Ketika Antioksidan Tidak Selalu Jadi Pahlawan: Pelajaran dari Resveratrol dan Gerak Sperma

Selama ini, antioksidan sering dipandang sebagai “penyelamat” dalam masalah infertilitas pria. Salah satu yang paling populer adalah resveratrol, senyawa alami yang banyak ditemukan pada anggur merah dan buah beri. Ia dikenal punya sifat antiinflamasi dan antioksidan yang kuat, bahkan sering direkomendasikan sebagai suplemen pendukung kualitas sperma. 

Namun, ada sebuah studi yang temuannya mengingatkan kita bahwa dalam dunia reproduksi, terlalu banyak hal baik pun bisa berbalik arah.

Asthenozoospermia dan Peran Stres Oksidatif

Asthenozoospermia sendiri hadir sebagai salah satu kondisi ketika sperma sulit bergerak dengan baik. Masalah ini menjadi salah satu penyebab utama infertilitas pria. Pada banyak kasus, penyebab pastinya tidak jelas dan disebut sebagai idiopathic asthenozoospermia.

Salah satu faktor yang sering dicurigai adalah stres oksidatif kondisi ketika radikal bebas terlalu banyak dan sistem pertahanan tubuh kewalahan. Dalam kadar normal, radikal bebas justru dibutuhkan sperma untuk proses penting seperti pematangan dan kemampuan membuahi sel telur. Tapi ketika berlebihan, ia bisa merusak membran sperma, DNA, dan mesin energinya. Di sinilah antioksidan seperti resveratrol mulai dilirik sebagai solusi. Tapi… apakah selalu aman?

Resveratrol Langsung pada Sperma

Ada sebuah penelitian yang menemukan bagaimana resveratrol memang menunjukkan efek yang relatif netral hingga sedikit positif. Gerak sperma progresif tampak sedikit membaik, dan stres oksidatif menurun.

Namun, ketika dosisnya lebih tinggi, ceritanya berubah. Alih-alih makin sehat, sperma justru mengalami penurunan kemampuan bergerak. Padahal, indikator stres oksidatif juga turun cukup signifikan. Dengan kata lain: radikal bebas ditekan terlalu jauh, dan sperma justru “kehilangan keseimbangan”.

Saat Antioksidan Berlebihan Jadi Masalah

Fenomena tersebut menunjukkan apa antioxidant paradox. Sperma ternyata tidak hanya butuh perlindungan dari radikal bebas, tetapi juga membutuhkan kadar radikal bebas yang pas untuk menjalankan fungsinya.

Jika radikal bebas ditekan berlebihan, sperma bisa masuk ke kondisi yang disebut redox stress. Kondisi ini sama berbahayanya dengan stres oksidatif karena:

  • mengganggu produksi energi sperma
  • memengaruhi fungsi mitokondria
  • mengacaukan proses biologis yang penting untuk pergerakan dan pembuahan

Singkatnya, sperma jadi “terlalu steril secara kimia” untuk bekerja optimal. Pelajaran Penting untuk Dunia Fertilitas

Pada dasarnya meski resveratrol dikenal aman dan bermanfaat dalam banyak kondisi, pada konteks sperma terutama dengan dosis tinggi ia justru bisa berdampak sebaliknya. Ini menjelaskan mengapa tidak semua pria dengan infertilitas merespons suplemen antioksidan dengan hasil yang sama.

Tubuh, termasuk sistem reproduksi, bekerja dengan prinsip keseimbangan. Mengganggu satu sisi terlalu jauh, bahkan dengan niat baik, bisa menimbulkan masalah baru.

Jadi, Perlu atau Tidak Antioksidan?

Bukan soal “perlu atau tidak”, tapi berapa dosisnya, kapan, dan untuk siapa. Penelitian ini menegaskan pentingnya pendekatan yang lebih personal dan berbasis evaluasi medis, bukan sekadar mengikuti tren suplemen.

Dalam urusan reproduksi, lebih banyak tidak selalu lebih baik. Kadang, yang dibutuhkan sperma bukan tambahan berlebihan, tapi lingkungan yang seimbang agar ia bisa bekerja sebagaimana mestinya.

Referensi

  • Muti, N. D., Di Paolo, A., Salvio, G., Membrino, V., Ciarloni, A., Alia, S., … & Balercia, G. (2025). Effect of resveratrol on sperm motility in subjects affected by idiopathic asthenozoospermia: An in vitro study. Tissue and Cell, 95, 102857.