
Selama ini, ketika bicara soal infertilitas, fokus sering tertuju pada hasil spermiogram: jumlah, bentuk, dan pergerakan sperma. Padahal, dibalik angka-angka yang tampak “baik-baik saja”, ada proses biologis yang jauh lebih kompleks dan sering luput dibahas yaitu kondisi molekuler sperma.
Faktanya, infertilitas faktor pria menyumbang hampir setengah dari seluruh kasus infertilitas. Salah satu penyebab utamanya adalah stres oksidatif, kondisi ketika tubuh menghasilkan radikal bebas lebih banyak daripada kemampuan sistem antioksidannya untuk menetralkan.
Radikal Bebas dan Luka Kecil di DNA Sperma
Stres oksidatif pada sperma tidak hanya membuat sperma “lelah” atau kurang bergerak. Ia dapat meninggalkan luka nyata pada DNA sperma. Salah satu penanda paling penting dari luka ini adalah molekul bernama 8-hydroxy-2’-deoxyguanosine (8-OHdG).
8-OHdG bukan sekadar tanda kerusakan DNA. Ia adalah titik temu antara kerusakan genetik dan perubahan epigenetik dua hal yang sangat menentukan keberhasilan pembuahan dan perkembangan embrio.
Ketika kerusakan ini tidak diperbaiki dengan baik, sperma tetap bisa membuahi sel telur, tetapi membawa “pesan biologis” yang sudah berubah.
Epigenetik: Bukan Mengubah Gen, Tapi Cara Gen Bekerja
Di sinilah epigenetik berperan. Epigenetik tidak mengubah urutan gen, melainkan mengatur gen mana yang aktif dan kapan harus aktif. Kerusakan oksidatif seperti 8-OHdG terbukti dapat mengganggu:
- pola DNA methylation pada sperma
- modifikasi histon yang mengatur pembukaan DNA
- muatan small non-coding RNA yang penting untuk embrio awal
Akibatnya, proses reprogramming genetik setelah pembuahan bisa berjalan tidak optimal, meskipun fertilisasi tetap terjadi.
Dampaknya Tidak Berhenti di Pembuahan
Yang sering tidak disadari, efek ini tidak berhenti di laboratorium atau di hari-hari awal kehamilan. Perubahan epigenetik akibat stres oksidatif pada sperma dapat memengaruhi:
- kualitas perkembangan embrio
- keberhasilan implantasi
- bahkan kesehatan anak di kemudian hari
Dalam beberapa kondisi, perubahan ini berpotensi bersifat transgenerational, artinya dampaknya bisa “terbawa” ke generasi berikutnya.
Usia Ayah dan “Perfect Storm” Biologis
Risiko ini semakin meningkat seiring bertambahnya usia, baik pada pihak ayah maupun ibu.
Penuaan alami membuat sistem perbaikan DNA dan kontrol epigenetik menjadi kurang efisien. Ketika usia dan stres oksidatif bertemu, terciptalah apa yang oleh peneliti disebut sebagai “perfect storm” kondisi yang meningkatkan risiko kesalahan genetik dan epigenetik secara bersamaan.
Inilah alasan mengapa usia ayah kini semakin diperhitungkan dalam promil modern.
Apakah Antioksidan Selalu Jadi Jawaban?
Banyak yang langsung berpikir: kalau masalahnya radikal bebas, berarti solusinya antioksidan? Jawabannya: bisa iya, tapi tidak selalu sesederhana itu.
Penelitian menunjukkan bahwa suplementasi antioksidan dapat membantu pria dengan stres oksidatif tinggi. Namun, penggunaan tanpa evaluasi yang tepat justru berisiko menimbulkan kondisi sebaliknya, yang disebut reductive stress, dan ini juga dapat mengganggu keseimbangan epigenetik sperma.
Karena itu, pendekatan personal dan berbasis pemeriksaan tetap menjadi kunci.
Mengapa Ini Penting dalam Promil Modern?
Penelitian ini menegaskan satu hal penting:
sperma tidak hanya membawa DNA, tetapi juga membawa informasi epigenetik yang membentuk masa depan embrio.
Memahami peran stres oksidatif dan epigenetik membantu kita melihat infertilitas pria bukan sebagai “kurang subur atau tidak”, melainkan sebagai spektrum kualitas biologis yang perlu dikelola dengan cermat.
Promil modern bukan lagi soal cepat atau lambat, tetapi soal menyiapkan kualitas terbaik sejak level sel demi kehamilan yang sehat dan generasi yang lebih kuat. Jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id ya!
Referensi
- Moazamian, A., Saez, F., Drevet, J. R., Aitken, R. J., & Gharagozloo, P. (2025). Redox-Driven Epigenetic Modifications in Sperm: Unraveling Paternal Influences on Embryo Development and Transgenerational Health. Antioxidants, 14(5), 570.