
Perubahan iklim bukan lagi sekadar isu lingkungan. Hari ini, ia menjadi ancaman nyata bagi kesehatan manusia, termasuk kesehatan reproduksi perempuan dan laki-laki. Kenaikan suhu bumi, kekeringan, kebakaran hutan, polusi udara, hingga banjir ekstrim semuanya menciptakan kondisi yang secara langsung maupun tidak langsung memengaruhi peluang memiliki keturunan dan kesehatan ibu hamil.
Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan 250.000 kematian tambahan setiap tahun antara 2030–2050 akibat penyakit yang sensitif terhadap perubahan iklim. Angka ini mencerminkan besarnya beban kesehatan yang muncul seiring perubahan iklim yang kian cepat.
Di tengah berbagai dampak tersebut, kelompok yang paling rentan adalah ibu hamil, janin yang sedang berkembang, dan pasangan yang sedang berjuang mendapatkan keturunan.
Dampak Perubahan Iklim Terhadap Kehidupan Sehari-hari
Perubahan iklim memengaruhi kehidupan dengan banyak cara:
- Suhu yang meningkat → gelombang panas, heat stress
- Kualitas udara yang memburuk → polusi partikulat PM2.5 dan gas berbahaya
- Bencana alam makin sering → banjir, badai, kekeringan
- Kebakaran hutan → paparan asap yang merusak paru dan sistem reproduksi
- Perubahan ekosistem → peningkatan penyakit akibat vektor seperti Zika dan COVID-19
Pada tahun 2020 saja, lebih dari seratus bencana iklim terjadi dan dampaknya dirasakan oleh puluhan juta orang di seluruh dunia. Yang sering luput dibicarakan bukan hanya banjir, panas ekstrem, atau badai melainkan efek jangka panjangnya pada tubuh manusia, termasuk kesuburan dan kehamilan.
Perubahan iklim perlahan mengubah kualitas udara yang kita hirup setiap hari. Polusi dari kendaraan, industri, dan bahan kimia di lingkungan tidak berhenti di paru-paru. Ia ikut masuk ke sistem hormon dan reproduksi. Pada perempuan, paparan udara yang tercemar dapat membuat cadangan sel telur menurun, siklus haid menjadi tidak teratur, dan peluang hamil secara alami ikut turun. Pada laki-laki, kualitas dan pergerakan sperma juga bisa terdampak.
Lingkungan dengan polusi tinggi membuat proses kehamilan menjadi lebih rapuh. Risiko keguguran meningkat, kualitas embrio bisa menurun, dan pada pasangan yang menjalani program hamil berbantu, peluang implantasi menjadi lebih rendah. Bahkan tinggal dekat jalan raya yang padat kendaraan pun dikaitkan dengan meningkatnya risiko infertilitas.
Yang membuat situasi ini mengkhawatirkan, dampaknya tetap terlihat meskipun faktor usia dan kondisi sosial ekonomi sudah diperhitungkan. Artinya, lingkungan benar-benar ikut menentukan kesehatan reproduksi, bukan sekadar gaya hidup pribadi.
Perubahan iklim bukan hanya isu lingkungan atau masa depan yang jauh. Ia hadir di tubuh kita hari ini pelan, tidak terasa, tapi nyata dan memengaruhi keputusan paling dasar manusia: kemampuan untuk menciptakan kehidupan.
Kebakaran Hutan dan Kesehatan Reproduksi
Asap kebakaran hutan mengandung partikel ultrahalus yang dengan mudah masuk ke aliran darah. Efeknya mirip polusi udara ekstrem namun bisa jauh lebih toksik.
Paparan asap kebakaran dikaitkan dengan:
- Kelahiran prematur
- Pembentukan plasenta yang terganggu
- Penurunan kualitas sperma
- Peningkatan risiko keguguran
Dengan frekuensi kebakaran hutan yang makin sering, risiko ini diperkirakan akan terus meningkat.
Heat Stress: Suhu Panas dan Risiko Kehamilan
Gelombang panas yang berulang dapat menyebabkan:
- Penurunan jumlah dan kualitas sperma
- Gangguan ovulasi
- Dehidrasi ibu hamil
- Peningkatan risiko kelahiran prematur
- Kematian janin
- Gangguan perkembangan plasenta
Bayi yang terpapar suhu ekstrem saat dalam kandungan juga berisiko mengalami gangguan perkembangan saraf.
Bencana alam juga menyebabkan pemindahan tempat tinggal, kurangnya akses makanan sehat, dan paparan penyakit infeksi semuanya berkontribusi pada gangguan reproduksi.
Perubahan iklim bukan hanya isu lingkungan tetapi juga isu kesetaraan kesehatan dan kelangsungan generasi mendatang. Dampaknya terlihat pada:
- Fertilitas perempuan dan laki-laki
- Kesehatan sperma dan ovarium
- Risiko keguguran
- Kelahiran prematur
- Perkembangan janin
- Kesehatan bayi di masa depan
Tenaga kesehatan perlu memahami bukti ini untuk memberikan edukasi yang tepat, mendorong strategi mitigasi, dan mengadvokasi kebijakan yang lebih melindungi kesehatan reproduksi.
Referensi
Segal, T. R., & Giudice, L. C. (2022). Systematic review of climate change effects on reproductive health. Fertility and sterility, 118(2), 215-223.