi mulai memahami bahwa kesuburan dan kehamilan bukan hanya peristiwa satu generasi. Ada jejak biologis, lingkungan, dan pengalaman hidup yang saling berkelindan lintas waktu. Namun, sains juga mengingatkan kita untuk tidak menyederhanakan masalah kompleks ini. Riwayat keluarga adalah bagian dari cerita, bukan keseluruhan takdir. Pendekatan promil yang sehat bukanlah mencari siapa yang “menurunkan masalah”, tetapi memahami tubuh secara utuh, dengan empati, data, dan harapan yang realistis. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id ya
Referensi
- Woolner, A. M., & Bhattacharya, S. (2023). Intergenerational trends in reproduction: infertility and pregnancy loss. Best Practice & Research Clinical Obstetrics & Gynaecology, 86, 102305.