
Sister, pernah nggak sih kamu atau teman-teman curhat soal pengalaman kurang menyenangkan pakai kontrasepsi hormonal? Kayak pil, suntikan, implan, atau AKDR hormonal? Nah, dalam dekade terakhir, makin banyak perempuan di negara-negara Barat yang bersuara di media sosial tentang pengalaman mereka yang nggak memuaskan pakai kontrasepsi ini.
Tapi disisi lain, banyak juga yang menuduh mereka menyebarkan “hormonofobia” fenomena ini merupakan proses ketakutan berlebihan terhadap hormon tanpa alasan yang benar-benar rasional. MDG ingin menjabarkan lebih lanjut bagaimana fenomena ini terjadi. Baca sampai habis ya!
Alasan Kenapa Mulai banyak yang Menolak Kontrasepsi Hormonal?
Sebuah temuan oleh Guen dkk, 2021 dengan melakukan tinjauan terhadap 42 penelitian ilmiah terbaru, ada delapan alasan utama kenapa perempuan dan bahkan para paksu mulai mempertanyakan atau menolak kontrasepsi hormonal diantaranya adalah:
- Efek samping fisik – Banyak dari pengguna yang mengalami sakit kepala, mual, kenaikan berat badan, atau perubahan pada kulit setelah pakai kontrasepsi hormonal
- Kesehatan mental yang berubah – Ada yang merasa lebih mudah cemas, gampang sedih, atau mood swing setelah konsumsi hormon. Ada juga yang merasa “nggak jadi diri sendiri” lagi.
- Dampak negatif pada seksualitas – Beberapa pengguna melaporkan penurunan gairah atau perubahan dalam respons tubuh mereka terhadap pasangan.
- Kekhawatiran soal kesuburan – Ada yang takut kalau berhenti pakai kontrasepsi hormonal, nanti jadi susah hamil. Walaupun banyak penelitian bilang efeknya sementara, tetap aja banyak yang khawatir.
- Seruan ke alam – Seseorang yang memilih jalur natural biasanya ingin metode kontrasepsi yang lebih “alami” dan minim intervensi hormon.
- Kekhawatiran soal menstruasi – Ada yang merasa siklusnya jadi berantakan atau malah berhenti total saat pakai kontrasepsi hormonal.
- Ketakutan dan kecemasan – Banyak perempuan ragu karena kurangnya informasi yang jelas soal efek jangka panjang dari hormon ini.
- Delegitimasi efek samping – Kadang, keluhan perempuan soal kontrasepsi hormonal dianggap remeh oleh tenaga medis atau pasangan mereka. Padahal, efek sampingnya nyata dan bisa mempengaruhi kualitas hidup.
Jadi, Apakah Semua Ini Hanya “Hormonofobia”?
Apakah serentetan tersebut hadir sebagai salah satu alasan perempuan dan paksu menolak kontrasepsi hormonal. Tapi faktanya bukan cuma karena takut sama hormon, tapi juga karena pengalaman pribadi dan kebutuhan yang berbeda-beda. Memang perlu konsultasi pada ahli, juga mencari informasi yang kredibel. Jangan sampai salah informasi dan asal mengambil saja tanpa mencari lebih lanjut.
Nah, kalau kamu sendiri gimana, sister? Pernah ngalamin hal serupa atau punya pengalaman lain soal kontrasepsi? Untuk informasi menarik lainnya sister dan paksu dapat follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
Le Guen, M., Schantz, C., Régnier-Loilier, A., & de La Rochebrochard, E. (2021). Reasons for rejecting hormonal contraception in Western countries: A systematic review. Social science & medicine, 284, 114247.