
Kehilangan adalah pengalaman yang sering kali tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata sederhana. Ia tidak selalu datang dalam bentuk perpisahan yang terlihat, tetapi juga dalam bentuk harapan yang runtuh, rencana yang batal, dan masa depan yang tiba-tiba terasa asing. Banyak orang menjalani hari-harinya sambil membawa kehilangan yang tidak pernah benar-benar dibicarakan.
Dalam perjalanan hidup, ada fase ketika seseorang harus menerima kenyataan yang jauh dari bayangan awalnya. Bukan karena kurang berusaha, melainkan karena hidup memang tidak selalu berjalan sesuai urutan yang diharapkan. Di titik itulah, kehilangan menjadi sesuatu yang sunyi hadir, tapi sering tak diakui.
Kehilangan yang Tidak Selalu Terlihat
Tidak semua kehilangan disertai tangisan atau ucapan belasungkawa. Ada kehilangan yang berjalan diam-diam bersama rutinitas harian. Tetap bekerja, tetap tersenyum, tetap menjalani peran, sambil menyimpan rasa kosong yang tidak tahu harus diletakkan di mana.
Kehilangan semacam ini sering kali membuat seseorang mempertanyakan dirinya sendiri. Tubuh yang dulu dipercaya, kini dipenuhi tanda tanya. Keyakinan yang dulu kokoh, perlahan goyah. Bukan karena kurang kuat, tetapi karena terlalu sering berharap tanpa kepastian. Kepastian akankah tubuh ini dapat mengandung lagi? akankah ada janin yang tumbuh?
Menunggu sebagai Proses Emosional
Pada keadaan ini, tentu saja menunggu bukanlah keadaan pasif. Ia adalah proses emosional yang melelahkan. Ada hari-hari ketika harapan terasa dekat, lalu menjauh tanpa peringatan. Ada saat ketika seseorang mencoba berdamai, namun di waktu lain kembali bertanya, “Kenapa harus selama ini?”
Dalam proses menunggu, banyak orang belajar menyembunyikan perasaannya agar tidak terlihat rapuh. Padahal, lelah yang dirasakan adalah bentuk ketahanan itu sendiri. Bertahan, meski tidak tahu kapan jawabannya datang.
Tentang Harapan yang Tidak Pernah Benar-Benar Hilang
Harapan sering disalahpahami sebagai sesuatu yang harus selalu optimis dan penuh semangat. Padahal, harapan juga bisa hadir dalam bentuk yang sangat sederhana: tetap bangun pagi, tetap menjalani hari, dan tetap membuka kemungkinan meski perlahan.
Harapan tidak selalu berarti melupakan apa yang pernah hilang. Ia bisa berdampingan dengan luka. Bukan untuk menggantikan, bukan untuk menghapus, tetapi untuk memberi ruang agar hidup tetap berjalan, meski dengan ritme yang berbeda.
Apa Artinya bagi Mereka yang Sedang Menunggu atau Pernah Kehilangan
Bagi banyak perempuan, perjalanan ini bukan hanya soal hasil akhir, tetapi tentang bagaimana mereka bertahan di tengah proses. Tentang belajar menerima bahwa rasa sedih, kecewa, dan lelah adalah bagian yang sah dari perjalanan, bukan tanda kegagalan.
Tidak ada cara yang benar atau salah dalam menjalani kehilangan. Setiap orang punya waktunya sendiri, caranya sendiri, dan batasannya sendiri. Yang penting adalah tidak memaksa diri untuk selalu kuat, dan tidak merasa bersalah karena masih berharap.
Kehilangan tidak selalu dijawab dengan pemulihan yang utuh. Kadang hidup hanya memberi cara lain untuk tetap bernapas. Bukan untuk melupakan, bukan untuk mengganti, tetapi untuk berjalan bersama luka yang mungkin akan selalu ada.
Jika kamu sedang berada di fase menunggu, atau pernah kehilangan sebelum sempat memeluk, ketahuilah bahwa perasaanmu valid. Harapan yang pernah tumbuh tidak pernah sia-sia. Dan kamu tidak pernah sendirian dalam perjalanan ini.
Referensi
Zhou, X., Shi, H., Zhu, S., Wang, H., & Sun, S. (2022). Effects of vitamin E and vitamin C on male infertility: a meta-analysis. International urology and nephrology, 54(8), 1793-1805.