Hiperandrogen pada PCOS: Ketika Hormon Androgen Bikin Siklus Kacau, Jerawatan, dan Rambut Rontok

Hiperandrogen atau kelebihan hormon androgen adalah salah satu ciri paling khas dari Polycystic Ovary Syndrome (PCOS). Kondisi ini bukan hanya soal kadar hormon yang tinggi, tetapi efeknya bisa terasa dari ujung rambut sampai kulit wajah: jerawat membandel, rambut rontok pola laki-laki, sampai tumbuh rambut kasar di area yang biasanya halus pada perempuan.

Yuk ketahui bagaimana hiperandrogenisme terjadi, bagaimana ia memicu gejala-gejala tersebut, dan apa peran genetik khususnya gen CYP dalam memperberat kondisi PCOS. Artikel ini merangkum temuan tersebut dalam bahasa yang lebih hangat dan mudah dipahami.

Mengapa PCOS Memicu Androgen Berlebih?

PCOS adalah gangguan hormonal kompleks yang memengaruhi sekitar 6–20% perempuan usia reproduksi. Ciri utamanya meliputi:

  • gangguan ovulasi,
  • ovarium polikistik, dan
  • hiperandrogenisme.

Sumber utama androgen berlebih pada PCOS berasal dari: Ovarium, terutama sel teka yang memproduksi androgen secara berlebihan. Dan Kelenjar adrenal, yang pada sebagian perempuan juga ikut meningkatkan produksi androgen.

Pada PCOS, terjadi gangguan pada sumbu hipotalamus–pituitari–ovarium. Tubuh memproduksi gonadotropin-releasing hormone (GnRH) secara lebih cepat, sehingga merangsang kelenjar pituitari menghasilkan LH lebih banyak daripada FSH. Ketidakseimbangan LH : FSH ini menyebabkan:

  • sel teka terstimulasi berlebihan → produksi androgen meningkat
  • sel granulosa kurang stimulasi → konversi androgen ke estrogen terhambat
  • folikel tidak matang dan akhirnya “terkunci” di fase awal

Hasil akhirnya: akumulasi folikel kecil (cysts), anovulasi, dan kelebihan androgen.

Bagaimana Androgen Berlebih Muncul Sebagai Gejala di Tubuh?

Hiperandrogenisme dapat muncul dalam bentuk:

Hirsutisme (tumbuh rambut pola laki-laki) Muncul rambut tebal/kasar di area seperti dagu, bibir atas, dada, perut, punggung. Ini terjadi karena meningkatnya testosteron bebas,
dan meningkatnya konversi testosteron menjadi DHT (dihidrotestosteron) melalui enzim 5α-reduktase di kulit.

Hirsutisme muncul pada 60–80% perempuan dengan PCOS, dan merupakan tanda klinis paling konsisten dari hiperandrogenisme.

Jerawat (acne vulgaris) Testosteron tinggi → lebih banyak DHT → produksi sebum meningkat → pori tersumbat → bakteri Cutibacterium acnes berkembang → muncul inflamasi dan jerawat. Prevalensi acne pada PCOS bervariasi luas: 10–48%, tergantung populasi.

Androgenic Alopecia (rambut rontok pola laki-laki)

Ini terjadi karena folikel rambut di kulit kepala miniaturisasi akibat paparan androgen. Rambut: semakin halus, lebih pendek dan menipis di area tengah kepala. Kerontokan ini bisa menjadi beban emosional besar bagi banyak perempuan dengan PCOS.

Meskipun banyak studi menunjukkan hubungan yang signifikan, belum ada kesimpulan final karena faktor etnis, lingkungan, dan perbedaan metode penelitian. Namun, gambaran besar sudah jelas:

Jika sister mengalami gejala hiperandrogen (kumisan, jerawatan, rambut rontok) PCOS dan faktor genetik dalam steroidogenesis perlu dipertimbangkan sebagai penyebab utama. Untuk diagnosa pastinya jangan lupa ya periksa ke dokter, informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Ashraf, S., Nabi, M., Rashid, F., & Amin, S. (2019). Hyperandrogenism in polycystic ovarian syndrome and role of CYP gene variants: a review. Egyptian Journal of Medical Human Genetics, 20(1), 1-10.