
Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) selama ini sering dipahami sebatas masalah haid tidak teratur, jerawat, atau sulit hamil. Padahal, semakin banyak penelitian menunjukkan bahwa PCOS adalah kondisi yang jauh lebih kompleks. Ia tidak hanya memengaruhi ovarium dan hormon, tetapi juga berdampak pada kesehatan mental, fungsi otak, hingga kualitas hidup perempuan secara menyeluruh.
Sebuah penelitian mengungkapkan PCOS dalam ruang yang lebih holistik, bagaimana gejala fisik, kondisi psikologis, dan perubahan aktivitas otak saling berkaitan dan akhirnya memengaruhi kehidupan sehari-hari perempuan dengan PCOS.
PCOS sebagai Kondisi Multidimensi
PCOS merupakan gangguan endokrin paling umum pada perempuan usia reproduktif. Diagnosisnya ditegakkan jika terdapat minimal dua dari tiga kriteria berikut: kelebihan hormon androgen, gangguan ovulasi, dan gambaran ovarium polikistik pada USG, setelah penyebab lain disingkirkan.
Namun, di balik kriteria medis tersebut, PCOS hadir dalam berbagai wajah. Ada yang mengalami haid jarang, ada yang jerawat berat, ada yang hirsutisme, ada pula yang baru menyadari PCOS setelah kesulitan hamil. Variasi inilah yang membuat pengalaman setiap perempuan dengan PCOS terasa sangat personal.
Kualitas Hidup yang Diam-Diam Tergerus
Banyak studi dalam review ini menyoroti bahwa kualitas hidup perempuan dengan PCOS sering kali menurun, bahkan sejak usia muda. Gangguan tidur, ketidakpuasan terhadap citra tubuh, hingga perubahan suasana hati menjadi keluhan yang berulang.
Gejala seperti jerawat, rambut berlebih, dan kenaikan berat badan bukan hanya masalah fisik. Ia menyentuh rasa percaya diri, hubungan sosial, hingga relasi dengan pasangan. Tidak jarang, ketakutan akan infertilitas ikut membebani pikiran, bahkan sebelum benar-benar mencoba hamil.
Dalam konteks ini, PCOS bukan hanya soal “bisa hamil atau tidak”, tetapi tentang bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri dan menjalani keseharian.
PCOS dan Kesehatan Mental
Review ini juga menegaskan bahwa perempuan dengan PCOS memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan kecemasan dan depresi. Beberapa studi menunjukkan bahwa kecemasan sering berkaitan dengan infertilitas dan kerontokan rambut, sementara depresi kerap berhubungan dengan jerawat dan perubahan penampilan.
Masalahnya, gejala psikologis ini sering dianggap sebagai “reaksi wajar” atau bahkan diabaikan. Padahal, kecemasan dan depresi memiliki dampak nyata terhadap kualitas hidup, motivasi menjalani terapi, hingga kepatuhan terhadap perubahan gaya hidup.
Ketika PCOS Mempengaruhi Cara Otak Bekerja
Bagian yang menarik dari review ini adalah pembahasan mengenai perubahan aktivitas otak pada perempuan dengan PCOS. Studi pencitraan otak menunjukkan adanya perubahan fungsi di area yang berkaitan dengan perhatian, memori verbal, memori episodik, fungsi eksekutif, dan kemampuan visuospasial.
Secara sederhana, ini berarti sebagian perempuan dengan PCOS mungkin mengalami kesulitan fokus, mudah lupa, atau merasa “mental fog” dalam aktivitas sehari-hari. Dampak ini mungkin tidak selalu disadari sebagai bagian dari PCOS, tetapi tetap berkontribusi pada rasa lelah mental dan penurunan kualitas hidup.
Lebih dari Sekadar Masalah Medis
Review ini menekankan bahwa PCOS tidak bisa dipandang sebagai gangguan hormon semata. Obesitas, resistensi insulin, gangguan metabolik, serta komorbiditas psikiatri seperti gangguan makan, kecemasan, dan depresi saling berkaitan dan memperberat kondisi pasien. Semua faktor ini pada akhirnya membentuk satu lingkaran yang memengaruhi kesejahteraan fisik, mental, seksual, dan sosial perempuan dengan PCOS.
Pesan utama dari review ini sangat jelas: PCOS adalah kondisi yang memengaruhi tubuh dan pikiran secara bersamaan. Mengabaikan aspek psikologis dan kognitif berarti mengabaikan sebagian besar pengalaman hidup pasien. Pendekatan PCOS ke depan tidak cukup hanya dengan mengatur siklus haid atau ovulasi, tetapi juga perlu ruang aman untuk membicarakan kesehatan mental, citra diri, kelelahan emosional, dan kualitas hidup secara menyeluruh. Karena PCOS bukan hanya tentang ovarium ia tentang perempuan seutuhnya.
Referensi
- Pinto, J., Cera, N., & Pignatelli, D. (2024). Psychological symptoms and brain activity alterations in women with PCOS and their relation to the reduced quality of life: a narrative review. Journal of Endocrinological Investigation, 47, 1–22.