ICSI dan Risiko Gangguan Perkembangan Anak: Apa yang Perlu Dipahami?

 

Sejak diperkenalkan pada awal 1990-an, intracytoplasmic sperm injection (ICSI) menjadi salah satu prosedur paling sering digunakan dalam teknologi reproduksi berbantu. Awalnya, teknik ini diciptakan untuk membantu pasangan dengan infertilitas pria berat, ketika sperma sangat sedikit atau sulit membuahi sel telur secara alami.

Namun, dalam praktik klinis modern, penggunaan ICSI meluas jauh dari tujuan awalnya. Saat ini, ICSI kerap digunakan hampir secara rutin dalam prosedur IVF, termasuk pada kasus infertilitas perempuan atau bahkan tanpa faktor infertilitas pria yang jelas. Di sinilah muncul pertanyaan penting: apakah penggunaan ICSI selalu aman bagi anak yang dilahirkan?

Infertilitas atau Prosedurnya?

Secara biologis, sperma bukan hanya pembawa DNA, tetapi juga membawa informasi epigenetik yang berperan dalam perkembangan embrio. Prosedur ICSI melewati proses seleksi alami sperma dan melibatkan manipulasi langsung terhadap sel telur. Secara teori, kondisi ini dapat memengaruhi perkembangan awal embrio, termasuk sistem saraf.

Untuk menjawab kekhawatiran tersebut, sebuah studi besar berbasis populasi dilakukan di Taiwan, menggunakan data nasional yang sangat komprehensif.

Ketika Data Besar Membantu Menjernihkan Kekhawatiran

Dalam beberapa tahun terakhir, kekhawatiran tentang dampak teknologi reproduksi berbantu terhadap kesehatan anak semakin sering muncul. Banyak pasangan bertanya-tanya: apakah masalah kesuburan orang tua bisa memengaruhi perkembangan anak di masa depan.

Salah satu temuan terpenting dari penelitian ini justru cukup menenangkan. Masalah kesuburan, baik pada perempuan maupun laki-laki, ternyata tidak secara otomatis meningkatkan risiko gangguan perkembangan saraf pada anak.

Anak-anak yang lahir dari pasangan infertil dan menjalani program hamil tanpa prosedur tertentu yang lebih invasif menunjukkan pola tumbuh kembang yang serupa dengan anak-anak dari kehamilan alami. Dengan kata lain, memiliki riwayat infertilitas bukan berarti masa depan anak akan dibayangi oleh risiko perkembangan yang lebih buruk.

Temuan ini membantu meluruskan anggapan yang selama ini sering muncul di tengah masyarakat, bahwa kesulitan hamil identik dengan risiko jangka panjang pada anak. Kenyataannya, tubuh manusia dan proses kehamilan jauh lebih kompleks, dan tidak semua intervensi atau kondisi membawa dampak yang sama.

ICSI dan Risiko yang Perlu Diperhatikan

Berbeda dengan ART tanpa ICSI, penggunaan ICSI menunjukkan hasil yang konsisten. Anak yang dikandung melalui ART dengan ICSI memiliki:

  • risiko ASD sekitar 2,5 kali lebih tinggi,
  • risiko developmental delay hampir 2 kali lebih tinggi.

Peningkatan risiko ini ditemukan baik pada pasangan dengan infertilitas pria maupun perempuan. Menariknya, risiko ADHD tidak meningkat secara signifikan, menunjukkan bahwa dampak ICSI mungkin lebih spesifik pada aspek tertentu dari perkembangan saraf.

Mengapa ICSI Bisa Berpengaruh? diantaranya dikarenakan oleh:

  • sperma dipilih dan disuntikkan secara manual, tanpa seleksi alami,
  • sperma dengan kualitas genetik atau epigenetik yang kurang optimal tetap dapat membuahi sel telur,
  • sel telur mengalami stres selama proses manipulasi,
  • serta kemungkinan perubahan regulasi epigenetik yang penting bagi perkembangan otak embrio.

Hal menarik lainnya adalah: ICSI tidak selalu meningkatkan angka keberhasilan kehamilan. Dalam studi ini, penggunaan ICSI tidak secara konsisten meningkatkan angka fertilisasi, kehamilan klinis, maupun kelahiran hidup dibandingkan ART tanpa ICSI baik pada infertilitas pria maupun perempuan. Ini menantang anggapan bahwa ICSI selalu menjadi pilihan “lebih aman dan lebih efektif”.

ICSI tetap sangat penting pada kondisi tertentu, seperti:

  • azoospermia,
  • oligozoospermia berat,
  • kegagalan fertilisasi berulang pada IVF konvensional.

Namun, penggunaan rutin ICSI tanpa indikasi yang jelas perlu dievaluasi kembali. Bagi pasangan, studi ini menegaskan bahwa informasi adalah hak. Risiko yang dilaporkan memang relatif kecil secara absolut, tetapi cukup bermakna secara ilmiah. Karena itu, keputusan promil idealnya dibuat melalui diskusi terbuka mengenai manfaat, risiko jangka panjang, dan alternatif prosedur yang tersedia.

Dalam dunia reproduksi berbantu, lebih invasif tidak selalu berarti lebih baik. Bukan hanya keberhasilan hamil yang perlu dipertimbangkan, tetapi juga kesehatan anak di masa depan.

ICSI adalah alat yang sangat membantu bila digunakan pada kondisi yang tepat. Seperti semua intervensi medis, kuncinya adalah penggunaan yang proporsional, bertanggung jawab, dan berpusat pada kebutuhan pasien. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id.

Referensi

  • Lo, H., Weng, S. F., & Tsai, E. M. (2022). Neurodevelopmental disorders in offspring conceived via in vitro fertilization vs intracytoplasmic sperm injection. JAMA Network Open, 5(12), e2248141.