
Dalam dua dekade terakhir, dunia fertilitas mengalami banyak perubahan. Salah satu yang paling berpengaruh namun jarang dipertanyakan ulang adalah praktik elective single embryo transfer (eSET), atau transfer satu embrio saja dalam program IVF.
Kebijakan ini pertama kali diperkenalkan pada akhir 1990-an dengan niat baik: mengurangi kehamilan kembar dan risiko komplikasi kehamilan. Namun, seiring waktu, eSET berkembang dari sebuah opsi menjadi standar praktik di banyak klinik IVF di seluruh dunia. Pertanyaannya kini:
Apakah satu embrio benar-benar selalu pilihan terbaik untuk semua pasien? Pahami lebih lanjut yuk sister!
Bagaimana Kata Temuan?
Dalam dunia medis, setiap tindakan seharusnya didasarkan pada keseimbangan antara manfaat dan risiko. Pada eSET justru memperpanjang waktu untuk hamil dan menurunkan peluang kelahiran hidup, terutama pada siklus IVF segar non-donor.
Meski begitu banyak yang beredar, disaat eSET dipromosikan sebagai praktik yang “lebih aman”, data global justru menunjukkan penurunan signifikan angka kehamilan dan kelahiran hidup selama periode adopsi luas kebijakan ini.
Artinya, yang dikorbankan bukan hanya angka statistik, tetapi juga waktu, energi emosional, dan biaya yang harus ditanggung pasien.
IVF dan Hak Pasien untuk Menentukan Pilihan
Untuk itu dalam segala proses, semuanya harus disesuaikan dengan hak pasien untuk menentukan pilihan. Bagi banyak perempuan infertil, terutama yang usianya tidak lagi muda atau telah menjalani banyak siklus IVF gagal, tujuan utama bukan sekadar menghindari kehamilan kembar tetapi hamil secepat mungkin dengan peluang terbaik.
Namun dalam praktiknya, eSET seringkali dipaksakan sebagai “pilihan paling benar”, tanpa ruang diskusi yang seimbang. Preferensi pasien termasuk keinginan memiliki anak kembar kerap dianggap sebagai sesuatu yang keliru, padahal itu adalah bagian dari hak reproduksi dan otonomi tubuh.
Dalam artikel ini bumin mengingatkan bahwa kehamilan kembar tidak bisa serta-merta dicap sebagai “hasil buruk”, tanpa melihat konteks klinis dan nilai yang dianut pasien.
Meski begitu tentu saja eSET tidak harus ditinggalkan sepenuhnya. Pada kelompok pasien tertentu dengan prognosis sangat baik, eSET memang dapat menjadi pilihan yang masuk akal. Yang bermasalah disini adalah menjadikannya aturan umum untuk semua pasien adalah masalah besar.
Setiap perempuan datang ke klinik fertilitas dengan cerita biologis, emosional, dan sosial yang berbeda. Pendekatan “satu protokol untuk semua” tidak hanya mengabaikan kompleksitas tubuh perempuan, tetapi juga berisiko menurunkan peluang keberhasilan yang sebenarnya masih bisa diperjuangkan.
Pada artikel ini bumin mengajak sister dan paksu untuk bersikap lebih kritis terhadap praktik yang sudah telanjur dianggap “standar”. Dalam dunia IVF, lebih sedikit intervensi tidak selalu berarti lebih baik, dan lebih aman tidak selalu berarti lebih efektif.
Transfer satu embrio mungkin tepat untuk sebagian pasien, tetapi transfer lebih dari satu embrio masih dapat dibenarkan pada banyak pasien lainnya, selama dilakukan dengan pertimbangan medis yang matang dan diskusi terbuka dengan pasien.
Pada akhirnya, tujuan utama program hamil bukan hanya mengikuti tren praktik global, tetapi membantu perempuan dan pasangan mencapai kehamilan dengan cara yang paling masuk akal, manusiawi, dan sesuai dengan kondisi mereka. Jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id ya
Referensi
- Gleicher, N., & Orvieto, R. (2022). Transferring more than one embryo simultaneously is justifiable in most patients. Reproductive BioMedicine Online, 44(1), 1-4.