Hamil Bisa, Bertahan Tidak: Talkshow Kupas Tuntas Akar Keguguran Berulang Bersama Dr Uma Mariappen

Surabaya, 7 Februari 2026 — Keguguran berulang masih menjadi pengalaman yang menyisakan luka fisik dan emosional bagi banyak pasangan. Tidak sedikit perempuan yang bisa hamil, namun kehamilan tersebut sulit bertahan. Isu inilah yang menjadi fokus utama talkshow “Hamil Bisa, Bertahan Tidak: Memahami Keguguran Berulang dari Akar Masalahnya” yang digelar oleh Menuju Dua Garis bersama Thomson Fertility.

Acara dibuka oleh Mizz Rosie, Founder Menuju Dua Garis, yang menegaskan pentingnya menggeser cara pandang terhadap keguguran berulang. Menurutnya, banyak pasien masih terjebak pada rasa bersalah dan asumsi keliru, padahal keguguran berulang adalah kondisi medis kompleks yang membutuhkan pemahaman berbasis sains, bukan sekadar mitos atau dugaan personal.

Sebagai pembicara utama, Dr Uma Mariappen, Consultant Obstetrician & Gynaecologist, IVF Specialist, sekaligus Gynaecology Laparoscopic Surgeon dari Thomson Fertility Puchong, Malaysia, memaparkan bahwa keguguran berulang tidak selalu disebabkan oleh faktor yang selama ini paling sering dicurigai.

“Fibroid dan polip memang sering ditemukan, tetapi bukan penyebab utama keguguran berulang pada sebagian besar kasus,” jelas Dr Uma.
“Yang jauh lebih penting adalah melihat faktor hormonal, metabolik, genetik, hingga kondisi lingkungan rahim secara menyeluruh.”

Dr Uma juga memperkenalkan pendekatan diagnostik dan teknologi terbaru untuk evaluasi rahim yang saat ini sudah digunakan di pusat fertilitas internasional. Beberapa di antaranya masih tergolong sangat advanced dan bahkan belum tersedia secara luas di Indonesia. Teknologi ini memungkinkan dokter menilai lingkungan rahim secara lebih detail dan presisi, sehingga penyebab keguguran berulang tidak lagi hanya ditebak, tetapi benar-benar ditelusuri dari akarnya.

Antusiasme peserta terlihat jelas saat sesi diskusi dan tanya jawab dibuka. Berbagai pertanyaan praktis yang sering menjadi kegelisahan pasien dibahas secara terbuka, di antaranya terkait peran progesteron dalam program kehamilan, penggunaan metformin pada PCOS, serta keamanan terapi jangka panjang.

Dr Uma menjelaskan bahwa progesteron memiliki peran penting dalam mendukung kehamilan, baik pada program IUI maupun IVF, namun penggunaannya tidak bisa disamaratakan. Pada IUI, progesteron umumnya diberikan dengan durasi tertentu (cut-off), sementara pada IVF penggunaannya memang lebih intensif dan terkontrol.

Terkait PCOS, metformin masih menjadi salah satu terapi yang digunakan untuk memperbaiki resistensi insulin dan lingkungan hormonal, termasuk pada trimester awal kehamilan. Namun, konsumsi jangka panjang tetap perlu pengawasan medis untuk memastikan keamanan, termasuk terhadap fungsi ginjal dalam penggunaan bertahun-tahun.

Selain itu, ditegaskan pula bahwa pada IUI, proses pembuahan tetap terjadi secara alami di dalam tubuh, sehingga pendekatannya berbeda dengan IVF yang lebih terkontrol secara laboratorium.

Talkshow ini menekankan satu pesan penting: keguguran berulang bukan kegagalan pribadi, melainkan kondisi medis yang perlu ditangani secara sistematis, individual, dan berbasis bukti ilmiah. Dengan edukasi yang tepat dan teknologi yang terus berkembang, harapan untuk kehamilan yang bertahan tetap terbuka bagi banyak pasangan.

Acara berlangsung hangat, interaktif, dan sarat wawasan, meninggalkan kesan kuat bahwa memahami tubuh sendiri adalah langkah awal menuju keputusan reproduksi yang lebih tepat dan berdaya.