
Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) merupakan salah satu gangguan hormonal paling umum pada perempuan usia reproduktif. Kondisi ini tidak hanya berkaitan dengan siklus haid yang tidak teratur atau kesulitan hamil, tetapi juga berdampak luas pada kesehatan metabolik dan kardiovaskular jangka panjang.
PCOS dikenal sebagai kondisi yang kompleks dan sangat beragam. Pada sebagian perempuan, PCOS tampak jelas melalui gambaran ovarium polikistik di USG. Pada yang lain, kelainan justru lebih dominan secara hormonal, seperti kadar androgen yang tinggi tanpa perubahan morfologi ovarium yang signifikan. Keragaman inilah yang membuat pendekatan terapi PCOS tidak bisa disamaratakan. Bahas lebih dalam yuk!
Apa yang Terjadi pada Tubuh Perempuan dengan PCOS
Secara sederhana, PCOS ditandai oleh tiga komponen utama:
gangguan ovulasi, peningkatan hormon androgen, dan/atau gambaran ovarium polikistik.
Di balik gejala tersebut, terdapat gangguan pada beberapa sistem sekaligus. Sumbu hipotalamus–hipofisis–ovarium mengalami perubahan, ditandai dengan peningkatan hormon luteinizing hormone (LH) dan pelepasan GnRH yang berlebihan. Di sisi lain, banyak perempuan dengan PCOS juga mengalami resistensi insulin, yang membuat ovarium memproduksi androgen dalam jumlah lebih tinggi.
Kelebihan androgen inilah yang kemudian menghambat pematangan folikel, menyebabkan ovulasi tidak terjadi secara optimal, dan memicu gejala seperti jerawat, rambut berlebih, hingga kerontokan rambut. Menariknya, obesitas sering menyertai PCOS, tetapi bukan syarat mutlak untuk diagnosis.
PCOS Bukan Sekadar Masalah Reproduksi
PCOS memengaruhi sekitar 5–10% perempuan usia 18–44 tahun dan menjadi penyebab paling umum gangguan endokrin pada usia reproduktif. Namun dampaknya tidak berhenti pada kesuburan.
Perempuan dengan PCOS memiliki risiko lebih tinggi mengalami prediabetes, diabetes tipe 2, dislipidemia, hipertensi, penyakit jantung, kanker endometrium, hingga gangguan kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi. Saat hamil, risiko keguguran, diabetes gestasional, preeklampsia, dan persalinan prematur juga meningkat.
Karena itu, PCOS seharusnya dipahami sebagai kondisi kesehatan jangka panjang, bukan hanya “penyakit haid” atau “penyebab susah hamil”.
Bagaimana PCOS Didiagnosis
Diagnosis PCOS tidak bergantung pada satu pemeriksaan tunggal. Terdapat beberapa kriteria yang digunakan secara internasional, termasuk kriteria NIH, Rotterdam, dan Androgen Excess Society (AES). Secara umum, diagnosis ditegakkan bila ditemukan kombinasi dari:
- peningkatan androgen (klinis atau laboratoris),
- gangguan ovulasi,
- gambaran ovarium polikistik di USG,
dengan tetap menyingkirkan penyebab lain seperti hiperplasia adrenal, sindrom Cushing, atau hiperprolaktinemia.
Pendekatan ini penting karena gejala PCOS bisa sangat menyerupai gangguan hormonal lain.
Prinsip Umum Penatalaksanaan PCOS
Karena penyebab pasti PCOS belum sepenuhnya dipahami, terapi difokuskan pada gejala dan tujuan masing-masing pasien. Pada perempuan yang ingin hamil, fokus utama adalah memperbaiki ovulasi. Sementara pada yang belum merencanakan kehamilan, terapi lebih diarahkan pada regulasi haid, pengendalian androgen, dan pencegahan komplikasi jangka panjang.
Tidak ada satu terapi yang mampu memperbaiki seluruh aspek PCOS sekaligus. Oleh karena itu, kombinasi pendekatan seringkali dibutuhkan.
Peran Pendekatan Non-Obat
Penurunan berat badan melalui perubahan gaya hidup menjadi langkah awal yang sangat penting, terutama pada perempuan dengan obesitas. Penurunan berat badan terbukti dapat menurunkan kadar androgen dan insulin, memperbaiki ovulasi, serta meningkatkan peluang kehamilan.
Pada kasus tertentu, prosedur bedah seperti laparoscopic ovarian drilling dapat dipertimbangkan. Tindakan ini bertujuan mengurangi jaringan penghasil androgen di ovarium dan memiliki efektivitas yang sebanding dengan terapi medis, tanpa meningkatkan risiko kehamilan kembar.
Terapi Farmakologis pada PCOS
Clomiphene citrate masih menjadi terapi lini pertama untuk induksi ovulasi pada PCOS. Obat ini telah lama digunakan dan relatif mudah diberikan. Meskipun tingkat keberhasilan kehamilan cukup baik, risiko kehamilan ganda dan keguguran tetap perlu diperhatikan.
Obat antidiabetes, terutama metformin, sering digunakan untuk memperbaiki resistensi insulin dan menurunkan androgen. Namun, bukti menunjukkan bahwa metformin saja tidak selalu meningkatkan angka kelahiran hidup. Kombinasi clomiphene dan metformin dapat dipertimbangkan pada kasus tertentu, meski manfaat tambahannya tidak selalu konsisten.
Jika terapi oral gagal, gonadotropin seperti FSH dapat digunakan dengan protokol dosis rendah untuk menekan risiko hiperstimulasi ovarium dan kehamilan multipel.
Aromatase inhibitor, seperti letrozole, juga menjadi alternatif pada perempuan yang resisten terhadap clomiphene, meskipun penggunaannya memerlukan pertimbangan khusus.
Penanganan Gejala Androgenik
Untuk keluhan seperti hirsutisme, jerawat, dan alopecia, terapi dapat bersifat kosmetik maupun farmakologis. Antiandrogen seperti spironolactone merupakan pilihan yang sering digunakan karena efektif, relatif aman, dan terjangkau. Namun, kontrasepsi wajib diberikan bersamaan karena risiko efek terhadap janin laki-laki.
Pil kontrasepsi oral kombinasi juga berperan besar dalam mengatur siklus haid dan menekan produksi androgen. Beberapa formulasi baru mengandung progestin dengan efek antiandrogenik yang dinilai lebih menguntungkan.
Medroxyprogesterone acetate dapat digunakan untuk mencegah penebalan endometrium berlebihan pada perempuan dengan amenore yang tidak ingin hamil. Sementara itu, statin mulai dipertimbangkan karena efeknya dalam menurunkan kadar testosteron sekaligus memperbaiki profil lipid, meskipun bukan terapi utama PCOS.
PCOS adalah kondisi kompleks yang memerlukan pendekatan individual. Clomiphene tetap menjadi pilihan utama untuk masalah infertilitas, sementara terapi farmakologis lain digunakan sesuai dengan kebutuhan dan tujuan pasien.
Lebih dari sekadar gangguan reproduksi, PCOS adalah kondisi metabolik dan hormonal jangka panjang. Penanganan yang komprehensif meliputi gaya hidup, obat-obatan, dan pemantauan rutin menjadi kunci untuk menjaga kualitas hidup perempuan dengan PCOS, hari ini dan di masa depan. Jangan lupa informasi menarik lainnya follow Instagram @menujuduagaris.id ya
Referensi
- Ndefo, U. A., Eaton, A., & Green, M. R. (2013). Polycystic ovary syndrome: a review of treatment options with a focus on pharmacological approaches. Pharmacy and therapeutics, 38(6), 336.