Haruskah Semua Pasien dengan Severe Oligozoospermia & Cryptozoospermia Menggunakan Sperma Testis untuk ICSI?

 

Dalam dunia fertilitas, salah satu pertanyaan besar yang sering muncul adalah: lebih baik menggunakan sperma testis atau sperma ejakulasi untuk ICSI terutama pada pria dengan severe oligozoospermia (konsentrasi sperma sangat rendah) atau cryptozoospermia (sperma hanya muncul setelah pencarian intensif).

Sebuah studi terbaru dari Iran (2024–2025), yang dipublikasikan oleh The Korean Society for Reproductive Medicine, mencoba menjawab hal ini dengan pendekatan yang sangat menarik: menggunakan oosit saudara (sibling oocytes) dan membandingkan langsung hasil ICSI antara sperma testis dan sperma ejakulasi pada pasien yang sama.

Hasilnya memberikan gambaran yang lebih jelas tentang kapan sebaiknya dilakukan testicular sperm retrieval (TESA/FNA).

Mengapa Hal Ini Penting?

Pada pasien dengan sperma sangat sedikit, embriolog dan klinisi sering berada pada dilema:

  • Di satu sisi, sperma testis dianggap lebih “segar” dan mungkin memiliki kerusakan DNA yang lebih sedikit karena belum melewati saluran epididimis.
  • Di sisi lain, prosedur pengambilan sperma testis itu invasif, berbiaya lebih tinggi, dan punya risiko (hematoma, nyeri, fibrosis, infeksi, bahkan hipogonadisme).

Karena itu, membuat prediksi kapan sperma testis akan memberikan hasil lebih baik sangat penting.

Dari Mana Kita Tahu Mana Sperma yang Lebih Baik?

Kadang pasangan datang ke klinik dengan kondisi sperma yang sangat rendah, dan dokter harus menentukan satu hal penting: lebih baik pakai sperma ejakulasi atau sperma testis untuk ICSI? Nah, ada studi menarik yang mencoba menjawab pertanyaan ini dengan cara yang cukup simpel tapi relevan banget untuk kehidupan nyata. Para peneliti membagi pasien berdasarkan seberapa rendah jumlah spermanya, lalu mencoba kedua jenis sperma itu pada proses pembuahan yang sama. Dengan begitu, mereka bisa melihat langsung mana yang bekerja lebih optimal dalam membantu pembuahan dan pembentukan embrio. Hasilnya terasa seperti panduan praktis buat tenaga medis maupun pasangan yang lagi berjuang.

Jadi, Kapan Pakai Sperma Testis dan Kapan Pakai Sperma Ejakulasi?

Ternyata tidak semua orang perlu tindakan seperti TESA atau FNA. Jika jumlah sperma sangat rendah di bawah 1 juta/mL atau bahkan sampai tahap cryptozoospermia sperma testis cenderung memberikan hasil yang lebih baik dalam pembuahan dan kualitas embrio. Tapi ketika jumlah sperma sudah berada di kisaran 1–5 juta/mL, sperma ejakulasi justru bekerja lebih baik dan membuat proses jadi lebih sederhana tanpa perlu tindakan invasif. Intinya, angka konsentrasi sperma bisa menjadi kompas yang membantu menentukan langkah yang paling aman, efektif, dan efisien. Pasangan bisa menghindari prosedur yang tidak perlu, mengurangi biaya, dan tetap fokus pada tujuan utama: peluang terbaik untuk mendapatkan embrio yang sehat.

Kedepannya, penelitian lebih lanjut masih dibutuhkan terutama untuk mencari biomarker lain seperti DNA fragmentation index (DFI), tingkat ROS, atau kualitas motilitas spesifik yang dapat menjadi prediktor keputusan. Tetapi untuk saat ini, data ini menjadi panduan praktis dan evidence-based bagi klinisi dalam menentukan strategi terbaik bagi setiap pasien. Jangan lupa informasi lebih lanjut follow Instagram @menujuduagaris.id

 

Referensi

  • Derakhshan, M., Salehi, P., Derakhshan, M., Naghshineh, E., Movahedi, M., Tehrani, H. G., & Salehi, E. (2024). Should testicular sperm retrieval be implemented for intracytoplasmic sperm injection in all patients with severe oligozoospermia or cryptozoospermia?. Korean Journal of Fertility and Sterility.