Ketika Infertilitas Berkepanjangan Menggerus Kesehatan Mental: Apa yang Terjadi pada Perempuan?

 

 

Infertilitas bukan sekadar persoalan sulit hamil. Banyak perempuan menggambarkannya sebagai perjalanan panjang yang melelahkan baik secara fisik, emosional, maupun sosial. Setiap tahun yang berlalu tanpa kehamilan membawa harapan baru, tetapi juga kekecewaan berulang yang sulit dijelaskan kepada orang lain.

Bahkan dalam sebuah penelitian menemukan bagaimana infertilitas yang berlangsung lama memiliki dampak besar pada kesehatan mental dan kehidupan seksual perempuan. Penasaran nggak sih kenapa infertilitas berdampak sampai ke mental yuk baca lebih lanjut!

Mengapa Infertilitas Bisa Menjadi Beban Emosional yang Berat?

Faktanya bukan hanya tubuh yang bekerja keras dalam proses ini pikiran pun ikut terlibat. Banyak perempuan mengalami:

  • perasaan kehilangan,
  • tekanan dari keluarga atau lingkungan,
  • rasa bersalah,
  • ketakutan akan masa depan,
  • dan kelelahan emosional.

Secara alamiah sendiri tubuh yang terus-terusan berada dalam kondisi stres berkepanjangan akan menghasilkan hormon stres yang mengganggu emosi dan bahkan mempengaruhi sistem reproduksi itu sendiri. Infertilitas menjadi lingkaran yang saling menguatkan antara fisik dan mental.

Infertilitas dan Kesehatan Mental

Infertilitas yang berlangsung lama membawa dampak yang jauh lebih besar daripada yang terlihat. Banyak perempuan mengalami kesedihan yang berat, kecemasan yang datang tanpa permisi, dan hubungan intim yang ikut berubah karena hati dan tubuh sama-sama lelah. Tekanan emosional ini tidak muncul tiba-tiba ia tumbuh pelan-pelan seiring waktu, membuat perempuan semakin mudah merasa tegang, khawatir, atau kehilangan minat pada hal-hal yang dulunya terasa biasa saja.

Perjalanan menjadi semakin berat ketika ada kegagalan IVF. Bagi banyak perempuan, IVF bukan sekadar tindakan medis; itu adalah harapan besar yang disimpan rapat-rapat, sering kali dibayar dengan waktu, energi, dan pengorbanan yang tidak sedikit. Maka ketika hasilnya tidak sesuai harapan, rasa patah hati yang muncul bisa jauh lebih dalam dari yang bisa dijelaskan.

Kondisi tertentu, seperti endometriosis, membuat perjalanan ini semakin kompleks. Nyeri kronis dan perawatan yang rumit dapat menyedot energi fisik dan emosional, sehingga perasaan sedih, cemas, dan perubahan dalam keintiman menjadi semakin terasa.

Semua ini menunjukkan bahwa semakin lama seseorang berjuang dengan infertilitas, semakin banyak lapisan emosional yang ikut terbawa. Tidak heran jika banyak perempuan mulai merasa kualitas hidupnya berubah: lebih mudah lelah, lebih mudah khawatir, dan kadang merasa tidak lagi seperti diri sendiri.

Karena itu, infertilitas tidak bisa dipandang hanya sebagai persoalan tubuh atau reproduksi. Ia menyentuh seluruh kehidupan perempuan hubungan, emosi, cara melihat diri sendiri dan membutuhkan ruang dukungan yang lebih luas, termasuk dukungan psikologis yang membantu perempuan bertahan di tengah perjalanan yang panjang ini.

Karena itu, penanganan infertilitas seharusnya tidak hanya fokus pada prosedur medis, tetapi juga mencakup:

  • pendampingan psikologis,
  • dukungan emosional,
  • konseling pasangan,
  • skrining kesehatan mental sejak awal perawatan,
  • serta intervensi untuk keluhan seksual.

Pendekatan holistik menjadi sangat penting, terutama bagi perempuan yang sudah berjuang bertahun-tahun atau pernah mengalami kegagalan IVF.

Infertilitas berkepanjangan dapat menimbulkan depresi, kecemasan, dan gangguan seksual pada banyak perempuan. Dampaknya semakin parah pada mereka yang memiliki endometriosis atau pernah mengalami kegagalan IVF/ICSI. Kesehatan mental dan relasi pasangan memegang peran besar dalam menjaga kualitas hidup dan kedua aspek ini perlu mendapatkan perhatian yang sama seriusnya dengan perawatan medis. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Abdallah, M., Dawood, A. S., Amer, R., Baklola, M., Elkalla, I. H. R., & Elbohoty, S. B. (2024). Psychiatric disorders among females with prolonged infertility with or without in vitro fertilization/intracytoplasmic sperm injection failure: a cross-sectional study. The Egyptian Journal of Neurology, Psychiatry and Neurosurgery, 60(1), 83.