
Asam folat dan zinc termasuk dua mikronutrien yang paling sering direkomendasikan pada penanganan infertilitas pria. Keduanya dikenal berperan dalam sintesis DNA, proses pembentukan sperma, serta perlindungan sel terhadap stres oksidatif. Karena itu, tidak heran jika suplemen ini hampir selalu masuk dalam daftar terapi pendamping pada pria dengan kualitas sperma rendah.
Namun, di balik penggunaannya yang luas, efektivitas asam folat dan zinc tidak sesederhana yang sering dibayangkan.
Asam Folat dan Zinc di Klinik Fertilitas: Selalu Membantu?
Di banyak klinik fertilitas, kombinasi asam folat dan zinc kerap dianggap sebagai “paket aman” untuk memperbaiki kualitas sperma dan meningkatkan peluang kehamilan. Rekomendasi ini sering diberikan secara rutin, bahkan tanpa pemeriksaan spesifik terlebih dahulu.
Pertanyaannya, apakah manfaatnya memang selalu sebesar itu? Analisis dari berbagai uji klinis menunjukkan bahwa efek asam folat dan zinc ternyata tidak seragam, dan sangat bergantung pada kondisi dasar masing-masing pria.
Efek Asam Folat pada Kualitas Sperma
Asam folat tunggal menunjukkan manfaat, tetapi tidak menyeluruh. Konsumsi asam folat berkaitan dengan perbaikan motilitas sperma, yaitu kemampuan sperma untuk bergerak secara optimal. Namun, perbaikan ini tidak diikuti oleh peningkatan jumlah sperma maupun perubahan bermakna pada bentuk sperma.
Dalam konteks program bayi tabung, terdapat kecenderungan peningkatan angka kehamilan. Sayangnya, peningkatan ini belum cukup kuat untuk dianggap sebagai efek yang pasti.
Hal ini menunjukkan bahwa asam folat tampaknya lebih berperan dalam meningkatkan fungsi sperma, bukan kuantitasnya.
Kombinasi Asam Folat dan Zinc: Lebih Kuat atau Justru Tidak Berbeda?
Berbeda dengan asumsi umum, kombinasi asam folat dan zinc tidak menunjukkan perbaikan signifikan pada jumlah, pergerakan, maupun bentuk sperma. Dampaknya terhadap angka kehamilan juga tidak konsisten dan tidak bermakna secara klinis.
Menariknya, meskipun manfaat tambahannya tidak jelas, kombinasi ini tetap sering diresepkan secara rutin tanpa pemeriksaan kadar zinc sebelumnya.
Mengapa Asam Folat Bisa Berpengaruh?
Asam folat (vitamin B9) memiliki peran penting dalam:
- pembentukan dan perbaikan DNA
- proses pematangan sperma
- perlindungan sel dari kerusakan akibat stres oksidatif
Sperma merupakan sel yang sangat rentan terhadap stres oksidatif. Karena itu, asam folat diduga membantu menjaga kualitas fungsional sperma, terutama pada pria dengan gangguan motilitas.
Lalu, Bagaimana dengan Zinc?
Zinc memang mineral esensial dalam spermatogenesis. Namun, tambahan zinc tidak otomatis memperbaiki kualitas sperma. Manfaatnya kemungkinan hanya muncul pada pria dengan defisiensi zinc sejak awal.
Tanpa pemeriksaan kadar zinc, suplementasi justru berisiko tidak efektif. Dalam konsumsi jangka panjang, kelebihan zinc bahkan dapat mengganggu keseimbangan mineral lain di dalam tubuh.
Jangan Sekadar “Rutin Minum Suplemen”
Suplemen bukan solusi universal untuk infertilitas pria.
Asam folat bisa bermanfaat pada kondisi tertentu, tetapi tidak untuk semua kasus. Kombinasi asam folat dan zinc juga tidak selalu memberikan efek tambahan seperti yang diharapkan.
Pendekatan yang lebih tepat mencakup evaluasi penyebab infertilitas secara menyeluruh, termasuk pemeriksaan hormonal, kualitas sperma, integritas DNA sperma, serta perbaikan gaya hidup.
Asam folat memiliki potensi untuk memperbaiki aspek tertentu dari kualitas sperma, terutama motilitas. Namun, efek ini terbatas dan tidak berlaku secara universal. Sementara itu, kombinasi asam folat dan zinc yang sering dianggap lebih “kuat” justru tidak menunjukkan manfaat signifikan secara konsisten.
Dalam infertilitas pria, yang dibutuhkan bukan sekadar suplemen, melainkan strategi yang tepat sejak awal berbasis evaluasi, bukan asumsi.
Referensi
Li, X., Zeng, Y., Luo, Y., et al. (2023). Effects of folic acid and folic acid plus zinc supplements on the sperm characteristics and pregnancy outcomes of infertile men: A systematic review and meta-analysis. Heliyon, 9(7).