Diet dan Endometriosis: Apa yang Kita Makan Ternyata Ikut “Bicara” di Dalam Tubuh

 

 

Endometriosis bukan hanya soal hormon atau organ reproduksi, tapi juga soal lingkungan dalam tubuh, termasuk apa yang kita konsumsi setiap hari. Studi terbaru mencoba melihat lebih luas: apakah pola makan benar-benar bisa memengaruhi risiko atau gejala endometriosis?

Menariknya, jawabannya tidak sesederhana “iya atau tidak”. Hubungan antara diet dan endometriosis ternyata kompleks, penuh variasi, dan masih terus diteliti. Tapi ada beberapa pola yang mulai terlihat.

Kenapa Diet Jadi Perhatian dalam Endometriosis

Endometriosis adalah kondisi inflamasi kronis yang dipengaruhi oleh hormon estrogen. Penyakit ini bisa menyebabkan nyeri, gangguan kesuburan, hingga penurunan kualitas hidup. Masalahnya, hingga saat ini terapi yang ada baik hormonal maupun operasi belum sepenuhnya mencegah kekambuhan. Karena itu, muncul pertanyaan penting:
apakah ada faktor yang bisa dimodifikasi, seperti diet? hal ini dapat mempengaruhi:

  • tingkat inflamasi
  • stres oksidatif
  • keseimbangan hormon
  • hingga mikrobiota usus

Semua faktor ini berperan dalam perkembangan dan progresi endometriosis.

Makanan yang Berpotensi Protektif

Konsumsi sayuran menunjukkan efek protektif terhadap risiko endometriosis. Ini kemungkinan berkaitan dengan kandungan antioksidan dan senyawa antiinflamasi seperti polifenol dan vitamin C.

Produk susu, termasuk keju dan dairy secara keseluruhan, juga menunjukkan hubungan dengan penurunan risiko. Kandungan kalsium, vitamin D, serta komponen antiinflamasi di dalamnya diduga berperan dalam menekan proses inflamasi dan regulasi hormon.

Menariknya, bahkan high-fat dairy dalam beberapa analisis tetap menunjukkan efek protektif, meskipun mekanismenya masih terus dipelajari.

Makanan yang Berpotensi Meningkatkan Risiko seperti konsumsi mentega dan asupan kafein tinggi (lebih dari 300 mg per hari) dikaitkan dengan peningkatan risiko endometriosis.

Kafein diduga dapat memengaruhi keseimbangan hormon, termasuk meningkatkan sex hormone-binding globulin (SHBG) dan mengubah regulasi hormon steroid. Dalam kondisi penyakit yang sensitif terhadap hormon seperti endometriosis, perubahan kecil ini bisa berdampak signifikan.

Kunci Utama yang Menghubungkan Diet dan Endometriosis

Salah satu benang merah terpenting dari semua temuan ini adalah inflamasi kronis. Endometriosis ditandai dengan peningkatan sitokin proinflamasi, stres oksidatif, dan aktivasi sistem imun. Pola makan yang buruk tinggi lemak jenuh, rendah serat, dan minim antioksidan dapat memperparah kondisi ini.

Sebaliknya, diet yang kaya sayur, buah, dan komponen antiinflamasi dapat membantu:

  • menurunkan produksi reactive oxygen species (ROS)
  • memperbaiki keseimbangan imun
  • mengurangi nyeri dan progresi lesi

Dengan kata lain, makanan tidak hanya “mengisi perut”, tapi juga ikut membentuk lingkungan biologis dalam tubuh.

Tidak Hanya Nutrisi, Tapi Pola Hidup, yang perlu dipahami, diet tidak berdiri sendiri. Endometriosis juga sangat dipengaruhi oleh faktor lain seperti stres, kualitas tidur, dan gaya hidup secara keseluruhan. Stres kronis, misalnya, dapat mengganggu sumbu HPA (hypothalamic–pituitary–adrenal) dan meningkatkan inflamasi sistemik.

Karena itu, pendekatan terhadap endometriosis idealnya bersifat holistik tidak hanya fokus pada obat atau tindakan medis, tapi juga pada pola hidup sehari-hari.

Pola makan tinggi sayur dan produk susu cenderung menunjukkan efek protektif, sementara konsumsi kafein tinggi dan mentega mungkin meningkatkan risiko. Namun, semua ini masih perlu dikonfirmasi melalui penelitian yang lebih kuat.

Yang jelas, pendekatan terhadap endometriosis tidak bisa hanya satu arah. Kombinasi antara terapi medis, perbaikan gaya hidup, dan pola makan yang lebih sehat menjadi kunci dalam mengelola kondisi ini secara jangka panjang. Jangan lupa informasi menarik lainnya follow Instagram @menujuduagaris.id ya!

Referensi

  • Neri, L. C., Quintiero, F., Fiorini, S., Guglielmetti, M., Ferraro, O. E., Tagliabue, A., … & Ferraris, C. (2025). Diet and Endometriosis: An Umbrella Review. Foods, 14(12), 2087.