
Infertilitas masih menjadi tantangan kesehatan global yang memengaruhi jutaan perempuan setiap tahunnya. Salah satu penyebab penting yang sering luput dari perhatian adalah perlekatan intraabdomen atau adhesi pelvis, terutama yang terjadi setelah tindakan bedah ginekologi.
Adhesi merupakan jaringan fibrotik yang terbentuk akibat proses penyembuhan jaringan yang tidak berjalan sempurna. Meskipun seringkali tidak bergejala, adhesi dapat memberikan dampak signifikan terhadap fungsi reproduksi perempuan terutama melalui gangguannya terhadap tuba falopi.
Apa Itu Perlekatan (Adhesi)?
Adhesi adalah jaringan ikat abnormal yang menghubungkan dua permukaan organ atau jaringan yang seharusnya terpisah. Dalam konteks ginekologi, adhesi sering terbentuk di area pelvis dan dapat melibatkan rahim, ovarium, tuba falopi, serta struktur sekitarnya.
Secara umum, adhesi dibedakan menjadi:
- Adhesi kongenital, yang jarang bergejala dan biasanya ditemukan secara kebetulan.
- Adhesi didapat, yang paling sering terjadi akibat inflamasi pascabedah, infeksi pelvis, atau kondisi inflamasi kronis seperti endometriosis.
Sebagian besar adhesi yang berhubungan dengan infertilitas bersifat pascabedah.
Mengapa Adhesi Sering Terjadi Setelah Operasi?
Setiap pembedahan pada rongga perut atau panggul memicu proses penyembuhan jaringan. Dalam kondisi normal, proses ini akan selesai dalam beberapa hari. Namun, bila terjadi gangguan misalnya karena trauma jaringan luas, perdarahan, iskemia, atau inflamasi berlebihan maka deposisi fibrin tidak terurai sempurna dan berkembang menjadi jaringan fibrotik permanen.
Prosedur ginekologi yang paling sering dikaitkan dengan adhesi meliputi:
- miomektomi
- salpingektomi
- operasi kista ovarium
- histerektomi
- seksio sesarea
Angka kejadian adhesi setelah operasi ginekologi terbuka bahkan dapat mencapai hingga 97%.
Bagaimana Adhesi Mengganggu Fungsi Tuba Falopi?
Tuba falopi memiliki peran krusial dalam proses kehamilan: menangkap oosit, menjadi lokasi fertilisasi, dan mengantarkan embrio ke rahim. Adhesi dapat mengganggu fungsi ini melalui beberapa mekanisme:
- Adhesi peritubal
Membatasi pergerakan tuba dan fimbria sehingga ovum sulit ditangkap. - Adhesi di ujung distal tuba
Mengganggu fungsi fimbriae dan meningkatkan risiko ovum “hilang” di rongga perut. - Adhesi intratubal atau peritubal berat
Menyebabkan oklusi parsial atau total tuba, menurunkan peluang kehamilan alami dan meningkatkan risiko kehamilan ektopik. - Distorsi anatomi pelvis
Mengubah hubungan normal antara ovarium, tuba, dan rahim.
Dengan kata lain, ovulasi dan hormon bisa tampak normal, tetapi proses konsepsi tetap gagal terjadi.
Mengapa Adhesi Sulit Dideteksi?
Salah satu tantangan terbesar adhesi adalah sifatnya yang sering asimtomatik. Banyak perempuan tidak merasakan nyeri atau gangguan haid. Adhesi baru teridentifikasi ketika:
- kehamilan tidak kunjung terjadi
- muncul nyeri panggul kronis
- ditemukan secara tidak sengaja saat tindakan bedah
Saat ini, laparoskopi masih menjadi gold standard untuk diagnosis adhesi. Namun, prosedur ini bersifat invasif dan justru berisiko memicu adhesi baru. Metode lain seperti ultrasonografi dengan sliding sign atau transvaginal hydro-laparoscopy dapat membantu, tetapi belum sepenuhnya menggantikan laparoskopi.
Dampak Klinis dan Beban Kesehatan
Adhesi pelvis diperkirakan berkontribusi terhadap:
- 15–20% kasus infertilitas perempuan
- hingga 40% pada laporan tertentu
- sebagian besar nyeri abdomen kronis pascabedah
- peningkatan kesulitan pada operasi lanjutan
Selain dampak klinis, adhesi juga menimbulkan beban ekonomi besar akibat rawat inap berulang, tindakan adhesiolisis, serta biaya penanganan infertilitas.
Pencegahan dan Penanganan
Pendekatan terbaik terhadap adhesi adalah pencegahan. Prinsip utama meliputi:
- menghindari tindakan bedah yang tidak perlu
- menerapkan teknik bedah atraumatik
- meminimalkan desikasi jaringan dan perdarahan
- penggunaan teknik laparoskopi bila memungkinkan
Berbagai adhesion barriers (gel atau cairan) telah dikembangkan untuk mencegah terbentuknya adhesi, dengan hasil yang menjanjikan dalam menurunkan kejadian adhesi. Namun, bukti terkait peningkatan angka kehamilan dan kelahiran hidup masih terbatas.
Adhesiolisis dapat dilakukan pada kasus tertentu, terutama adhesi ringan. Namun, prosedur ini memiliki risiko pembentukan adhesi ulang dan komplikasi bedah. Pada banyak kasus infertilitas tuba berat, fertilisasi in vitro (IVF) sering menjadi pilihan dengan risiko lebih rendah dibandingkan operasi ulang.
Perlekatan pascabedah merupakan masalah yang sering, diam-diam, dan berdampak besar terhadap fungsi tuba falopi serta kesuburan perempuan. Meski tidak selalu menimbulkan gejala, adhesi dapat menjadi penghalang utama terjadinya kehamilan alami.
Memahami adhesi bukan hanya soal komplikasi bedah, tetapi juga tentang melihat infertilitas secara lebih menyeluruh bahwa bukan semua kegagalan hamil berasal dari hormon atau ovarium, melainkan juga dari struktur halus yang bekerja di balik layar. Jangan lupa informasi menarik lainnya follow Instagram @menujuduagaris.id
Referensi
- Ghobrial, S., Ott, J., & Parry, J. P. (2023). An overview of postoperative intraabdominal adhesions and their role on female infertility: a narrative review. Journal of Clinical Medicine, 12(6), 2263.