Perbandingan Profil Mikrobiota Vagina pada Pasien dengan dan tanpa Endometriosis

 

Endometriosis adalah penyakit ginekologis kronis yang dialami sekitar 10% perempuan usia reproduksi. Jaringan yang mirip endometrium tumbuh di luar rahim bisa di ovarium, peritoneum, bahkan di lokasi yang jauh dari organ reproduksi. Dampaknya bukan cuma nyeri, tapi juga inflamasi kronis, gangguan haid, hingga infertilitas.

Selama ini, endometriosis sering dijelaskan lewat hormon, menstruasi retrograd, atau faktor genetik. Tapi beberapa tahun terakhir, muncul satu pertanyaan baru yang menarik perhatian banyak peneliti.

Bagaimana kalau lingkungan mikro di tubuh juga ikut berperan?

Vagina bukan ruang steril. Di sana hidup komunitas bakteri disebut mikrobiota yang berinteraksi dengan hormon, sistem imun, dan kondisi anatomi vagina itu sendiri.

Dalam kondisi seimbang, mikrobiota vagina biasanya didominasi oleh Lactobacillus. Bakteri ini membantu menjaga keasaman vagina, menekan bakteri patogen, dan mendukung pertahanan imun lokal.

Masalah muncul ketika keseimbangan ini terganggu. Disbiosis ketidakseimbangan mikrobiota diketahui bisa memicu inflamasi, mengacaukan respon imun, dan secara teori ikut menciptakan lingkungan yang “ramah” bagi perkembangan endometriosis.

Kenapa Mikrobiota Dikaitkan dengan Endometriosis?

Endometriosis adalah penyakit inflamatorik. Artinya, sistem imun berperan besar dalam pembentukannya. Ketika mikrobiota tidak seimbang, tubuh bisa memproduksi lebih banyak sitokin proinflamasi, meningkatkan pembentukan pembuluh darah baru, dan memperkuat adhesi semua ini adalah ciri khas endometriosis.

Selain itu, beberapa bakteri punya kemampuan memengaruhi metabolisme estrogen. Mereka bisa meningkatkan kadar estrogen bebas di tubuh, menciptakan kondisi hiperestrogenik yang mendukung pertumbuhan jaringan endometriotik.

Dengan kata lain, mikrobiota tidak sekadar “penumpang”, tapi bisa ikut membentuk lingkungan biologis tempat endometriosis berkembang.

Apakah Mikrobiota Vagina Berbeda pada Endometriosis?

Sebuah penelitian yang meneliti perempuan dengan endometriosis dan tanpa endometriosis dibandingkan untuk melihat profil mikrobiota vaginanya, Hasilnya menarik. Bahwa secara umum, jenis bakteri yang ditemukan memang bervariasi. Ada perbedaan komposisi di tingkat kelompok besar bakteri maupun di tingkat genus. Namun, ketika dilihat dari jumlah dan kelimpahannya secara keseluruhan, perbedaannya tidak signifikan.

Artinya, perempuan dengan endometriosis tidak selalu menunjukkan “bakteri yang benar-benar berbeda” dibandingkan perempuan tanpa endometriosis. Di kedua kelompok, Lactobacillus tetap menjadi bakteri dominan. Ini menunjukkan bahwa ekosistem dasar vagina bisa saja tetap terlihat “normal”, bahkan pada perempuan dengan endometriosis.

Namun, temuan ini justru membuka pemahaman baru: mungkin yang penting bukan sekadar siapa bakterinya, tapi apa yang mereka lakukan. Interaksi mikrobiota dengan sistem imun, aktivitas metaboliknya, serta pengaruhnya terhadap hormon kemungkinan jauh lebih menentukan dibanding sekadar perbedaan jumlah bakteri.

Pada intinya endometriosis bukan penyakit dengan satu penyebab sederhana. Mikrobiota vagina mungkin tidak selalu menunjukkan perbedaan mencolok secara kuantitas, tapi tetap berpotensi berperan lewat mekanisme yang lebih halus melalui inflamasi, imun, dan regulasi hormon.

Ini juga menjelaskan kenapa pendekatan pada endometriosis tidak bisa satu arah. Bukan cuma soal struktur rahim atau kadar hormon, tapi juga tentang lingkungan biologis yang lebih luas. Jangan lupa follow Instagram @menujudiagaris.id ya!

Referensi

  • Mostafavi, S. R. S., Kor, E., Sakhaei, S. M., & Kor, A. (2024). The correlation between ultrasonographic findings and clinical symptoms of pelvic endometriosis. BMC Research Notes, 17(1), 108.