Oxidative Stress dan Infertilitas Pria: Kenapa Antioksidan Jadi Kunci yang Sering Diremehkan?

 

 

 

 

 

Ketika pasangan sulit hamil, perhatian sering langsung tertuju pada perempuan. Padahal, hampir setengah dari kasus infertilitas melibatkan faktor pria. Salah satu penyebab yang paling sering luput dibicarakan adalah oxidative stress kondisi ketika tubuh kewalahan menghadapi radikal bebas.

Radikal bebas ini, yang dalam dunia medis dikenal sebagai reactive oxygen species (ROS), sebenarnya bukan musuh sepenuhnya. Dalam jumlah kecil, ROS justru dibutuhkan sperma untuk matang dan berfungsi. Masalah muncul ketika jumlahnya berlebihan.

Dan disitulah cerita infertilitas pria sering dimulai.

ROS: Dibutuhkan, Tapi Mudah Berubah Jadi Masalah, ROS terbentuk secara alami dari proses metabolisme tubuh, terutama di mitokondria “pembangkit listrik” sel. Pada sperma, ROS berperan penting dalam: pematangan sperma, pergerakan sperma dan proses sperma menembus sel telur

Namun, ketika produksi ROS tidak seimbang dengan pertahanan antioksidan tubuh, terjadilah oxidative stress.

Dari Mana Radikal Bebas Berasal? Radikal bebas di sistem reproduksi pria tidak hanya datang dari dalam tubuh, tapi juga dari gaya hidup dan lingkungan.

Beberapa sumber utamanya:

  • sperma itu sendiri (saat proses pematangan)
  • sel darah putih akibat infeksi atau peradangan
  • kelenjar prostat dan vesikula seminalis
  • rokok, polusi, alkohol
  • stres kronis dan kurang tidur
  • paparan panas berlebih (laptop di pangkuan, sauna, dll)

Kalau dibayangkan, sperma ini seperti harus berenang di lingkungan yang kadang “terlalu berisik” secara kimiawi.

Apa yang Terjadi Saat Oxidative Stress Tidak Terkontrol?

Ketika radikal bebas terlalu banyak, efeknya tidak main-main.

  1. Sperma Jadi “Lelah” Membran sperma sangat kaya lemak. Radikal bebas mudah merusaknya, membuat sperma: bergerak lebih lambat, cepat mati dan sulit mencapai sel telur
  2. DNA Sperma Bisa Rusak, Oxidative stress bisa menyebabkan DNA sperma terfragmentasi. Ini bukan hanya soal bisa atau tidaknya membuahi, tapi juga soal: kualitas embrio, risiko keguguran dan kesehatan anak di masa depan
  1. Energi Sperma Menurun, Mitokondria yang rusak berarti produksi energi turun. Akibatnya, sperma kehilangan “tenaga” untuk bergerak optimal.
  1. Risiko Dampak ke Pasangan, Menariknya, stres oksidatif pada pria tidak berhenti di tubuh pria saja. Penelitian menunjukkan kaitannya dengan keguguran berulang pada pasangan, gangguan perkembangan embrio dan peningkatan risiko kelainan genetik

Artinya, kualitas sperma memengaruhi perjalanan reproduksi pasangan secara keseluruhan, bukan hanya saat pembuahan.

Tubuh sendiri sebenarnya punya sistem pertahanan alami berupa antioksidan. Masalahnya, gaya hidup modern sering membuat pertahanan ini kalah jumlah.

Antioksidan bekerja dengan: menetralkan radikal bebas, melindungi membran sperma, menjaga DNA tetap utuh dan mendukung kerja mitokondria. Antioksidan ini bisa berasal dari tubuh sendiri atau dari makanan dan suplemen.

Beberapa Antioksidan diantaranya adalah

Vitamin E: Melindungi membran sperma dari kerusakan. Banyak studi menunjukkan perbaikan motilitas dan penurunan kerusakan DNA.

Vitamin C: Kadar vitamin C dalam cairan sperma bahkan jauh lebih tinggi dibanding darah. Ia berperan penting menjaga DNA sperma tetap stabil.

Vitamin B12 & Asam Folat: Berhubungan dengan pembentukan DNA dan kualitas sperma, terutama bila dikombinasikan dengan nutrisi lain.

Vitamin D: Defisiensinya dikaitkan dengan motilitas sperma yang buruk dan hasil promil yang kurang optimal.

Zinc & Selenium: Mineral kecil dengan peran besar. Terlibat dalam pembentukan sperma, stabilitas DNA, dan produksi hormon testosteron.

Coenzyme Q10: Bintang utama di mitokondria. Membantu produksi energi sperma sekaligus bertindak sebagai antioksidan kuat.

L-Carnitine: Mendukung metabolisme energi sperma dan terbukti meningkatkan motilitas pada beberapa studi klinis.

Tapi… Terlalu Banyak Juga Tidak Baik, Ini bagian penting yang sering terlewat. Antioksidan harus seimbang. Karena konsumsi antioksidan berlebihan justru bisa menyebabkan reductive stress, kondisi di mana sistem biologis menjadi “terlalu ditekan”.

Akibatnya fungsi sperma bisa menurun dan proses fisiologis yang butuh ROS justru terganggu. Karena itu, suplementasi sebaiknya: sesuai kebutuhan, berbasis evaluasi da tidak asal “semakin banyak semakin baik”

Infertilitas pria bukan sekadar soal jumlah sperma. Ia adalah cerminan dari keseimbangan radikal bebas dan antioksidan, gaya hidup, kesehatan metabolik dan kualitas lingkungan biologis tempat sperma berkembang

Antioksidan bukan solusi tunggal, tapi bagian penting dari pendekatan yang lebih utuh dan manusiawi dalam melihat masalah reproduksi pria. Dan yang terpenting: masalah sperma bukan masalah pria saja, tapi perjalanan bersama pasangan. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Kaltsas, A. (2023). Oxidative stress and male infertility: the protective role of antioxidants. Medicina, 59(10), 1769.