Hipertensi dalam Kehamilan dan Risiko Penyakit Jantung Pasca Melahirkan

 

Selama ini, hipertensi dalam kehamilan sering dipandang sebagai masalah yang “selesai” begitu persalinan berakhir. Tekanan darah menurun, ibu dipulangkan, dan fokus perawatan bergeser sepenuhnya ke bayi. Namun, bukti ilmiah terbaru menunjukkan bahwa anggapan ini keliru. Kehamilan, khususnya yang disertai gangguan hipertensi, merupakan sebuah “uji stres vaskular” yang dapat membuka jalan menuju penyakit kardiovaskular dalam waktu relatif singkat setelah melahirkan.

Setelah Melahirkan, Tubuh Ibu Belum Selesai Bekerja

Banyak orang mengira, begitu bayi lahir dan ibu pulang dari rumah sakit, fase paling berat sudah terlewati. Padahal bagi sebagian perempuan terutama yang mengalami hipertensi saat hamil cerita tubuh justru belum selesai.

Sebuah studi besar yang mengikuti ribuan perempuan selama dua tahun setelah melahirkan menunjukkan satu hal penting: risiko penyakit jantung bisa muncul jauh lebih cepat dari yang selama ini kita bayangkan.

Kenapa Dua Tahun Pertama Itu Penting?

Penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian nomor satu pada perempuan. Dan sejak lama, dunia medis sudah tahu bahwa gangguan tekanan darah saat hamil seperti preeklampsia atau hipertensi gestasional meninggalkan “jejak” pada jantung dan pembuluh darah.

Masalahnya, sebagian besar perhatian medis hanya tertuju pada dua periode ekstrem:

  • masa nifas singkat (6 minggu–1 tahun), atau
  • risiko jangka panjang puluhan tahun kemudian.

Padahal ada satu fase di tengah-tengah yang sering luput: tahun pertama hingga kedua setelah melahirkan. Inilah masa transisi, ketika tubuh sedang mencoba kembali “normal”, tapi justru menjadi sangat rentan.

Risiko yang Datang Lebih Cepat dari Dugaan

Dalam dua tahun pertama pascapersalinan, perempuan dengan riwayat hipertensi saat hamil terbukti lebih berisiko mengalami:

  • gagal jantung
  • kardiomiopati (gangguan otot jantung)
  • stroke
  • hipertensi kronis yang baru muncul

Bulan Pertama: Masa Paling Rapuh

Hampir setengah kasus gangguan jantung berat pada ibu dengan riwayat hipertensi kehamilan muncul dalam bulan pertama setelah melahirkan.

Artinya, saat seorang ibu:

  • masih belajar menyusui
  • kurang tidur
  • sedang memulihkan luka fisik dan mental

di saat yang sama, jantungnya bisa sedang berada dalam kondisi paling rentan.

Ini menegaskan satu hal penting: risiko jantung bukan hanya cerita masa depan ia bisa hadir segera setelah persalinan.

Bukan Semua Penyakit Jantung Muncul Sekaligus

Menariknya, tidak semua jenis penyakit jantung meningkat pada fase ini. Gangguan seperti penyakit jantung iskemik atau henti jantung belum menunjukkan lonjakan signifikan dalam dua tahun pertama. Ini menunjukkan bahwa setiap jenis penyakit punya “waktu muncul” yang berbeda dan karena itu, pendekatan pencegahannya juga tidak bisa disamaratakan.

Tantangan Nyata di Dunia Nyata

Meski risiko ini nyata, praktik di lapangan masih punya banyak celah.
Tidak semua ibu mendapat pemantauan jantung lanjutan setelah melahirkan. Beberapa kendala yang sering terjadi:

  • asuransi kesehatan berhenti setelah masa nifas
  • belum ada jadwal skrining jantung postpartum yang jelas
  • fokus layanan kesehatan lebih cepat bergeser ke bayi

Padahal, justru ibu dengan riwayat hipertensi kehamilan membutuhkan perhatian ekstra di fase ini.

Hipertensi Saat Hamil Bukan Cerita yang Selesai di Ruang Bersalin 

Pesan besarnya sederhana tapi penting: hipertensi dalam kehamilan bukan sekadar “masalah sementara”. Ia adalah tanda awal bahwa tubuh khususnya sistem kardiovaskular perlu dipantau lebih serius setelah melahirkan.

Dengan memahami kapan risiko paling tinggi dan jenis gangguan apa yang paling mungkin muncul, tenaga kesehatan dan sistem layanan punya peluang besar untuk:

  • mendeteksi lebih awal
  • mencegah komplikasi berat
  • melindungi kesehatan ibu untuk jangka panjang

Karena melahirkan bukan garis akhir. Bagi tubuh perempuan, itu sering kali adalah awal dari fase baru yang sama pentingnya untuk dijaga. Untuk sister yang sampai berhasil di tahap ini jangan lupa untuk tetap melakukan perawatan dan mendeteksi jika ada yang dirasa menyakitkan ya! informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Ackerman-Banks, C. M., Lipkind, H. S., Palmsten, K., & Ahrens, K. A. (2023). Association between hypertensive disorders of pregnancy and cardiovascular diseases within 24 months after delivery. American journal of obstetrics and gynecology, 229(1), 65-e1.