
Bayangkan seorang perempuan usia 32 tahun didiagnosis Premature Ovarian Insufficiency (POI). Siklus haidnya berhenti, kadar hormon berubah, dan ia diberi tahu bahwa cadangan ovariumnya sangat rendah. Namun ketika jaringan ovariumnya diperiksa lebih dalam, ternyata masih ada folikel primordial sel telur yang ada, tetapi seperti tertidur.
Dari sinilah konsep In Vitro Activation (IVA) berkembang: sebuah upaya “membangunkan” folikel yang dorman dengan memproses jaringan ovarium di luar tubuh sebelum ditanam kembali. Pahami lebih lanjut yuk!
Dua Cara Membangunkan Folikel: Fragmentasi (Mechanical IVA)
Pada metode ini, jaringan ovarium dipotong menjadi bagian-bagian kecil. Tindakan ini bukan sekadar teknis ia mengganggu jalur biologis bernama Hippo pathway, yang berperan menjaga folikel tetap dalam keadaan dorman.
Ketika jalur ini terganggu, folikel menerima sinyal bahwa “lingkungan berubah”, dan sebagian mulai aktif. Tidak ada obat tambahan. Hanya manipulasi mekanis jaringan.
Chemical IVA (cIVA), Metode ini menambahkan stimulasi kimia setelah fragmentasi.
Jalur pertumbuhan sel yang disebut PI3K–Akt diaktifkan dengan tujuan mendorong folikel berkembang lebih cepat dan lebih banyak. Secara teori, ini seperti memberi “gas tambahan” setelah mesin dinyalakan. Pertanyaannya: Apakah gas tambahan ini benar-benar membuat hasilnya jauh lebih baik?
Apa yang Terjadi di Dalam Jaringan?
Secara kasat mata (melihat jaringan di bawah mikroskop), chemical IVA memang tampak lebih agresif:
- Lebih banyak folikel berkembang ke tahap lanjut
- Ukuran folikel lebih besar
- Tampak lebih aktif
Namun ketika dilihat lebih dalam bukan hanya bentuknya, tetapi aktivitas biologis di dalam sel ceritanya menjadi lebih kompleks.
Ternyata, hanya dengan memotong dan mengultur jaringan saja, tubuh sudah memberikan respons besar baik metabolisme energi meningkat, jalur inflamasi aktif, sistem pertumbuhan seperti mTOR menyala dan gen yang mengatur hormon lokal ikut berubah. Artinya, proses fragmentasi itu sendiri sudah cukup untuk menciptakan “kejutan biologis” pada ovarium.
Chemical IVA memang memperkuat beberapa jalur tersebut. Tetapi perbedaannya tidak sedrastis yang dibayangkan.
Hal yang Perlu Diperhatikan pada IVA
Ya, chemical IVA dapat meningkatkan pertumbuhan folikel.
Namun beberapa hal perlu dipertimbangkan:
- Perbedaan molekuler dibanding fragmentasi saja ternyata relatif kecil
- Dampak jangka panjang terhadap kualitas oosit belum sepenuhnya diketahui
- Jalur PI3K Akt juga berperan dalam regulasi pembelahan sel secara umum, sehingga aspek keamanan tetap menjadi perhatian
Ini penting, terutama bagi pasien yang menjalani fertility preservation, termasuk pasien kanker yang ingin menjaga peluang kehamilan di masa depan.
Karena dalam reproduksi, pertanyaan besarnya bukan hanya:
“Bisakah folikel tumbuh?”
Tetapi juga:
“Apakah oosit yang dihasilkan berkualitas dan aman dalam jangka panjang?”
Karena dalam dunia fertilitas, bukan hanya pertumbuhan yang penting tetapi kualitas, keseimbangan, dan keamanan jangka panjang.
Referensi
- Hao, J., Li, T., Heinzelmann, M., Moussaud-Lamodière, E., Lebre, F., Krjutškov, K., … & Damdimopoulou, P. (2024). Effects of chemical in vitro activation versus fragmentation on human ovarian tissue and follicle growth in culture. Human Reproduction Open, 2024(3), hoae028.