
Endometriosis dan adenomiosis merupakan gangguan ginekologis yang sering dikaitkan dengan nyeri panggul kronis dan infertilitas. Selama ini, pembahasan penyebab infertilitas pada kondisi ini kerap berfokus pada faktor hormonal, anatomi pelvis, dan inflamasi. Namun, ada yang harus kalian pahami yaitu tentang lapisan lain yang tidak kalah penting, yaitu mikrobiota saluran reproduksi.
Mikrobiota bukan sekadar “bakteri yang lewat”, melainkan bagian aktif dari lingkungan biologis rahim yang dapat memengaruhi fungsi sel endometrium, reseptivitas implantasi, hingga keberhasilan program kehamilan (promil).
Mikrobiota Normal Saluran Reproduksi
Pada kondisi sehat, saluran reproduksi perempuan terutama vagina dan endometrium umumnya didominasi oleh Lactobacillus. Bakteri ini berperan menjaga keseimbangan lingkungan dengan:
- mempertahankan pH optimal
- menekan pertumbuhan bakteri patogen
- mendukung fungsi imun lokal
Lingkungan mikroba yang stabil membantu menciptakan kondisi rahim yang kondusif bagi implantasi embrio.
Dysbiosis Mikrobiota pada Endometriosis dan Adenomiosis
Penelitian tahun 2025 yang dipublikasikan di BMC Microbiology menunjukkan bahwa perempuan dengan ovarian endometrioma (kista cokelat) dan adenomiosis mengalami perubahan signifikan pada mikrobiota saluran reproduksi.
Perubahan ini ditemukan di berbagai lokasi, meliputi kanalis servikalis, forniks posterior, endometrium dan cairan panggul
Kondisi tersebut ditandai oleh:
- penurunan dominasi Lactobacillus
- peningkatan bakteri oportunistik seperti Enterococcus dan anggota Enterobacteriaceae
- peningkatan keragaman mikroba yang tidak selalu menguntungkan
Fenomena ini dikenal sebagai dysbiosis, yaitu ketidakseimbangan mikrobiota yang dapat memicu inflamasi kronis.
Dampak Langsung Mikrobiota terhadap Sel Endometrium
Menariknya, pembahasan ini tidak berhenti pada soal jenis bakteri saja. Bakteri tertentu yang sering ditemukan pada endometriosis dan adenomiosis ternyata bisa berdampak langsung pada sel endometrium. Kehadirannya membuat sel menjadi kurang sehat, memengaruhi cara kerja gen-gen penting, dan memicu peradangan serta stres di tingkat sel. Perubahan ini berkaitan dengan sistem pertahanan tubuh, cara sel menghasilkan energi, hingga mekanisme pertumbuhan dan perbaikan jaringan. Dalam kondisi seperti ini, endometrium bisa kehilangan “lingkungan idealnya”, sehingga fungsinya sebagai tempat menempelnya embrio menjadi tidak optimal.
Implikasi terhadap Fertilitas dan Program Kehamilan
Pemahaman baru bahwa gangguan fertilitas pada endometriosis tidak selalu disebabkan oleh kelainan anatomi yang terlihat jelas. Lingkungan mikro di dalam rahim termasuk komposisi mikrobiota memegang peran penting. Pada konteks promil, disbiosis mikrobiota dapat berkontribusi pada: penurunan reseptivitas endometrium, kegagalan implantasi, respon yang kurang optimal terhadap program IUI atau IVF. Inilah mengapa sebagian kasus infertilitas pada endometriosis kerap disebut “unexplained”, padahal penyebabnya tersembunyi di tingkat seluler dan mikrobiologis.
Endometriosis bukan hanya penyakit hormon atau struktur, tetapi juga berkaitan erat dengan lingkungan biologis rahim, termasuk mikrobiota. Bagi sister dan paksu yang sedang menjalani promil, kalian juga harus memahami bahwa kehamilan tidak hanya ditentukan oleh embrio dan hormon, tetapi juga oleh kualitas lingkungan rahim yang sering luput diperhatikan.
Referensi
- Li, J., Zhang, Y., Zhang, J., Yue, C., Guo, L., Yang, G., … & Yu, T. (2025). Reproductive tract microbiota dysbiosis in ovarian endometrioma and adenomyosis: multi-site 16S rRNA profiling and functional impact of key bacterial species on human endometrial stromal cells. BMC microbiology, 25(1), 717.