
Dalam proses kehamilan baik alami maupun lewat IVF embrio membutuhkan “rumah” yang sehat untuk menempel. Rumah itu adalah endometrium, lapisan dalam rahim yang seharusnya menebal setiap bulan menjelang masa subur.
Endometrium yang terlalu tipis (umumnya <7 mm) terbukti berkaitan dengan menurunnya peluang implantasi, meningkatnya kegagalan IVF, hingga risiko keguguran yang lebih tinggi. Meski teknologi reproduksi terus berkembang, mengatasi endometrium tipis masih menjadi salah satu tantangan terbesar dalam promil.
Mengapa Endometrium Bisa Menjadi Tipis?
Bahwa kondisi ini bersifat multifaktorial. Beberapa penyebab tersering antara lain:
- Kerusakan lapisan dasar endometrium akibat kuret berulang atau infeksi (misalnya TB genital).
- Efek samping obat, terutama clomiphene citrate, yang bisa menghalangi pertumbuhan lapisan rahim.
- Gangguan aliran darah ke rahim, menyebabkan endometrium kurang mendapat nutrisi dan oksigen.
- Kelainan bawaan struktur rahim, sehingga endometrium memang sulit menebal.
- Masalah angiogenesis, yaitu pembentukan pembuluh darah baru yang tidak optimal.
- Fibrosis dan perlengketan, seperti pada Asherman Syndrome.
Karena penyebabnya sangat beragam, penanganannya pun tidak bisa disamaratakan.
Bagaimana Dokter Menangani Endometrium Tipis?
Banyak terapi telah dicoba, namun belum ada yang benar-benar menjadi “gold standard”. Berikut pendekatan yang diulas dalam literatur:
- Terapi Estradiol
Sebagai hormon yang mendukung pertumbuhan endometrium, estradiol diberikan secara oral, suntik, atau vaginal. Pada sebagian pasien, estradiol membantu menambah ketebalan hingga batas aman untuk transfer embrio. Namun pada sebagian lainnya, peningkatannya minimal.
- Human Chorionic Gonadotropin (hCG)
hCG bekerja sebagai sinyal lokal yang menstimulasi pertumbuhan endometrium. Beberapa studi menunjukkan peningkatan ketebalan sekitar 0.5–0.8 mm, terutama pada kasus yang peka terhadap hormon.
- GnRH Agonist
Diberikan pada fase luteal, terapi ini dapat memperbaiki reseptivitas dan meningkatkan peluang implantasi pada pasien dengan endometrium tipis.
- Tamoxifen
Meski dikenal sebagai obat kanker payudara, tamoxifen juga dapat menstimulasi pertumbuhan endometrium, dan sering digunakan pada pasien PCOS yang tidak cocok dengan clomiphene citrate.
- Agen Vasoaktif
Termasuk aspirin dosis rendah, sildenafil vaginal, vitamin E, atau pentoxifylline.
Obat-obatan ini bekerja memperbaiki aliran darah rahim. Hasilnya bervariasi: ada pasien yang responsif, namun banyak juga yang tidak menunjukkan perubahan signifikan.
- Terapi Intrauterine: G-CSF & PRP
- G-CSF dapat meningkatkan ketebalan endometrium dalam 48–72 jam pada kasus refrakter.
- PRP (Platelet-Rich Plasma) menjadi pendekatan terbaru yang menunjukkan hasil menjanjikan pada beberapa penelitian kecil—bahkan memicu kehamilan pada kasus sulit.
- Pemeriksaan Receptivity: ERA Test
Jika masalah bukan pada ketebalan tapi pada “ketepatan waktu” implantasi, ERA membantu menentukan kapan endometrium siap menerima embrio secara optimal.
Mengapa Kondisi Ini Sulit Diatasi?
Endometrium tipis bukan hanya soal ketebalan, tetapi juga soal kualitas jaringan, aliran darah, reseptivitas hormon, dan tingkat inflamasi. Itulah sebabnya sebagian besar terapi hanya memberikan perbaikan kecil dan hasilnya sangat individual.
Bahkan dalam IVF, banyak pasien dengan endometrium tipis membutuhkan protokol yang lebih panjang, transfer embrio beku, atau kombinasi terapi agar rahim benar-benar siap menerima embrio.
Apa Artinya untuk Pasangan yang Sedang Menjalani Promil?
Jika endometrium sulit menebal, langkah yang disarankan umumnya meliputi:
- Menunda transfer hingga endometrium mencapai ketebalan yang aman.
- Menggunakan protokol FET (Frozen Embryo Transfer) untuk memberi waktu lebih panjang bagi endometrium tumbuh.
- Mempertimbangkan terapi tambahan seperti G-CSF, PRP, atau agen vasoaktif.
- Melakukan ERA test bila gagal implantasi berulang.
Dengan pendekatan personal dan pemantauan ketat, peluang hamil tetap ada meski membutuhkan strategi berbeda dari pasien lainnya.
Endometrium tipis adalah tantangan yang kompleks dalam promil, terutama pada IVF. Meski banyak terapi telah dicoba, belum ada satu metode yang pasti efektif untuk semua pasien. Penanganan harus melihat penyebab, riwayat, dan respons tubuh masing-masing perempuan. Diagnosis yang tepat dan rencana promil yang personal adalah kunci untuk meningkatkan peluang dua garis, sister. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Eftekhar, M., Tabibnejad, N., & Tabatabaie, A. A. (2018). The thin endometrium in assisted reproductive technology: An ongoing challenge. Middle East Fertility Society Journal, 23(1), 1-7.