
Surabaya, 8 Februari 2026, Azoospermia masih sering dianggap sebagai vonis akhir bagi pasangan yang ingin memiliki anak. Ketika hasil analisis sperma menunjukkan “tidak ditemukan sperma”, banyak pasangan langsung dihadapkan pada ketakutan, kebingungan, dan perasaan kehilangan harapan. Padahal, perkembangan teknologi reproduksi modern membuka lebih banyak kemungkinan dibandingkan satu dekade lalu.
Isu inilah yang menjadi fokus utama webinar “Operasi pada Testis dan Bayi Tabung: Harapan Pasien Azoospermia” yang diselenggarakan oleh Menuju Dua Garis (MDG) bekerja sama dengan Alhaya Fertility Centre.
Acara dibuka oleh Mizz Rosie, Founder Menuju Dua Garis, yang menekankan bahwa azoospermia bukan sekadar hasil laboratorium, tetapi perjalanan emosional yang panjang bagi pasangan. “Banyak pasangan datang dengan rasa takut, merasa tubuhnya gagal. Padahal, azoospermia memiliki spektrum luas dan tidak bisa disamaratakan,” ujarnya.
Sebagai pembicara utama, Dr. Wan Syahirah Yang Mohsin (Dr. Sera), Consultant Obstetrician & Gynaecologist sekaligus Fertility Specialist, menjelaskan bahwa pendekatan pada azoospermia saat ini tidak lagi berhenti pada analisis sperma semata. Evaluasi testis, riwayat penyakit seperti orchitis, kondisi hormonal, hingga teknologi pengambilan sperma menjadi bagian penting dari penentuan strategi.
“Pada beberapa kasus, sperma memang tidak keluar bersama ejakulat, tetapi masih bisa ditemukan langsung dari testis atau epididimis melalui tindakan seperti TESA, MESA, hingga microTESE,” jelas Dr. Sera. “Ini bukan soal menjanjikan hasil, tapi membuka peluang yang sebelumnya tidak terlihat.”
Dr. Sera juga menyoroti peran teknologi laboratorium dalam meningkatkan peluang keberhasilan IVF pada pasien azoospermia. Teknik seperti pemilihan sperma secara mikro (micro-manipulation sperm), penggunaan Piezo ICSI, hingga manajemen sperma hasil operasi testis yang sangat terbatas, menjadi faktor krusial yang sering luput dipahami pasien.
Antusiasme peserta terasa kuat saat sesi diskusi dibuka. Berbagai pertanyaan reflektif dan emosional disampaikan, mulai dari perubahan hasil analisis sperma dari azoospermia menjadi cryptozoospermia, kegagalan microTESE, hingga kegelisahan tentang apakah masih ada harapan setelah operasi tidak menemukan sperma.
Menanggapi hal tersebut, Dr. Sera menekankan bahwa setiap kasus azoospermia bersifat sangat individual. “Tidak ditemukannya sperma pada satu prosedur tidak selalu berarti peluang tertutup selamanya. Evaluasi ulang, waktu, gaya hidup, hingga strategi yang berbeda bisa saja memberi hasil yang berbeda,” ungkapnya.
Isu sensitif seperti pengangkatan testis juga dibahas secara terbuka. Dijelaskan bahwa testis tidak hanya berfungsi untuk produksi sperma, tetapi juga produksi hormon testosteron, sehingga keputusan tindakan invasif harus dipertimbangkan secara matang dan multidisipliner.
Webinar ini menegaskan satu pesan penting: azoospermia bukan akhir cerita, melainkan titik awal untuk memahami tubuh secara lebih mendalam dan mengambil keputusan berbasis informasi yang tepat. Dengan kemajuan teknologi reproduksi dan pendekatan yang lebih manusiawi, harapan tetap ada meski jalannya tidak selalu mudah.
Acara berlangsung hangat, reflektif, dan penuh empati, meninggalkan kesan kuat bahwa di balik istilah medis yang terdengar berat, selalu ada cerita manusia yang layak didengar dan diperjuangkan.