Optimalkan Kesuburan Pria untuk Promil Alami & Inseminasi

 

Pada sesi keempat Fertility Bootcamp, dr. Maitra membahas pentingnya peran pria dalam keberhasilan program hamil, baik secara alami maupun melalui inseminasi. Beliau menekankan bahwa kualitas sperma saat ini sedang menjadi perhatian global.

Tren penurunan kualitas sperma ditunjukkan melalui data yang menunjukkan bahwa pada tahun 1973, rata-rata jumlah sperma pria mencapai 101 juta/ml. Namun, pada 2018 angka tersebut turun drastis menjadi hanya 49 juta/ml hampir separuhnya. Fakta ini menegaskan bahwa menjaga kesuburan pria sama pentingnya dengan perempuan. Promil bukan hanya urusan perempuan, tetapi juga laki-laki.

Penyebab Masalah Sperma

Ada banyak faktor yang dapat memengaruhi kualitas sperma, antara lain:

  • Faktor genetik & kromosom
    Beberapa pria mengalami infertilitas karena kelainan genetik atau kromosom. Misalnya sindrom Klinefelter, di mana kromosom seks tidak normal sehingga testis tidak mampu memproduksi sperma dengan baik. Mutasi gen tertentu juga bisa mengganggu pembentukan sperma, bahkan ada yang menyebabkan sperma sama sekali tidak terbentuk.
  • Gangguan pada testis dan saluran sperma
    Kerusakan pada testis, baik akibat infeksi, cedera, atau varikokel (pelebaran pembuluh darah di sekitar testis), bisa menurunkan produksi sperma. Selain itu, bila saluran sperma tersumbat atau tidak terbentuk dengan sempurna, sperma tidak bisa keluar meskipun diproduksi.
  • Ketidakseimbangan hormon
    Produksi sperma sangat dipengaruhi oleh hormon, terutama testosteron dan hormon lain dari kelenjar pituitari. Bila terjadi ketidakseimbangan, misalnya kadar hormon terlalu rendah atau terlalu tinggi, proses produksi sperma bisa terganggu.
  • Masalah organ reproduksi lain
    Selain testis dan saluran sperma, organ reproduksi lain seperti prostat atau vesikula seminalis juga berperan dalam kesuburan. Infeksi atau kelainan pada organ-organ ini bisa memengaruhi kualitas sperma atau cairan semen.
  • Penyakit kronis
    Kondisi medis jangka panjang, seperti diabetes, penyakit ginjal, atau kanker, dapat berdampak pada fungsi reproduksi pria. Pengobatan tertentu, seperti kemoterapi, juga berpotensi merusak sel-sel penghasil sperma di testis.
  • Gaya hidup seperti obesitas, merokok, pola makan tidak sehat, hingga stres
    Faktor gaya hidup sangat berpengaruh. Obesitas bisa mengganggu keseimbangan hormon. Merokok, konsumsi alkohol berlebihan, dan pola makan tidak sehat dapat menurunkan kualitas sperma. Stres berkepanjangan juga dapat memengaruhi hormon dan menurunkan peluang kesuburan.

Jenis kelainan sperma

Beberapa kondisi yang sering ditemukan pada analisis sperma, antara lain:

  • Asthenozoospermia → sperma bergerak lemah
  • Teratozoospermia → bentuk sperma abnormal
  • Oligozoospermia → jumlah sperma sedikit
  • Azoospermia → tidak ditemukan sperma sama sekali

Mengapa Analisis Sperma Penting?

Salah satu hal yang sering diabaikan adalah fakta bahwa laki-laki dengan infertilitas sering kali tidak menunjukkan gejala apa pun. Karena itu, analisis sperma merupakan langkah awal penting dalam program hamil.

Q&A bersama dr. Maitra dalam sesi tanya jawab, salah satu peserta (PDG) berbagi pengalaman: “Setelah hamil alami dengan morfologi normal 4%, saya sempat hamil namun mengalami terminasi di usia 11 minggu. Setelah itu, suami hanya diresepkan vitamin. Tapi tiga bulan kemudian, morfologinya justru turun. Kok bisa?” dr. Maitra menjelaskan bahwa penurunan ini bisa terjadi karena beberapa hal:

  1. Faktor pemeriksaan → morfologi sperma sangat subjektif, tergantung pemeriksa.
  2. Hasil sebaiknya dikonfirmasi dengan pemeriksaan ulang dalam interval 2–8 minggu.
  3. Kondisi sementara seperti flu, demam, duduk lama, trauma, hingga olahraga berat juga bisa memengaruhi hasil.

Lebih penting lagi, menurut dr. Maitra, adalah memeriksa DNA fragmentasi sperma. Karena bentuk sperma boleh saja berbeda, tetapi kualitas DNA-lah yang paling menentukan.

Faktor risiko keguguran

  1. Maitra juga mengingatkan bahwa sekitar 70% penyebab keguguran berasal dari faktor janin, 25% dari tubuh ibu, dan 5% sisanya dari faktor lain. Jika keguguran terjadi berulang, maka pemeriksaan genetik perlu dipertimbangkan, termasuk opsi promil seperti inseminasi dengan pencucian sperma.

Pesan penutup dr. Maitra menekankan: “Bahwa keajaiban itu ada. Kita tugasnya berusaha, biar Tuhan yang menentukan.”