
Bagi banyak perempuan, IVF bukan sekadar prosedur medis tetapi harapan yang disematkan pada jarum suntik, obat hormon, jadwal ketat, dan doa yang diulang-ulang setiap siklus. Namun bagaimana kalau upaya itu harus dilakukan lagi… dan lagi… dan lagi?
Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin banyak siklus IVF yang dijalani, semakin berat beban emosional dan semakin menurun kualitas hidup terkait kesuburan. Yuk pamahami kenapa seperti itu?
IVF: Harapan Besar, Beban yang Tidak Terlihat
WHO pernah mengatakan bahwa infertilitas adalah salah satu stresor terbesar dalam hidup manusia. Tidak heran, karena perempuan sering menanggung beban fisik, sosial, dan emosional lebih besar dibanding pasangan laki-laki terutama dalam konteks budaya Asia.
Dalam program IVF, tekanan itu bertambah. Tubuh dipacu bekerja lebih keras dari biasanya, jadwal pemeriksaan padat, hormon naik turun, dan pengharapan semakin tinggi setiap siklus. Semua itu menuntut energi yang tidak hanya fisik, tetapi juga batin.
Apa yang Terjadi Saat Siklus IVF Bertambah?
Saat jumlah siklus meningkat, ada pola jelas yang muncul:
- Kualitas hidup menurun dari satu siklus ke siklus berikutnya, Perempuan yang baru pertama kali menjalani IVF memiliki skor kualitas hidup tertinggi. Tapi setelah itu, angkanya menurun secara bertahap. Semakin lama proses berlangsung, semakin berat beban medis, finansial, dan emosional yang dirasakan.
- Tingkat kecemasan dan depresi meningkat Setiap tambahan siklus berarti tambahan kekhawatiran:
“Apakah kali ini berhasil?”
“Sampai kapan harus terus mencoba?”
“Apa yang salah dengan tubuhku?”
Untuk sebagian perempuan, kegagalan bukan hanya rasa kecewa tetapi pukulan emosional yang sulit dipulihkan.
- Dukungan sosial tidak selalu mengikuti ritme emosional, Menariknya, tingkat dukungan sosial tidak berubah banyak antara kelompok. Bahkan pada siklus ketiga, dukungan keluarga dan teman sempat terlihat lebih tinggi mungkin karena kegagalan sebelumnya membangkitkan empati.
Namun, seiring bertambahnya kegagalan, dukungan itu cenderung turun. Keluarga mulai kehabisan kata-kata, pasangan pun kelelahan emosional. Di titik ini, banyak perempuan merasa semakin terisolasi.
Mengapa IVF Berulang Begitu Menguras Emosi?
Jawabannya terletak pada akumulasi beban:
- kegagalan berulang = trauma kecil yang bertumpuk,
- proses medis yang melelahkan,
- tekanan umur & waktu,
- stigma budaya,
- biaya besar yang terus meningkat,
- dan rasa kehilangan kendali atas tubuh sendiri.
Untuk sebagian perempuan, IVF bukan sekadar perawatan tetapi perjalanan panjang yang penuh luka, harapan, dan ketidakpastian.
Semakin banyak siklus dijalani, semakin besar risiko perempuan mengalami kelelahan mental, kecemasan, dan depresi.
Untuk itu dibutuhkan konseling, pendampingan emosional, komunikasi pasangan, dan edukasi mengenai harapan realistis harus menjadi bagian dari perawatan. Bukan hanya karena keberhasilan program, tetapi demi menjaga kesehatan mental dan kualitas hidup mereka. Karena itu, perawatan yang holistik baik fisik dan emosional bukan pilihan, melainkan kebutuhan. Kalian tidak sendiri sister karena MDG membersamai disetiap perjalanan kalian. Jangan lupa follow Instagram @menujduagaris.id ya untuk informasi menarik lainnya.
Referensi
- Lu, Q., Cheng, Y., Zhou, Z., Fan, J., Chen, J., Yan, C., … & Wang, X. (2025). Effects of emotions on IVF/ICSI outcomes in infertile women: a systematic review and meta-analysis. Journal of Assisted Reproduction and Genetics, 42(4), 1083-1099.