Kenali Ciri-Ciri Miom pada Rahim yang Perlu Kamu Tahu

Sisters, miom merupakan salah satu penyakit organ reproduksi yang dapat dialami oleh wanita dalam berbagai usia. Banyak kasus miom dialami oleh wanita yang akan memasuki masa menopause. Dan seringkali, miom tidak bergejala sehingga penderita mungkin tidak tahu kalau memiliki miom.
Miom juga dikenal dengan beberapa nama lain yakni fibroids/uterine fibroids, fibroma dan leiomyoma.

Apa saja ciri-ciri miom dan perlukah diwaspadai? Simak ulasan berikut ini, ya!

Apa itu Miom?
Miom merupakan tumor jinak yang tumbuh di bagian luar maupun dalam rahim. Miom terdiri dari sel otot polos dan jaringan ikat.
Seorang wanita bisa memiliki satu atau beberapa miom. Ukurannya bisa sebesar biji apel sampai sebesar jeruk bali (bahkan ada yang lebih besar dari itu. Miom juga bisa menyusut atau tumbuh seiring dengan berjalannya waktu.
Miom lebih sering terjadi pada usia 30 tahun sampai usia mendekati menopause. Saat memasuki usia menopause, biasanya miom akan menyusut. Menurut OWH (Office Women’s Health), antara 20 – 80% Wanita mengalami miom pada usia 50 tahun.

Ciri-ciri Miom
Banyak wanita yang mengalami miom tidak mengalami gejala apapun. Gejala bisa timbul tergantung di mana lokasi miom, seberapa banyak miom yang tumbuh dan berapa besar ukurannya.
Jika ukuran miom tidak lebih dari 10 cm, biasanya tidak berbahaya. Beberapa ciri-ciri miom yang paling umum yaitu:
·         Perdarahan berat saat menstruasi
·         Durasi menstruasi yang berlangsung lebih dari seminggu
·         Tekanan atau nyeri di bagian panggul
·         Perut kembung dan sembelit
·         Pendarahan berlebih saat mens
·         Sering buang air kecil
·         Kesulitan mengosongkan kandung kemih.
·         Rasa nyeri bagian punggung maupun kaki

Penyebab Miom dan Faktor Risikonya
Miom atau mioma kemungkinan berhubungan dengan aktivitas hormon. Tapi para ahli tidak mengetahui dengan pasti apa penyebabnya. Tingginya kadar estrogen dan progesterone (hormon yang diproduksi oleh ovarium) bisa merangsang pertumbuhan miom (dan umumnya akan mengecil saat kadar hormon turun setelah menopause).
Selain itu, ada beberapa faktor risiko yang membuat seseorang berpeluang lebih besar untuk terkena miom yakni:

  • Riwayat keluarga. Seorang wanita bisa memiliki peluang lebih besar untuk terkena miom jika ada salah satu anggota keluarganya yang memiliki kondisi serupa
  • Obesitas. Orang yang memiliki berat badan berlebih atau memiliki tekanan darah tinggi memiliki risiko lebih besar terkena mioma
  • Usia. Kasus mioma cenderung meningkat ketika seseorang memasuki usia 30-an, 40-an dan 50-an. Karena aktivitas hormon yang mulai menurun, mioma akan cenderung mengecil ketika memasuki usia menopause
  • Pola makan. Konsumsi daging merah berhubungan dengan peningkatan risiko miom. Begitu juga dengan defisiensi vitamin D (kekurangan vitamin D).

Bagaimana Cara Mendiagnosis Miom?
Jika dokter melihat adanya ciri miom pada pasien, maka ada beberapa langkah yang dibutuhkan untuk pemeriksaan lebih lanjut. Dokter biasanya akan menanyakan mengenai kondisi kesehatan pasien secara umum dan riwayat kesehatan keluarganya.

Dokter juga akan mencari tahu seperti apa siklus menstruasi serta gejala apa saja yang dialami.
Beberapa tes medis yang mungkin digunakan untuk mendiagnosis miom antara lain adalah:

  •  Pemeriksaan panggul untuk memastikan ada atau tidaknya pertumbuhan abnormal pada organ reproduksimu
  • USG atau USG transvaginal untuk mendapatkan gambaran rahim yang jelas
  • MRI (Magnetic Resonance Imaging). Tes dengan MRI dibutuhkan untuk melihat gambar rahim dan organ panggul lainnya

Bagaimana Pengobatan terhadap Miom Dilakukan?
Tidak ada penanganan yang dianggap paling baik untuk mengobati miom. Dokter akan melakukan langkah pengobatan sesuai dengan kondisi dan ciri-ciri miom yang muncul.
Banyak wanita yang memiliki miom tidak bergejala atau hanya memiliki sedikit gejala yang mengganggu. Jika ini terjadi padamu, cara terbaik adalah terus memerhatikan tanda-tanda yang muncul.
Miom tidak bersifat kanker dan jarang mengganggu kehamilan. Miom biasanya berkembang dengan lambat, atau bahkan tidak berkembang sama sekali.

Jika setelah pemeriksaan, dokter menyarankan pengobatan, biasanya ada beberapa opsi yang diberikan yakni:

  • Dengan menggunakan obat-obatan. Beberapa opsinya antara lain adalah GnRH (agonis hormon pelepas gonadotropin), IUD (alat kontrasepsi hormonal) untuk meringankan perdarahan karena miom dan berbagai obat lain
  • Prosedur non-invasif
  • Prosedur minimal non-invasif untuk meluruhkan miom
  • Pembedahan. Jika ukuran miom cukup besar dan mengganggu kehamilan (misalnya menutup tuba falopi sehingga mempersulit proses kehamilan), dokter mungkin akan melakukan pembedahan