Dampak Usia Ayah yang Lebih Tua terhadap Kesuburan dan Risiko Genetik Anak

Selama ini, pembicaraan tentang usia dan kesuburan hampir selalu berfokus pada perempuan. Padahal, semakin banyak bukti ilmiah menunjukkan bahwa usia ayah juga berperan penting baik terhadap peluang hamil maupun kesehatan anak yang dilahirkan.

Dalam beberapa dekade terakhir, usia ayah saat pertama kali memiliki anak terus meningkat. Faktor sosial seperti pendidikan lebih panjang, pernikahan yang ditunda, stabilitas ekonomi, hingga kemajuan teknologi reproduksi membuat banyak pria baru merencanakan kehamilan di usia yang lebih matang. Namun, pilihan ini bukan tanpa konsekuensi biologis.

Usia Ayah dan Penurunan Kualitas Sperma

Seiring bertambahnya usia, fungsi testis perlahan mengalami penurunan. Testis bukan hanya tempat produksi sperma, tetapi juga pusat pengaturan hormon reproduksi pria. Studi menunjukkan bahwa pria usia lanjut cenderung mengalami:

  • penurunan volume testis,
  • berkurangnya jumlah sel Leydig (penghasil testosteron),
  • serta gangguan sel Sertoli yang berperan penting dalam proses pembentukan sperma.

Perubahan ini berdampak langsung pada kadar hormon, terutama testosteron, yang berhubungan dengan libido, energi, dan fungsi seksual. Tak jarang, pria usia lanjut juga mengalami gejala andropause seperti penurunan gairah seksual dan kelelahan, yang secara tidak langsung memengaruhi peluang kehamilan.

Perubahan Parameter Sperma Seiring Usia

Analisis semen menjadi pemeriksaan awal penting dalam infertilitas pria. Sejumlah penelitian besar menunjukkan bahwa dengan bertambahnya usia ayah:

  • volume semen cenderung menurun,
  • pergerakan sperma (motilitas) melemah,
  • dan persentase bentuk sperma normal semakin berkurang.

Menariknya, konsentrasi sperma tidak selalu menurun secara signifikan, tetapi kualitas fungsional sperma yang menentukan keberhasilan pembuahan jelas terdampak. Penurunan ini mulai terlihat lebih nyata setelah usia 35–40 tahun, dan semakin jelas setelah usia 45 tahun.

Kapan Kesuburan Pria Mulai Menurun?

Berbeda dengan perempuan yang memiliki batas usia reproduksi yang relatif jelas, penurunan kesuburan pria bersifat lebih gradual. Namun, data menunjukkan bahwa perubahan kualitas sperma mulai terlihat setelah usia 34–35 tahun,motilitas dan morfologi sperma menurun signifikan setelah usia 40, dan risiko infertilitas meningkat nyata di atas usia 45 tahun. Artinya, meski pria masih bisa menghasilkan sperma hingga usia lanjut, kemampuan sperma tersebut untuk membuahi dan menghasilkan kehamilan sehat tidak lagi sama.

Kerusakan DNA Sperma: Faktor Kunci yang Sering Terlewat

Salah satu dampak paling penting dari usia ayah adalah meningkatnya kerusakan DNA sperma. Kerusakan ini terutama disebabkan oleh stres oksidatif dan kegagalan mekanisme perlindungan DNA dalam sperma.

Penelitian menunjukkan bahwa pria di atas usia 45 tahun memiliki tingkat fragmentasi DNA sperma hampir dua kali lipat dibandingkan pria di bawah 30 tahun. Kerusakan DNA sperma ini berhubungan dengan:

  • waktu hamil yang lebih lama,
  • risiko kegagalan kehamilan,
  • serta keberhasilan yang lebih rendah pada program seperti IUI, IVF, dan ICSI.

Bahkan, kualitas DNA sperma dianggap sebagai indikator yang lebih akurat untuk memprediksi kehamilan dibandingkan parameter sperma konvensional.

Telomer: Paradoks Usia Ayah dan Anak

Menariknya, usia ayah tidak selalu berdampak negatif dalam semua aspek. Telomer struktur pelindung di ujung kromosom justru cenderung lebih panjang pada sperma pria yang lebih tua, dan panjang telomer ini dapat diwariskan ke anak.

Anak dari ayah berusia lanjut sering memiliki telomer leukosit yang lebih panjang, yang dikaitkan dengan harapan hidup lebih baik dan risiko penyakit kardiovaskular yang lebih rendah. Namun, efek ini juga memiliki sisi lain, karena telomer yang lebih panjang dikaitkan dengan peningkatan risiko beberapa jenis kanker.

Risiko Gangguan Genetik dan Psikiatrik pada Anak

Bertambahnya usia ayah juga meningkatkan risiko mutasi genetik baru (de novo mutations) dan kelainan kromosom. Sejumlah kondisi yang dikaitkan dengan usia ayah lanjut meliputi:

  • gangguan spektrum autisme,
  • skizofrenia dan gangguan bipolar,
  • leukemia anak,
  • serta kelainan tulang tertentu seperti achondroplasia.

Risiko ini tidak berarti anak pasti mengalami gangguan, tetapi probabilitasnya meningkat secara statistik, terutama pada ayah berusia lanjut.

Apa artinya untuk sister dan paksu? tentu saja edukasi yang jujur dan berbasis data membantu pasangan:

  • membuat keputusan promil yang lebih realistis,
  • memahami risiko sejak awal,
  • dan memilih strategi yang sesuai, termasuk pemeriksaan lanjutan seperti tes fragmentasi DNA sperma.

Kesuburan bukan sekadar soal “masih bisa atau tidak”, tetapi soal kualitas biologis yang berubah seiring waktu. Semakin baik kita memahami perubahan ini, semakin bijak keputusan yang bisa diambil bukan dengan rasa takut, tetapi dengan pengetahuan. Jangan lupa untuk follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Kaltsas, A., Moustakli, E., Zikopoulos, A., Georgiou, I., Dimitriadis, F., Symeonidis, E. N., … & Zachariou, A. (2023). Impact of advanced paternal age on fertility and risks of genetic disorders in offspring. Genes, 14(2), 486.