
Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) dikenal sebagai salah satu gangguan hormon paling sering dialami perempuan usia reproduksi. Dampaknya tidak main-main: mulai dari gangguan haid, kesulitan hamil, hingga peningkatan risiko diabetes, penyakit jantung, dan kanker endometrium.
Masalahnya, meski PCOS cukup umum, banyak perempuan dengan PCOS justru “tidak terlihat” dalam data kesehatan resmi. Inilah yang menjadi sorotan utama sebuah studi terbaru tahun 2024 yang dipublikasikan di International Journal of Environmental Research and Public Health.
Penelitian ini mencoba menjawab satu pertanyaan besar:
seberapa akurat data rekam medis elektronik (Electronic Health Records/EHR) dalam mengenali PCOS?
Mengapa Data PCOS Sulit Ditangkap?
Idealnya, diagnosis PCOS tidak bisa ditegakkan dari satu pemeriksaan saja. Ada beberapa kriteria yang biasa digunakan dokter, seperti:
- siklus haid tidak teratur,
- tanda kelebihan hormon androgen (misalnya jerawat berat atau rambut berlebih),
- dan gambaran ovarium polikistik di USG.
Masalahnya, tidak semua perempuan menjalani semua pemeriksaan ini. Ada yang datang hanya karena haid tidak teratur. Ada yang fokus ke jerawat. Ada juga yang baru diperiksa saat program hamil. Di sisi lain, data kesehatan modern banyak mengandalkan kode diagnosis di sistem komputer rumah sakit. Nah, disinilah celahnya.
Kenapa Banyak Perempuan PCOS Tapi Tidak Tercatat?
Banyak perempuan baru sadar punya PCOS setelah bertahun-tahun bertanya ke tubuhnya sendiri. Haid berantakan. Jerawat tak kunjung reda. Berat badan mudah naik. Sulit hamil. Tapi di rekam medis? Namanya belum tentu tertulis. Faktanya, PCOS adalah salah satu kondisi hormonal yang paling sering dialami perempuan, tapi justru sering “tidak terlihat” dalam data resmi.
Kenapa bisa begitu? Di sistem rekam medis digital, jumlah perempuan dengan PCOS terlihat sedikit. Padahal di kehidupan nyata, PCOS bisa dialami oleh sekitar 1 dari 5 perempuan. Ini bukan karena PCOS jarang. Tapi karena banyak perempuan belum pernah benar-benar tercatat sebagai PCOS, meski gejalanya ada. Artinya, yang muncul di data hanyalah sebagian kecil dari cerita yang sebenarnya terjadi.
PCOS Tidak Selalu Datang dengan Satu Kunjungan
PCOS bukan kondisi yang langsung bisa disimpulkan dalam sekali periksa. Kadang datang ke dokter karena haid tidak teratur. Kadang karena jerawat atau rambut rontok. Kadang karena sulit hamil. Setiap keluhan datang terpisah. Setiap kunjungan punya fokus berbeda. Akibatnya, gambaran utuh PCOS sering tidak langsung terlihat baik oleh sistem, maupun oleh pasien itu sendiri. Bukan karena salah. Tapi karena PCOS itu kompleks dan bertahap dikenali.
Label di Sistem Belum Tentu Mewakili Kondisi Sebenarnya
Menariknya, ada perempuan yang tercatat punya PCOS, tapi sebenarnya tidak memenuhi ciri khasnya. Ada juga yang jelas-jelas mengalami tanda PCOS, tapi tidak pernah mendapat label PCOS. Ini menunjukkan satu hal penting: PCOS tidak selalu bisa disederhanakan jadi satu kode atau satu nama.
Tubuh manusia tidak bekerja seperti tabel data.
Kenapa Ini Penting untuk Kita?
Karena data kesehatan sering jadi dasar keputusan besar:
- layanan kesehatan apa yang diprioritaskan,
- edukasi apa yang disediakan,
- sampai kebijakan yang memengaruhi perempuan.
Kalau PCOS terlihat “sedikit” di data, maka kebutuhannya bisa dianggap tidak mendesak.
Padahal dampaknya nyata bukan hanya soal haid atau kesuburan, tapi juga metabolik dan kesehatan mental.
Kalau sister merasa:
- tubuhmu “tidak seperti seharusnya”,
- gejala datang silih berganti,
- atau jawaban terasa setengah-setengah,
itu bukan karena kamu berlebihan.
PCOS bukan satu wajah. Ia bisa muncul pelan-pelan, dengan bentuk yang berbeda pada tiap perempuan. Bertanya itu penting. Menyimpan hasil pemeriksaan itu perlu. Dan memahami tubuh sendiri adalah bagian dari ikhtiar. Pada dasarnya data digital membantu. Tapi ia tidak bisa menggantikan cerita tubuh perempuan. PCOS bukan hanya soal catatan medis. Ia adalah pengalaman hidup tentang tubuh, harapan, dan proses memahami diri sendiri.
Referensi
- Atiomo, W., Rizwan, M. N. H., Bajwa, M. H., Furniturewala, H. J., Hazari, K. S., Harab, D., … & Mirza, F. G. (2024). Prevalence and diagnosis of PCOS using electronic health records: a scoping review and a database analysis. International journal of environmental research and public health, 21(3), 354.