
Buat banyak perempuan, mendengar kata “low AMH” rasanya seperti alarm besar soal kesuburan. AMH memang sering dipakai sebagai gambaran cadangan ovarium, dan ketika angkanya rendah, kekhawatiran itu wajar. Tapi ada satu hal yang sering luput: status vitamin D. MDG akan mengungkapkan insight menarik dan mungkin jadi secercah harapan untuk perempuan dengan cadangan ovarium rendah.
Ketika Vitamin D Jadi Lebih dari Sekadar Vitamin Tulang
Vitamin D biasanya dikenal sebagai vitamin buat tulang. Padahal, tubuh punya reseptor vitamin D di banyak tempat lain, termasuk… ovarium. Artinya: ovarium kita menerima sinyal dari vitamin D, dan itu bisa memengaruhi proses pematangan folikel, respons hormon, sampai kualitas oosit.
Jadi wajar kalau para peneliti ingin tahu: kalau perempuan dengan low AMH juga kekurangan vitamin D, apa yang terjadi kalau vitamin D-nya diperbaiki?
Sebuah studi yang mengamati perempuan yang sedang berjuang untuk hamil, khususnya mereka yang menunjukkan tanda-tanda diminished ovarian reserve seperti AMH rendah, jumlah folikel sedikit, atau respons stimulasi yang kurang optimal. Para peserta ini juga memiliki kadar vitamin D yang rendah dan apa yang terjadi setelah dalam dua bulan, mereka diberi vitamin D dosis tinggi untuk menaikkan kadar vitamin D ke level normal. AMH Naik Pelan-Pelan, Dalam kelompok perempuan ini, AMH awalnya berada di angka yang relatif rendah. Setelah dua bulan konsumsi vitamin D, AMH mereka meningkat.
Bukan perubahan drastis, memang. Tapi pada perempuan dengan low AMH, naik sedikit saja sering dianggap perkembangan besar, karena AMH biasanya cenderung stabil atau bahkan turun seiring waktu.
Selain AMH, para peneliti juga menghitung jumlah antral folikel (AFC). Hasilnya? Jumlah folikel kecil di ovarium bertambah setelah kadar vitamin D diperbaiki.
Artinya, ovarium mulai menunjukkan tanda-tanda “lebih responsif” dibanding sebelum suplementasi.
FSH Turun: Pertanda Ovarium Lebih Terbantu
FSH yang tinggi sering jadi tanda kalau tubuh sedang “memaksa” ovarium untuk bekerja lebih keras. Setelah vitamin D dinaikkan, angka FSH justru membaik (turun), seolah tubuh tidak lagi perlu menekan ovarium terlalu keras.
Ini kabar baik, karena FSH yang stabil biasanya berhubungan dengan siklus yang lebih sehat.
Lalu, Apakah Artinya Vitamin D Adalah Solusi?
Nggak sesederhana itu. Meskipun AMH naik, AFC naik, dan FSH turun, peneliti menemukan satu hal yang menarik: perubahan ini tidak berbanding lurus dengan angka vitamin D itu sendiri. Artinya bukan semakin tinggi vitamin D = semakin tinggi AMH.
Namun, satu hal yang jelas: Ketika perempuan dengan low AMH juga mengalami kekurangan vitamin D, memperbaiki vitamin D-nya bisa membantu ovarium bekerja lebih baik. Bukan sebagai “pengganti obat”, tapi sebagai support system untuk lingkungan folikel yang lebih sehat.
Manfaat Vitamin D untuk Infertilitas
- Vitamin D bukan obat ajaib, tapi bisa menjadi bagian penting dari perawatan kesuburan, terutama pada perempuan yang memang defisiensi vitamin D.
- Meningkatkan kadar vitamin D bisa memberi “dorongan kecil” pada AMH, jumlah folikel, dan hormon yang terlibat dalam pematangan sel telur.
- Efeknya tidak sama pada semua orang, tapi studi ini memberi harapan bahwa memperbaiki vitamin D bisa jadi langkah sederhana yang memberi perubahan nyata.
Kesimpulan: Layak Dicoba, Aman, dan Penting untuk DOR
Untuk perempuan dengan low AMH atau DOR, langkah-langkah kecil seperti memperbaiki vitamin D bisa memberikan keuntungan tambahan. Studi ini menunjukkan bahwa vitamin D yang cukup mampu memberi sinyal positif pada ovarium bukan untuk mengubah kondisi secara drastis, tapi untuk membantu tubuh bekerja lebih optimal.
Kadang, perjalanan menuju kehamilan memang bukan soal mencari “satu solusi besar”, tetapi mengumpulkan banyak perbaikan kecil yang akhirnya memberi dampak besar. Jangan lupa untuk follow Instagram @menujuduagaris.id untuk informasi menarik lainnya ya!
Referensi
- Bacanakgil, B. H., İlhan, G., & Ohanoğlu, K. (2022). Effects of vitamin D supplementation on ovarian reserve markers in infertile women with diminished ovarian reserve. Medicine, 101(6), e28796.