
Poor ovarian response (POR) masih menjadi salah satu tantangan terbesar dalam dunia fertilitas. Meski teknologi reproduksi berbantu seperti IVF sudah berkembang pesat, kenyataannya tidak semua perempuan memberikan respons optimal terhadap stimulasi ovarium. Bagi sebagian perempuan, jumlah sel telur yang dihasilkan tetap sedikit, kualitasnya pun seringkali tidak ideal. Kondisi inilah yang dikenal sebagai poor ovarian response dan hingga hari ini, belum ada “obat ajaib” yang benar-benar bisa mengubahnya secara dramatis.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, berbagai terapi tambahan (adjuvant therapy) mulai banyak dibahas mulai dari CoQ10, DHEA, growth hormone (GH), hingga TEAS. Empat pendekatan ini cukup populer digunakan dokter-dokter fertilitas di berbagai negara, meski bukti ilmiahnya tidak selalu sejalan. Karena itu, muncul pertanyaan besar: adakah terapi adjuvan yang benar-benar memberikan manfaat nyata bagi pasien POR?
Sebuah studi besar yang dipublikasikan pada 2023 mencoba menjawabnya. Penelitian ini adalah systematic review dan network meta-analysis jenis riset paling kuat untuk membandingkan berbagai terapi sekaligus. Total ada 16 uji klinis acak (RCT) dengan 2323 perempuan POR yang disertakan. Semua peserta didefinisikan menggunakan kriteria Bologna, sehingga hasilnya cukup solid. Yuk cek apa kata penelitian!
CoQ10 dan DHEA: Bintang Utama dalam Meningkatkan Peluang Hamil
CoQ10 adalah antioksidan penting yang terlibat dalam produksi energi sel. Pada POR, kualitas sel telur sering dipengaruhi oleh stres oksidatif dan penurunan fungsi mitokondria.
Studi ini menunjukkan bahwa CoQ10:
- Meningkatkan peluang kehamilan klinis (OR 2.22)
- Menjadi terapi paling unggul untuk meningkatkan angka kelahiran hidup
- Memberikan manfaat paling seimbang antara kualitas dan outcome jangka panjang
CoQ10 dan Energi yang Menjaga Kehamilan
CoQ10 bukan sekadar suplemen yang membantu sel telur “siap berangkat”. Ia bekerja jauh lebih dalam memberi energi pada sel telur, menjaga kualitasnya, dan membuatnya lebih kuat menjalani perjalanan panjang menuju kehamilan yang sehat. Studi menunjukkan bahwa CoQ10 tidak hanya meningkatkan peluang pembuahan, tetapi juga membuat sel telur lebih “tahan banting” hingga kehamilan bertahan dan berakhir dengan persalinan. Ibaratnya, CoQ10 membantu membangun fondasi kokoh sejak dari tahap paling awal.
DHEA dan Perannya dalam Menguatkan Ovarium
Di sisi lain, DHEA sudah lama dikenal sebagai sahabat bagi pasien dengan poor ovarian response (POR). Perannya sebagai pendukung produksi androgen membuat folikel berkembang lebih sehatdan itu berdampak langsung pada kualitas sel telur. Dalam studi ini, DHEA menunjukkan peningkatan peluang kehamilan klinis hampir dua kali lipat (OR 1.92), meningkatkan angka implantasi, menambah jumlah sel telur yang berhasil diambil, serta memperbanyak embrio berkualitas tinggi. Yang paling mencolok, DHEA memberikan dorongan kuat pada kualitas faktor yang sering menjadi kunci keberhasilan pada pasien dengan respons ovarium yang lemah.
Growth Hormone (GH): Bukan yang Terbaik, Tapi Punya Potensi
GH tidak sekuat CoQ10 atau DHEA dalam meningkatkan peluang hamil, tetapi menurut analisis, terapi ini tetap memberikan manfaat. GH menduduki posisi kedua setelah DHEA dalam meningkatkan jumlah sel telur yang diperoleh.
Artinya, GH mungkin cocok untuk pasien tertentu misalnya yang membutuhkan peningkatan jumlah oosit tetapi bukan pilihan utama jika tujuannya adalah meningkatkan angka kelahiran hidup.
TEAS: Menarik, Tapi Paling Lemah
TEAS (Transcutaneous Electrical Acupoint Stimulation) adalah akupuntur listrik non-invasif. Meski beberapa klinik menggunakannya untuk meningkatkan aliran darah ke ovarium atau uterus, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa:
- TEAS adalah yang paling lemah dibanding tiga terapi lain
- Efek peningkatan kehamilan tidak signifikan
- Meski demikian, TEAS tetap lebih baik daripada tidak mendapatkan adjuvant therapy sama sekali
Kesimpulannya, TEAS bisa menjadi pelengkap, namun tidak ideal sebagai terapi utama untuk POR.
Apa Artinya Temuan Ini Bagi Pasien POR?
Dari empat terapi yang dibandingkan, CoQ10 dan DHEA adalah yang paling menonjol dalam meningkatkan berbagai aspek penting IVF: kualitas oosit, kualitas embrio, peluang implantasi, hingga angka kelahiran hidup.
GH memberikan manfaat tetapi tidak sekuat dua terapi utama, sedangkan TEAS membutuhkan evaluasi lebih lanjut sebelum bisa direkomendasikan secara luas.
Penelitian ini juga menekankan bahwa bukti ilmiah untuk terapi-terapi ini baru berkembang, dan masih dibutuhkan RCT berskala besar yang langsung membandingkan satu terapi dengan terapi lainnya.
Namun untuk saat ini, jika berbicara tentang evidence-based adjuvant therapy untuk pasien poor ovarian response, CoQ10 dan DHEA adalah kandidat paling kuat.
Poor ovarian response adalah tantangan besar dalam dunia IVF, tetapi terapi adjuvan dapat memberikan peluang tambahan untuk memperbaiki outcome. Berdasarkan penelitian besar ini:
- CoQ10 – terbaik untuk peluang hamil dan kelahiran hidup
- DHEA – unggul dalam meningkatkan kualitas oosit dan embrio
- GH – memberi efek tetapi tidak sekuat CoQ10/DHEA
- TEAS – aman, tetapi bukan pilihan utama
Untuk perempuan yang sedang mempersiapkan IVF dengan kondisi POR, temuan ini bisa menjadi bahan diskusi penting dengan dokter. Tidak ada terapi yang cocok untuk semua orang, tetapi memahami opsi berbasis bukti memungkinkan pasien membuat keputusan yang lebih matang dan personal. Untuk informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id.
Referensi
- Zhu, F., Yin, S., Yang, B., Li, S., Feng, X., Wang, T., & Che, D. (2023). TEAS, DHEA, CoQ10, and GH for poor ovarian response undergoing IVF-ET: a systematic review and network meta-analysis. Reproductive Biology and Endocrinology, 21(1), 64.