Kenapa Usia Ayah Bisa Berpengaruh ke Perkembangan Anak?

 

Dalam banyak percakapan tentang kehamilan, satu kalimat hampir selalu muncul lebih dulu:
“Jangan kelamaan, nanti susah hamil.” Dan hampir selalu, kalimat itu diarahkan ke perempuan.

Tubuh perempuan diukur, dihitung, dan diberi tenggat waktu.
Sementara tubuh pria sering dianggap “aman”, seolah usia tidak membawa konsekuensi biologis yang berarti.

Padahal, ilmu pengetahuan menunjukkan cerita yang lebih kompleks.
Usia ayah juga punya peran diam-diam, tapi nyata terhadap kualitas kehamilan dan perkembangan anak.

Sel Sperma Terus Bekerja, Tanpa Garis Finish

Berbeda dengan sel telur perempuan yang jumlahnya sudah ditentukan sejak lahir dan akan terus berkurang seiring waktu, sel sperma diproduksi terus-menerus sepanjang hidup pria.

Setiap hari, tubuh pria memproduksi jutaan sperma baru.
Dan untuk menghasilkan sperma tersebut, sel-sel induk di testis harus terus membelah dan memperbanyak diri.

Di sinilah perbedaan biologis yang penting terjadi

Setiap pembelahan sel adalah proses penyalinan materi genetik.
Dan dalam dunia biologi, tidak ada proses penyalinan yang benar-benar sempurna.

Pada usia muda, jumlah pembelahan masih relatif lebih sedikit.
Namun seiring bertambahnya usia, sel sperma telah mengalami ratusan bahkan ribuan kali pembelahan. Semakin sering sel membelah, semakin besar kemungkinan muncul kesalahan kecil yang dalam istilah ilmiah disebut mutasi baru (de novo mutations).

Error Kecil yang Tidak Selalu Sepele

Sebagian besar mutasi memang tidak langsung menimbulkan masalah.
Banyak yang “diam” dan tidak berdampak klinis. Namun penelitian menunjukkan bahwa pada usia ayah yang lebih matang, akumulasi error biologis ini bisa memengaruhi kualitas DNA sperma.

Kesalahan kecil pada level genetik ini dapat berdampak pada:

  • proses pembentukan embrio
  • perkembangan sistem saraf janin
  • regulasi fungsi otak di masa tumbuh kembang anak

Beberapa kondisi yang dalam literatur ilmiah lebih sering dikaitkan dengan advanced paternal age antara lain:

  • gangguan spektrum autisme
  • ADHD
  • skizofrenia
  • gangguan perkembangan neurokognitif tertentu

Penting untuk dipahami:
ini bukan vonis, bukan kepastian, dan bukan jaminan bahwa anak akan mengalami gangguan. Namun secara statistik, risikonya meningkat, dan itulah yang perlu dipahami secara jujur.

Mengapa Usia Ayah Jarang dibicarakan?

Salah satu alasannya adalah karena isu reproduksi selama ini lebih mudah “terlihat” pada perempuan.

Siklus haid berhenti terlihat.
Cadangan ovarium menurun bisa diukur.
Menopause datang jelas tandanya.

Sementara pada pria?, sperma tetap diproduksi, ejakulasi tetap terjadi, dan fungsi seksual sering kali masih baik. Dari luar, semuanya tampak “normal”.

Padahal, kualitas sperma tidak hanya soal jumlah dan pergerakan, tetapi juga:

  • integritas DNA
  • stabilitas materi genetik
  • kualitas biologis yang tidak selalu terdeteksi lewat pemeriksaan standar

Inilah mengapa usia ayah sering luput dari perhatian, baik dalam obrolan sosial maupun dalam diskusi promil sehari-hari.

Apa Artinya dalam Perjalanan Program Hamil?

Membicarakan usia ayah bukan untuk:

  • menyalahkan pria
  • menciptakan kecemasan baru
  • atau menambah beban psikologis pasangan

Sebaliknya, ini tentang membagi tanggung jawab reproduksi secara lebih adil dan ilmiah.

Dalam konteks promil, terutama bila usia ayah sudah lebih matang, pendekatan yang lebih menyeluruh menjadi penting tidak hanya fokus pada rahim dan ovarium, tetapi juga pada kualitas sperma dan kesehatan reproduksi pria

Dengan pemahaman ini, pasangan bisa:

  • mengambil keputusan dengan informasi yang lebih lengkap
  • tidak lagi memikul beban sendirian
  • dan berhenti menempatkan kesuburan sebagai “masalah perempuan semata”

Kehamilan adalah hasil dari dua tubuh, dua sistem biologis, dan dua perjalanan hidup.
Usia bukan sekadar angka baik pada perempuan maupun pria. Dengan memahami bahwa usia ayah juga membawa implikasi biologis, kita bisa membangun percakapan promil yang lebih jujur, lebih setara, dan lebih berempati. Bukan untuk menakut-nakuti. Bukan untuk mencari siapa yang terlambat. Tapi untuk berjalan bersama,dengan pengetahuan yang lebih utuh, dan harapan yang lebih sadar. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Janecka, M., Mill, J., Basson, M. A., Goriely, A., Spiers, H., Reichenberg, A., … & Fernandes, C. (2017). Advanced paternal age effects in neurodevelopmental disorders—review of potential underlying mechanisms. Translational psychiatry, 7(1), e1019-e1019.