
Infertilitas pria kini menjadi salah satu masalah kesehatan global yang cukup serius. Diperkirakan sekitar 20–30% kasus infertilitas di seluruh dunia berasal dari faktor pria, dan yang lebih membingungkan, hampir 50% diantaranya masih dikategorikan idiopatik, alias tanpa penyebab jelas.
Salah satu mekanisme utama yang diyakini berperan besar adalah stres oksidatif (oxidative stress/OS).
Stres Oksidatif dan Infertilitas Pria
Di dalam tubuh pria, ada sistem antioksidan endogen yang bekerja menjaga keseimbangan redoks di dalam cairan semen. Keseimbangan ini penting agar sperma bisa diproduksi dan berfungsi dengan baik.
Namun, ketika jumlah radikal bebas (ROS/Reactive Oxygen Species) terlalu tinggi dan melebihi kapasitas pertahanan antioksidan alami, terjadilah stres oksidatif. Kondisi ini merusak sperma, memengaruhi kualitas, motilitas, hingga DNA sperma.
Yang menarik, ROS tidak selalu buruk. Dalam kadar fisiologis, ROS justru dibutuhkan untuk proses penting sperma seperti hiperaktivasi, kapasitasi, dan reaksi akrosom semua hal yang krusial agar sperma bisa membuahi sel telur. Masalah muncul ketika ROS berlebihan.
Faktor Risiko Stres Oksidatif pada Pria
Beberapa hal yang dapat memicu stres oksidatif dan akhirnya berkontribusi pada infertilitas pria antara lain:
- Merokok → meningkatkan leukosit dalam semen (leukositospermia) yang menjadi sumber utama ROS.
- Alkohol → efeknya bervariasi, tapi konsumsi berlebihan jelas memperburuk kualitas sperma.
- Narkoba → seperti kokain, ganja, opiat, steroid anabolik, hingga metamfetamin terbukti merusak fungsi reproduksi.
- Sindrom metabolik (obesitas, resistensi insulin), stres psikologis, hingga pola makan buruk.
Semua faktor ini pada akhirnya mengganggu keseimbangan redoks testis, memicu peroksidasi lipid, fragmentasi DNA sperma, dan perubahan epigenetik yang menurunkan kualitas sperma.
Terapi Antioksidan: Pedang Bermata Dua
Secara teori, antioksidan menjadi pertahanan pertama melawan stres oksidatif. Banyak penelitian menunjukkan suplemen antioksidan bisa meningkatkan parameter kesuburan pria, bahkan peluang pembuahan.
Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu. Penggunaan antioksidan tanpa panduan medis dapat menimbulkan masalah baru yang disebut reductive stress. Ini terjadi saat tubuh justru kebanjiran antioksidan, sehingga keseimbangan redoks bergeser ke arah sebaliknya dan mengganggu fungsi normal sperma.
Fenomena ini dikenal sebagai “antioxidant paradox” sebuah istilah yang diperkenalkan Halliwell (2000) untuk menjelaskan efek tak terduga dari terapi antioksidan.
Kenapa Antioxidant Paradox Bisa Terjadi?
Ada beberapa alasan kenapa terapi antioksidan tidak selalu berhasil, bahkan bisa kontraproduktif:
- Kegagalan menargetkan dua mekanisme utama sekaligus → kebanyakan terapi hanya fokus menurunkan stres oksidatif, padahal inflamasi juga ikut berperan dan saling memperkuat dengan OS dalam siklus berbahaya.
- Penggunaan antioksidan secara bebas tanpa dosis yang jelas, seringkali hanya berdasarkan iklan atau klaim “alami berarti aman”.
- Kurangnya bukti klinis → hingga saat ini, FDA tidak merekomendasikan suplementasi antioksidan untuk kondisi medis tertentu, dan European Society for Human Reproduction and Embryology (ESHRE) menyatakan bukti ilmiahnya masih terbatas.
Antioksidan dan Sperma: Peran yang Rumit
Dalam jumlah seimbang, sistem antioksidan alami tubuh (enzim SOD, katalase, dan GPX) melindungi sperma dari kerusakan. Tetapi sperma punya kelemahan: mereka kehilangan sebagian besar sitoplasma selama pematangan, padahal sitoplasma adalah sumber utama antioksidan. Akibatnya, sperma dewasa jadi sangat rentan terhadap kerusakan oksidatif.
Itulah sebabnya terapi antioksidan tampak logis, tapi harus hati-hati. Dosis berlebihan bisa merusak, bahkan ada laporan efek teratogenik pada embrio.
Stres oksidatif memang merupakan kunci penting dalam infertilitas pria, tetapi terapi antioksidan bukan solusi tunggal. Alih-alih sekadar “minum suplemen antioksidan sebanyak mungkin”, yang dibutuhkan adalah pendekatan lebih spesifik: menjaga keseimbangan redoks, mengendalikan inflamasi, serta memperbaiki gaya hidup yang jadi pemicu stres oksidatif.
Dengan kata lain, antioxidant paradox mengingatkan kita bahwa sesuatu yang dianggap baik sekalipun bisa berbalik merugikan, bila digunakan berlebihan atau tanpa pemahaman menyeluruh. Jadi sister dan paksu tetap perlu melakukan konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan informasi yang akurat, lebih spesifik adalah mengecek kadar nutrisi yang dibutuhkan oleh sister dan paksu. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Dutta, S., Sengupta, P., Roychoudhury, S., Chakravarthi, S., Wang, C. W., & Slama, P. (2022). Antioxidant paradox in male infertility:‘A blind eye’on inflammation. Antioxidants, 11(1), 167.