Di Balik Sunyi: Menyingkap Stigma Infertilitas yang Dihadapi Perempuan

Infertilitas bukan hanya persoalan medis. Bagi banyak perempuan, ini adalah luka yang diam-diam menggores harga diri, relasi sosial, bahkan makna diri. Di balik label “belum punya anak”, ada stigma yang nyata dan menyakitkan.

Bahkan secara global, sekitar 8–12% pasangan usia subur mengalami infertilitas. Tapi meskipun angka ini cukup besar, banyak perempuan yang merasa sendirian. Mengapa?

Karena stigma. Masyarakat kerap melabeli perempuan infertil sebagai ‘kurang sempurna’ atau bahkan ‘gagal sebagai istri’. Padahal, infertilitas bisa terjadi pada laki-laki, perempuan, atau keduanya.

Cerita dari Balik Pintu Tertutup

Hal tersebut fakta adanya, seperti temuan penelitian yang dilakukan di Isfahan Fertility and Infertility Center dan menunjukkan mengapa ada perasaan seperti itu diantaranya adalah Pelanggengan Stigma, Stigma sendiri hadir dalam banyak bentuk mulai dari komentar menyakitkan, tatapan sinis, sampai tekanan dari sesama perempuan.  Selanjutnya ada juga stigma terhadap diri sendiri seperti rasa bersalah, malu, dan merasa tidak berharga sering kali muncul sebagai reaksi internal terhadap tekanan sosial. Inilah yang disebut self-stigma.

Akhirnya karena lingkungan itu membuat para perempuan mencoba bertahan dengan berbagai cara: berpura-pura baik-baik saja, menerima kondisi dengan berat hati, atau menyembunyikan fakta bahwa mereka sedang menjalani program hamil. Ada juga perempuan yang bangkit dan menjadi lebih kuat. Dukungan dari pasangan atau keluarga membantu mereka berdamai dengan diri sendiri dan stigma yang ada.

Dampak yang Berkelanjutan

Dampak stigma terhadap perempuan infertil tidak main-main. Mereka rentan mengalami kecemasan, depresi, bahkan menarik diri dari lingkungan sosial. Dalam beberapa kasus, tekanan ini lebih menyakitkan dibanding diagnosis medis itu sendiri.

Tapi penting untuk diingat: perempuan punya hak untuk didengar, didukung, dan tidak dihakimi. Penelitian ini mengingatkan kita bahwa mendampingi perempuan yang mengalami infertilitas bukan hanya soal memberi solusi medis, tapi juga menyentuh sisi psikologis dan sosial mereka.

Jadi, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

  1. Validasi perasaan mereka. Jangan buru-buru menyuruh “sabar” atau “banyak doa”.

  2. Hindari komentar seperti “kapan punya anak?” ini bukan basa-basi yang menyenangkan.

  3. Buka ruang aman untuk berbagi cerita tanpa stigma.

Infertilitas bukan akhir dari segalanya. Tapi stigma bisa membuatnya terasa seperti itu. Sudah waktunya kita membuka mata dan hati agar tidak ada lagi perempuan yang merasa gagal hanya karena belum menjadi ibu. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi:

  • Taebi, M., Kariman, N., & Majd, H. A. (2021). Infertility stigma: A qualitative study on feelings and experiences of infertile women. International journal of fertility & sterility, 15(3), 189.