
Endometriosis masih sering disalahpahami sebagai “nyeri haid yang parah”. Padahal kondisi ini adalah penyakit inflamasi kronis yang dapat tumbuh di luar rahim dan memengaruhi berbagai organ tubuh. Bagi banyak perempuan, perjalanan endometriosis tidak berhenti di pelvis saja. Lesi endo dapat menempel, tumbuh, dan membentuk jaringan lengket (adhesi) yang mengganggu fungsi organ lain terutama usus dan saluran kemih.
Memahami potensi ini sangat penting agar perempuan tidak hanya fokus pada rasa sakit, tetapi juga waspada terhadap gejala lain yang mungkin muncul perlahan.
Endometriosis dan Adhesi: Ketika Organ Mulai “Menempel” Satu Sama Lain
Salah satu ciri khas endometriosis adalah inflamasi kronis yang memicu terbentuknya adhesi. Adhesi adalah jaringan seperti “lem alami” yang membuat organ-organ di rongga perut saling menempel. Organ yang biasanya bergerak bebas seperti ovarium, usus, atau rahim menjadi tertarik satu sama lain.
Adhesi inilah yang sering menyebabkan:
- nyeri panggul kronis
- sulit BAB
- rasa tertarik atau seperti ditarik dari dalam
- rasa begah berlebihan
Namun yang sering terlewat adalah bagaimana adhesi ini dapat memengaruhi organ di luar area reproduksi.
Saat Endometriosis Mengenai Usus
Endometriosis yang menyerang usus (terutama rektum dan sigmoid) dapat menyebabkan berbagai gejala yang sering dikira masalah pencernaan biasa. Banyak perempuan yang awalnya mengira mereka mengalami asam lambung, IBS, atau konstipasi fungsional.
Padahal secara medis, lesi endometriosis pada usus dapat menyebabkan:
- nyeri hebat saat BAB
- konstipasi kronis
- diare dan kembung bergantian
- pendarahan saat BAB
- penyempitan saluran usus
- bahkan risiko obstruksi pada kasus lanjut
Karena gejalanya mirip dengan gangguan pencernaan lain, diagnosis usus yang terlibat endometriosis sering terlambat. Semakin lama dibiarkan, semakin luas risiko adhesi dan gangguan pergerakan usus.
Endometriosis pada Ureter: Silent but Serious
Salah satu komplikasi yang paling sering terlewat adalah ketika endometriosis menyerang ureter, yaitu saluran kecil yang membawa urine dari ginjal ke kandung kemih.
Masalahnya, ureter hampir tidak memiliki sistem alarm berupa nyeri. Artinya, penyumbatan pada saluran ini sering:
- tidak terasa
- tidak menimbulkan gejala awal
- tidak disadari sampai kerusakan sudah terjadi
Bila ureter tersumbat oleh lesi endometriosis atau tertekan oleh adhesi, urine tidak dapat mengalir bebas. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menyebabkan pembengkakan ginjal (hidronefrosis) dan penurunan fungsi ginjal.
Inilah alasan kenapa endometriosis disebut sebagai kondisi yang “silent but serious” diam-diam dapat menimbulkan komplikasi besar.
Bagaimana Penanganan Endometriosis?
Endometriosis bukan hanya tentang menghilangkan nyeri. Penanganan yang tepat harus mempertimbangkan potensi keterlibatan organ lain. Operasi yang tidak sesuai dapat memperparah adhesi. Pengobatan yang salah sasaran bisa membuat gejala makin progresif. Dan diagnosis yang terlambat dapat meningkatkan risiko komplikasi usus dan saluran kemih.
Pemeriksaan imaging seperti USG transvaginal, transrectal, atau MRI sangat membantu dokter dalam memetakan sejauh mana penyebaran lesi. Edukasi yang benar membantu pasien memahami kapan harus mencari second opinion atau kapan harus mempertimbangkan pemeriksaan lebih lanjut.
Kenapa Edukasi Seputar Endometriosis Sangat Penting?
Karena banyak perempuan hidup bertahun-tahun dengan gejala yang mereka anggap “normal”. Karena gejala endometriosis berbeda pada tiap orang. Dan karena komplikasi seperti adhesi parah, gangguan usus, atau sumbatan ureter dapat dicegah jika dikenali sejak awal. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Shenoy-Bhangle, A. S., Franco, I. P., Ray, L. J., Cao, J., Kilcoyne, A., Horvat, N., & Chamie, L. P. (2024). Imaging of urinary bladder and ureteral endometriosis with emphasis on diagnosis and technique. Academic radiology, 31(9), 3659-3671.