
Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) adalah salah satu masalah kesehatan reproduksi yang cukup sering dialami perempuan. Diperkirakan sekitar 8–13% perempuan usia reproduksi mengalami kondisi ini.
Gejalanya bisa berupa haid tidak teratur, jerawat, tumbuh rambut berlebih, sampai sulit hamil. Selain memengaruhi kesuburan, PCOS juga sering dikaitkan dengan masalah metabolisme, seperti resistensi insulin dan risiko diabetes.
Kenapa PCOS bisa terjadi?
Sampai saat ini, penyebab PCOS belum sepenuhnya jelas. Faktor hormon, gaya hidup, hingga keturunan semuanya bisa ikut berperan. Nah, salah satu yang menarik perhatian para ahli adalah hubungan antara vitamin D dengan PCOS.
Apa hubungannya vitamin D dengan PCOS? Vitamin D bukan hanya penting untuk kesehatan tulang, tapi juga punya peran dalam keseimbangan hormon reproduksi dan metabolisme tubuh. Tubuh kita “membaca” vitamin D melalui reseptor khusus yang disebut Vitamin D Receptor (VDR).
Masalahnya, setiap orang bisa punya variasi genetik berbeda pada reseptor ini. Variasi kecil pada gen inilah yang disebut polimorfisme genetik. Kalau terjadi pada VDR, tubuh mungkin merespons vitamin D dengan cara yang berbeda.
Beberapa penelitian menemukan bahwa ada varian tertentu pada gen VDR—misalnya FokI, TaqI, atau BsmI—yang lebih sering muncul pada perempuan dengan PCOS. Jadi, bukan sekadar pola makan atau gaya hidup saja, tapi faktor genetik juga punya peran.
Kenapa penting buat kita tahu?
- Lebih personal → Setiap orang bisa punya “bekal genetik” berbeda. Ini bisa menjelaskan kenapa ada perempuan yang lebih rentan terkena PCOS.
- Peran vitamin D → Banyak studi menemukan kadar vitamin D yang rendah pada perempuan dengan PCOS. Meski belum pasti apakah ini penyebab atau akibat, jelas ada keterkaitan.
- Arah ke depan → Pemahaman soal genetik ini bisa membuka jalan untuk terapi yang lebih tepat sasaran di masa depan, mungkin termasuk strategi personalisasi berdasarkan profil genetik dan kadar vitamin D seseorang.
Jadi, apa artinya buat sister?
PCOS bukan cuma soal hormon atau gaya hidup, tapi juga ada campur tangan genetik—termasuk gen reseptor vitamin D. Mengetahui faktor ini bisa membantu kita lebih memahami tubuh sendiri dan membuka peluang perawatan PCOS yang lebih personal di masa depan.
Buat kamu yang punya gejala PCOS atau merasa berisiko, jangan ragu untuk cek kesehatan reproduksi sekaligus memeriksa kadar vitamin D. Selain itu, pola hidup sehat tetap jadi kunci mulai dari makan bergizi, rutin olahraga, sampai mengelola stres. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
Heidarzadehpilehrood, R., Hamid, H. A., & Pirhoushiaran, M. (2025). Vitamin D receptor (VDR) gene polymorphisms and risk for polycystic ovary syndrome and infertility: An updated systematic review and meta-analysis. Metabolism Open, 25, 100343.