
Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) adalah salah satu kondisi paling sering ditemui pada perempuan usia reproduktif dan juga salah satu yang paling sering disalahpahami. Banyak sister baru “kenal” PCOS saat promil terasa berat, siklus haid tak teratur, atau dua garis terasa makin jauh. Padahal, PCOS bukan hanya soal ovarium, melainkan kondisi kompleks yang melibatkan hormon, metabolisme, dan sistem tubuh secara menyeluruh.
PCOS diperkirakan memengaruhi sekitar 4–20% perempuan usia subur, tergantung kriteria diagnosis yang digunakan. Variasi angka ini sendiri sudah menggambarkan satu hal penting: PCOS bukan kondisi tunggal dengan wajah yang sama pada setiap perempuan.
PCOS dan Tantangan Diagnosis
Salah satu alasan PCOS sering membingungkan adalah karena kriteria diagnosisnya terus berkembang. Hingga kini, kriteria yang paling banyak digunakan secara global adalah kriteria Rotterdam (2003).
Menurut kriteria ini, PCOS ditegakkan bila minimal dua dari tiga kondisi berikut terpenuhi:
- Siklus haid tidak teratur atau tidak ovulasi
- Tanda kelebihan hormon androgen (secara klinis atau laboratorium)
- Gambaran ovarium polikistik pada USG
Artinya, tidak semua perempuan PCOS memiliki kista, dan tidak semua yang ovariumnya tampak polikistik pasti PCOS. Inilah yang sering membuat banyak sister merasa “hasilnya abu-abu” atau bolak-balik ganti diagnosis.
Pada remaja, diagnosis bahkan lebih menantang. Karena itu, hiperandrogenisme dan gangguan siklus haid menjadi penanda yang lebih penting dibandingkan hasil USG semata.
Akar Masalah PCOS: Lebih dari Satu Pintu
Hiperandrogenisme
PCOS sangat lekat dengan kondisi kelebihan hormon androgen. Secara klinis, ini bisa muncul sebagai:
- pertumbuhan rambut berlebih (hirsutisme),
- jerawat androgenik,
- atau kerontokan rambut pola laki-laki.
Namun tidak semua perempuan menunjukkan gejala yang jelas. Di sinilah pemeriksaan laboratorium menjadi penting meski sayangnya, standarisasi pemeriksaan hormon androgen pada perempuan masih menjadi tantangan besar.
Resistensi Insulin
Sekitar 12–60% perempuan dengan PCOS mengalami resistensi insulin, bahkan pada mereka yang tidak obesitas. Kondisi ini membuat tubuh membutuhkan insulin lebih banyak untuk mengontrol gula darah.
Insulin berlebih tidak hanya berdampak pada metabolisme, tapi juga:
- merangsang pelepasan hormon LH,
- meningkatkan produksi androgen,
- mengganggu pematangan folikel dan ovulasi.
Inilah sebabnya PCOS sering berjalan beriringan dengan hiperglikemia, obesitas sentral, dan sindrom metabolik.
Peran Anti-Müllerian Hormone (AMH)
AMH dikenal luas sebagai penanda cadangan ovarium, namun pada PCOS, ceritanya berbeda. Perempuan dengan PCOS umumnya memiliki kadar AMH yang lebih tinggi, bukan karena cadangan “lebih subur”, tetapi karena banyaknya folikel kecil yang berhenti tumbuh.
Saat ini, AMH mulai dilirik sebagai alternatif penanda PCOS, namun penggunaannya masih dibatasi oleh:
- variasi metode pemeriksaan,
- belum adanya cut-off yang benar-benar baku,
- dan perbedaan kadar berdasarkan usia.
Artinya, AMH tinggi bukan vonis, dan AMH bukan satu-satunya kunci diagnosis.
PCOS dan Dampaknya pada Kesuburan
Dalam konteks promil, PCOS memang menjadi salah satu penyebab utama infertilitas perempuan. Gangguan ovulasi, kualitas sel telur, hingga peningkatan risiko keguguran membuat perjalanan dua garis terasa lebih panjang.
Studi menunjukkan:
- sekitar 72% perempuan dengan PCOS mengalami infertilitas,
- risiko keguguran, preeklamsia, dan diabetes gestasional juga lebih tinggi.
Namun penting digarisbawahi: PCOS bukan berarti tidak bisa hamil. Banyak perempuan dengan PCOS tetap mencapai kehamilan, baik secara alami maupun dengan bantuan, ketika pendekatan yang digunakan menyentuh akar masalahnya, bukan hanya memaksa ovulasi.
PCOS Bukan Hanya Masalah Reproduksi
PCOS juga berkaitan erat dengan:
- sindrom metabolik,
- tekanan darah tinggi,
- dislipidemia,
- dan risiko jangka panjang penyakit kardiovaskular.
Karena itu, PCOS seharusnya tidak dipandang hanya sebagai “masalah rahim”, melainkan kondisi kesehatan jangka panjang yang perlu dipahami secara utuh.
Masa Depan Diagnosis PCOS
Menariknya, penelitian terbaru mulai menyoroti peran kecerdasan buatan (AI) dalam membantu deteksi dan prediksi PCOS. Dengan memanfaatkan data besar dan machine learning, AI berpotensi:
- meningkatkan akurasi diagnosis,
- membantu klasifikasi fenotipe PCOS,
- dan mendukung pengambilan keputusan klinis lebih awal.
Namun tetap, teknologi hanyalah alat. Pemahaman klinis dan pendekatan yang manusiawi tetap menjadi kunci.
Untuk sister pejuang dua garis dengan PCOS, satu hal penting untuk diingat:
PCOS bukan satu cerita, dan bukan akhir cerita.
Ia adalah kondisi kompleks yang menuntut pendekatan personal, sabar, dan menyeluruh bukan sekadar mengejar ovulasi, tapi merawat tubuh secara utuh agar siap menjalani kehamilan yang sehat dan bertahan. Jagan lupa informasi menarik lainnya follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Dar, M. A., Maqbool, M., Qadrie, Z., Ara, I., & Qadir, A. (2024). Unraveling PCOS: Exploring its causes and diagnostic challenges. Open Health, 5(1), 20230026.