Repeated microTESE pada Azoospermia Non-Obstruktif: Masih Perlukah Mencoba Lagi Setelah Gagal?

Pada azoospermia non-obstruktif (NOA – non-obstructive azoospermia), tidak ditemukannya sperma di ejakulat bukan berarti testis sepenuhnya “kosong”. Pada sebagian pria, masih terdapat fokus-fokus kecil spermatogenesis yang tersembunyi di dalam jaringan testis. Inilah dasar penggunaan prosedur microdissection testicular sperm extraction atau microTESE.

MicroTESE dianggap sebagai teknik terbaik saat ini karena memungkinkan dokter mencari tubulus seminiferus yang secara visual tampak lebih aktif menghasilkan sperma. Namun, satu pertanyaan besar sering muncul setelah prosedur pertama gagal atau sperma yang ditemukan tidak dapat digunakan: apakah microTESE bisa diulang, dan apakah peluangnya masih masuk akal?

Apa yang Terjadi Jika microTESE Diulang?

Banyak pasangan bertanya, “Kalau microTESE gagal sekali, apakah sudah tidak ada harapan?” Kabar baiknya, tidak selalu begitu.

Pada banyak pria dengan NOA, microTESE tidak hanya dilakukan satu kali. Dan ternyata, peluang menemukan sperma tetap ada bahkan pada tindakan ulang. Terlebih lagi jika sebelumnya pernah ditemukan sperma, kesempatan di prosedur berikutnya bisa tetap terbuka. Artinya, satu kali belum berhasil bukan berarti akhir dari perjalanan. Setiap kasus punya cerita dan peluangnya masing-masing.

Faktor yang Sangat Menentukan Keberhasilan

Keberhasilan microTESE, baik pertama maupun berulang, tidak terjadi secara acak. Ada beberapa faktor kunci yang konsisten memengaruhi hasil.

Jenis gambaran jaringan testis menjadi faktor paling kuat. Pada pria dengan hypospermatogenesis (produksi sperma masih berlangsung meski menurun), peluang menemukan sperma sangat tinggi. Sebaliknya, pada kondisi maturation arrest dan Sertoli cell-only syndrome (SCOS), peluangnya jauh lebih rendah, meski tetap tidak nol.

Kadar hormon FSH juga berperan, terutama pada prosedur pertama. FSH yang lebih tinggi cenderung berkaitan dengan peluang keberhasilan yang lebih rendah. Namun menariknya, pada prosedur ulang, peran FSH menjadi kurang signifikan. Ini menunjukkan bahwa riwayat keberhasilan sebelumnya lebih bermakna dibandingkan angka hormon semata.

Apakah Jarak Antar Prosedur Berpengaruh?

Banyak pasangan bertanya apakah perlu menunggu lama sebelum mencoba microTESE ulang. Studi ini menunjukkan bahwa jarak waktu antara prosedur pertama dan kedua memang berpengaruh: semakin panjang intervalnya, peluang keberhasilan sedikit meningkat. Namun efek ini hanya terlihat antara prosedur pertama dan kedua. Setelah itu, jarak waktu tidak lagi memberikan keuntungan tambahan yang bermakna.

Dengan kata lain, menunggu terlalu lama setelah prosedur kedua dan seterusnya tidak menjamin hasil yang lebih baik.

Pesan penting dari penelitian ini bukan bahwa microTESE harus diulang berkali-kali tanpa pertimbangan. Sebaliknya, Jika sperma pernah ditemukan baik digunakan langsung maupun disimpan maka peluang keberhasilan di prosedur berikutnya meningkat signifikan. Namun bila sejak awal tidak ditemukan sperma, keputusan untuk mengulang perlu dipertimbangkan dengan sangat hati-hati, termasuk melihat gambaran histologi testis dan kondisi hormonal. Repeated microTESE bukan tentang “coba-coba lagi”, tetapi tentang evaluasi yang semakin terarah.

Pada NOA, perjalanan menuju kehamilan sering kali tidak linear. MicroTESE memberikan harapan, tetapi harapan tersebut perlu diposisikan secara realistis. Prosedur ulang bisa menjadi pilihan rasional pada kondisi tertentu, terutama bila sebelumnya pernah ada keberhasilan. Namun seperti banyak aspek dalam infertilitas pria, kunci utamanya tetap sama bukan seberapa sering tindakan dilakukan, tetapi seberapa tepat indikasinya. Jadi tetap lakukan pemeriksaan lebih mendalam ya sister dan paksu! jangan lupa untuk follow Instagram @menujuduagaris.id ya!

Referensi

Ghalayini IF, Alazab R, Halalsheh O, Al-Mohtaseb AH, Al-Ghazo MA. Repeated microdissection testicular sperm extraction in patients with non-obstructive azoospermia: outcome and predictive factors. Andrologia. 2022;137–143.