
Adenomyosis sering kali datang diam-diam. Pada sebagian perempuan, ia muncul sebagai nyeri haid yang makin berat, perdarahan menstruasi berlebihan, atau rasa tidak nyaman saat berhubungan. Namun pada sebagian lainnya, adenomyosis baru terungkap setelah perjalanan panjang menuju kehamilan tak kunjung berhasil.
Sister dapat memahami secara sederhana, adenomyosis adalah kondisi ketika jaringan yang seharusnya melapisi bagian dalam rahim justru tumbuh menembus otot rahim. Akibatnya, struktur rahim berubah, lingkungan tempat embrio menempel terganggu, dan proses kehamilan menjadi lebih menantang. Pahami lebih lanjut yuk!
Adenomyosis Bukan Sekadar “Rahim Membesar”
Dulu, adenomyosis sering baru terdiagnosis setelah histerektomi. Sekarang, berkat kemajuan USG resolusi tinggi dan MRI, kondisi ini semakin sering dikenali bahkan pada perempuan usia reproduktif yang masih ingin hamil.
Menariknya, adenomyosis tidak selalu berdiri sendiri. Ia sering berjalan berdampingan dengan endometriosis atau miom. Meski mirip, adenomyosis dan endometriosis adalah dua kondisi yang berbeda, dengan jalur penyakit dan dampak klinis yang tidak sepenuhnya sama.
Apa yang Terjadi di Dalam Rahim?
Rahim bukan sekadar “wadah”. Ia adalah organ yang sangat aktif dan dinamis. Di dalamnya ada lapisan otot khusus yang bertugas mengatur kontraksi halus untuk membantu sperma mencapai sel telur, sekaligus menciptakan kondisi tenang saat embrio akan menempel.
Pada adenomyosis, keseimbangan ini terganggu. Otot rahim bisa berkontraksi terlalu kuat atau tidak terarah. Lingkungan hormon menjadi lebih kaya estrogen, tetapi justru kurang responsif terhadap progesteron hormon kunci untuk mempertahankan kehamilan. Akibatnya, rahim menjadi kurang “ramah” bagi embrio.
Mengapa Adenomyosis Bisa Mengganggu Kesuburan?
Gangguan kesuburan pada adenomyosis bukan disebabkan oleh satu faktor tunggal. Ia adalah hasil dari berbagai perubahan yang terjadi bersamaan:
Peradangan kronis di dalam rahim membuat proses implantasi menjadi tidak optimal. Molekul-molekul yang seharusnya membantu embrio menempel justru menurun jumlah atau fungsinya. Sistem imun di rahim menjadi kurang toleran terhadap kehadiran embrio. Bahkan struktur mikroskopik permukaan endometrium pun bisa berubah, sehingga embrio kesulitan “berlabuh”.
Selain itu, kontraksi rahim yang berlebihan dapat mengganggu pergerakan sperma, embrio, bahkan meningkatkan risiko keguguran dini.
Bagaimana dengan Kualitas Sel Telur dan Embrio?
Berbeda dengan endometriosis, dampak adenomyosis terhadap kualitas sel telur dan kromosom embrio masih belum sepenuhnya jelas. Sebagian besar masalah tampaknya lebih berkaitan dengan lingkungan rahim, bukan embrionya sendiri. Inilah sebabnya, pada banyak kasus, embrio yang secara genetik baik tetap gagal berkembang karena rahim belum siap menerima.
Adenomyosis dan Program Bayi Tabung
Pada pasien yang menjalani program bayi tabung (IVF), adenomyosis diketahui berkaitan dengan angka kehamilan yang lebih rendah dan risiko keguguran yang lebih tinggi. Namun kabar baiknya, hasil ini tidak mutlak.
Beberapa strategi terbukti membantu memperbaiki peluang, terutama dengan menyiapkan rahim terlebih dahulu. Salah satu pendekatan yang sering digunakan adalah pemberian obat penekan hormon (GnRH agonist) sebelum transfer embrio. Tujuannya bukan hanya mengecilkan lesi adenomyosis, tetapi juga menenangkan lingkungan rahim dan menurunkan peradangan.
Pendekatan lain yang banyak digunakan adalah transfer embrio beku (frozen embryo transfer). Dengan cara ini, embrio dipindahkan ke rahim pada waktu ketika kondisi rahim sudah lebih stabil dan siap.
Peran Operasi: Tidak Selalu Pilihan Pertama
Pada kasus tertentu, operasi pengangkatan jaringan adenomyosis dapat meningkatkan peluang hamil. Namun ini bukan keputusan ringan. Operasi harus mempertimbangkan luas penyakit, usia pasien, riwayat kegagalan program hamil, serta risiko kehamilan di masa depan, seperti ruptur rahim.
Karena itu, operasi biasanya dipertimbangkan hanya pada kasus terpilih dan dilakukan oleh dokter dengan pengalaman khusus dalam bedah konservatif rahim.
Bisakah Prognosis Diprediksi?
Saat ini, dokter mulai menggunakan gambaran USG, MRI, dan penanda darah seperti CA-125 untuk memperkirakan berat-ringannya adenomyosis dan peluang keberhasilan terapi. Semakin luas keterlibatan rahim dan semakin banyak ciri adenomyosis pada pencitraan, biasanya tantangan kehamilan juga lebih besar.
Namun tetap perlu diingat, setiap rahim punya cerita sendiri. Tidak semua adenomyosis berarti mustahil hamil.
Adenomyosis adalah kondisi kompleks yang memengaruhi kesuburan melalui perubahan hormon, peradangan, sistem imun, dan dinamika rahim itu sendiri. Ia bukan sekadar masalah anatomi, melainkan gangguan ekosistem reproduksi.
Pendekatan yang paling menjanjikan bukan solusi tunggal, melainkan strategi yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing perempuan baik melalui terapi hormonal, pengaturan waktu transfer embrio, maupun tindakan bedah terpilih.
Yang terpenting, adenomyosis bukan akhir dari harapan. Dengan pemahaman yang lebih baik dan penanganan yang tepat, peluang kehamilan tetap bisa diperjuangkan dengan langkah yang lebih terarah dan penuh empati. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Wu, H. M., Tsai, T. C., Liu, S. M., Pai, A. H. Y., & Chen, L. H. (2024). The current understanding of molecular mechanisms in adenomyosis-associated infertility and the treatment strategy for assisted reproductive technology. International Journal of Molecular Sciences, 25(16), 8937.