
Selama ini banyak orang melihat endometriosis sebagai penyakit yang hanya berkaitan dengan nyeri haid atau tumbuhnya jaringan di luar rahim. Padahal, ada satu faktor penting yang sering tidak disadari: oxidative stress. Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian menunjukkan bahwa oxidative stress (OS) bisa menjadi salah satu penyebab utama munculnya endometriosis sekaligus faktor yang membuat penderitanya lebih sulit hamil.
Apa itu oxidative stress?
Oxidative stress terjadi ketika jumlah radikal bebas (ROS) di dalam tubuh jauh lebih tinggi daripada kemampuan sistem antioksidan untuk menetralisirnya. Radikal bebas ini sangat reaktif mereka bisa merusak lemak, protein, hingga DNA sel. Dalam kondisi normal, ROS sebenarnya berperan penting dalam berbagai proses reproduksi seperti pematangan sel telur, ovulasi, bahkan perkembangan embrio. Tapi ketika jumlahnya berlebihan, dampaknya berubah menjadi merusak.
Kenapa OS penting dalam kesuburan?
ROS yang terlalu tinggi bisa membuat sel telur menua lebih cepat, merusak materi genetiknya, dan mengganggu proses fertilisasi. Selain itu, OS bisa memengaruhi lingkungan di sekitar ovarium, tuba, dan rongga peritoneum semua ini sangat menentukan kualitas oosit dan keberhasilan implantasi. Bahkan, stres psikologis dan penuaan ovarium pun ikut berperan dalam meningkatkan ROS.
Hubungan OS dengan endometriosis
Satu hal menarik dari penelitian terbaru adalah temuan bahwa OS bisa menjadi pemicu terbentuknya endometriosis. Ketika endometriosis sudah muncul, jaringan tersebut justru meningkatkan produksi ROS lagi. Artinya, ada lingkaran setan yang terjadi:
ROS tinggi → endometriosis berkembang → produksi ROS makin meningkat → kondisi tambah kompleks
Yang lebih mengejutkan, bahkan endometriosis derajat minimal atau ringan—yang dulu dianggap “tidak berpengaruh besar” pada kesuburan—sekarang dipahami sebagai tanda bahwa tubuh sedang berada dalam kondisi oxidative stress yang tinggi. Jadi bukan lesinya yang menjadi masalah utama, melainkan lingkungan biologis yang tidak seimbang.
Bagaimana OS mengganggu peluang hamil?
Oxidative stress dapat mengganggu banyak tahapan penting dalam proses reproduksi, seperti:
- mempercepat penuaan dan kematian sel telur,
- merusak DNA oosit sehingga fertilisasi terganggu,
- mengganggu pembentukan embrio awal,
- menciptakan lingkungan peritoneum yang tidak ideal,
- membuat ovulasi tidak optimal.
Semua proses ini bisa terjadi bahkan pada perempuan dengan endometriosis minimal atau ringan.
Implikasi pada perawatan
Kalau OS adalah akar masalahnya, ini menjelaskan kenapa pasien minimal/mild endometriosis tidak selalu perlu tindakan invasif. Pendekatan yang lebih lembut bisa menjadi pilihan, seperti menurunkan inflamasi, memperbaiki keseimbangan oksidatif tubuh, terapi hormonal tertentu, perbaikan gaya hidup, hingga perencanaan fertilitas bila dibutuhkan. Tujuannya adalah memutus siklus OS endometriosis OS agar kondisi tidak berlanjut.
Paksi dan sister melalui tulisan ini MDG mengingatkan bahwa dalam banyak kasus, endometriosis bukan hanya soal lesi yang terlihat. Ada proses biokimia yang lebih dalam terutama peran oxidative stress yang memengaruhi kualitas sel telur, lingkungan reproduksi, dan akhirnya peluang kehamilan. Memahami hubungan ini bisa membantu pasien dan tenaga medis melihat penanganan endometriosis secara lebih komprehensif, terutama ketika berhubungan dengan infertilitas. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Didziokaite, G., Biliute, G., Gudaite, J., & Kvedariene, V. (2023). Oxidative stress as a potential underlying cause of minimal and mild endometriosis-related infertility. International Journal of Molecular Sciences, 24(4), 3809.