
Kontrasepsi hormonal digunakan oleh lebih dari 150 juta perempuan di dunia. Metode ini mencakup pil kombinasi, pil progestin saja, suntik, implan, hingga IUD hormonal. Selain efektif mencegah kehamilan, kontrasepsi hormonal juga memiliki manfaat non-kontraseptif seperti mengurangi nyeri haid, perdarahan berlebih, hingga menurunkan risiko kanker tertentu.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak perempuan yang menjauh dari kontrasepsi hormonal, bukan karena bukti ilmiah baru, melainkan karena misinformasi dan narasi menakutkan di media sosial. TikTok, Instagram, dan forum daring dipenuhi cerita personal, klaim “alami lebih aman”, hingga anggapan bahwa pil KB bisa “merusak hormon” atau “menyebabkan infertilitas”.
Artikel ini MDG kali ini akan merangkum bukti ilmiah terkini mengenai berbagai mitos dan kesalahpahaman seputar kontrasepsi hormonal, sekaligus menjelaskan apa yang benar-benar didukung oleh penelitian.
Mengapa Mitos tentang Kontrasepsi Mudah Menyebar?
Pilihan kontrasepsi tidak hanya dipengaruhi faktor medis, tetapi juga faktor sosial dan psikologis. Persepsi perempuan terhadap kontrasepsi dibentuk oleh:
- pengalaman pribadi dan cerita orang terdekat
- pengaruh pasangan dan keluarga
- informasi dari media sosial
- akses dan komunikasi dengan tenaga kesehatan
Ketika pengalaman personal diangkat tanpa konteks ilmiah, ia mudah berubah menjadi kebenaran semu yang menyebar luas.
Mitos 1: Kontrasepsi Hormonal Pasti Bikin Gemuk
Fakta ilmiah:
Sebagian besar metode kontrasepsi hormonal tidak menyebabkan kenaikan berat badan yang signifikan.
- Meta-analisis menunjukkan rata-rata kenaikan berat badan <2 kg dalam 6–12 bulan pada sebagian metode progestin.
- Bukti paling konsisten terkait kenaikan berat badan terdapat pada suntik DMPA, dengan kenaikan rata-rata 1–3 kg dalam satu tahun.
- Pil kombinasi dan implan umumnya tidak menunjukkan efek besar terhadap berat badan.
Yang sering terjadi adalah persepsi kenaikan berat badan, bukan perubahan objektif yang terukur.
Mitos 2: Pil KB Mengganggu Mental dan Menyebabkan Depresi
Fakta ilmiah:
Hubungan antara kontrasepsi hormonal dan depresi tidak bersifat kausal dan konsisten.
- Uji klinis acak (RCT) tidak menemukan peningkatan signifikan gejala depresi dibandingkan plasebo.
- Sebagian studi observasional, terutama pada remaja, memang melaporkan peningkatan diagnosis depresi namun hasil ini dipengaruhi banyak faktor pembaur (confounding).
- Mayoritas pengguna tidak mengalami gangguan mood klinis.
Artinya, reaksi psikologis bersifat individual, bukan efek universal.
Mitos 3: Kontrasepsi Hormonal Menurunkan Gairah Seks
Fakta ilmiah:
Efek kontrasepsi hormonal terhadap fungsi seksual bervariasi.
- Beberapa perempuan melaporkan penurunan libido, sebagian lain tidak berubah, dan sebagian justru mengalami perbaikan.
- Jenis hormon berpengaruh: pil dengan drospirenone dan IUD hormonal dalam beberapa studi justru dikaitkan dengan peningkatan kepuasan seksual.
- Fungsi seksual perempuan bersifat multifaktorial—dipengaruhi relasi, stres, kesehatan mental, dan konteks hidup.
Tidak ada satu metode yang “pasti merusak” fungsi seksual.
Mitos 4: Pil KB Bisa Menyebabkan Mandul dan Mengganggu Program Hamil
Ini salah kaprah yang paling sering muncul.
Fakta ilmiah paling penting:
Kontrasepsi hormonal TIDAK menyebabkan infertilitas jangka panjang.
- Tingkat kehamilan dalam 12 bulan setelah berhenti kontrasepsi mencapai ±83%, setara dengan perempuan yang tidak pernah menggunakan kontrasepsi.
- Penurunan kadar AMH saat masih menggunakan kontrasepsi bersifat sementara dan reversibel.
- Ovulasi dan fungsi ovarium kembali normal setelah penghentian.
Beberapa metode memang menyebabkan penundaan sementara:
- Suntik DMPA dapat menunda kembalinya ovulasi beberapa bulan
- Pil, implan, dan IUD hormonal → kesuburan kembali relatif cepat
Untuk konteks program hamil, ini penting:
Jika kehamilan belum terjadi segera setelah berhenti KB, itu bukan karena rahim “rusak”, melainkan proses adaptasi hormonal yang normal.
Mitos 5: Kontrasepsi Hormonal Itu “Tidak Alami” dan Berbahaya
Istilah “tidak alami” sering disalahpahami.
- Hormon sintetis dirancang untuk meniru kerja hormon alami dengan struktur yang stabil.
- Kontrasepsi modern bahkan sudah menggunakan estrogen bioidentik seperti estradiol dan estetrol.
- Tujuannya: meningkatkan keamanan, mengurangi efek samping, dan mempertahankan efektivitas.
“Alami” tidak selalu berarti lebih aman, dan “sintetis” tidak otomatis berbahaya.
Mitos 6: Haid Harus Datang Setiap Bulan Agar Tubuh Sehat
Fakta ilmiah:
Perdarahan saat minum pil KB bukan haid alami, melainkan withdrawal bleeding.
- Tidak menstruasi saat menggunakan kontrasepsi hormonal bukan tanda penumpukan darah atau racun.
- Perubahan pola perdarahan adalah efek farmakologis yang dapat diprediksi dan umumnya aman.
- Preferensi terhadap haid bersifat personal, bukan indikator kesehatan universal.
Kontrasepsi Hormonal dan Kanker
Topik ini sering disederhanakan secara menakutkan.
- Risiko kanker payudara sedikit meningkat selama pemakaian, tetapi risiko absolutnya kecil dan menurun setelah penghentian.
- Risiko kanker ovarium dan endometrium justru menurun signifikan, bahkan bertahan puluhan tahun setelah berhenti.
- Risiko kanker serviks meningkat pada penggunaan jangka panjang, tetapi dapat ditekan dengan skrining dan vaksinasi HPV.
Artinya, kontrasepsi hormonal memiliki profil risiko–manfaat yang kompleks, bukan hitam putih.
Tantangan Besar: Stigmatisasi Efek Samping
Banyak perempuan merasa:
- keluhannya diremehkan
- efek samping dianggap “lebay”
- tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan
Padahal, komunikasi yang jujur dan seimbang terbukti meningkatkan kepuasan dan keberlanjutan penggunaan kontrasepsi.
Kontrasepsi hormonal memang memiliki efek samping, tetapi sebagian besar tidak seberbahaya yang digambarkan media sosial. Untuk banyak perempuan, manfaatnya baik kontraseptif maupun non-kontraseptif jauh lebih besar daripada risikonya.
Kesalahpahaman yang dibiarkan tumbuh tanpa klarifikasi dapat berdampak nyata: kehamilan tidak direncanakan, kecemasan berlebihan, dan keputusan kesehatan berbasis ketakutan.
Peran tenaga kesehatan dan edukator adalah menyajikan informasi yang utuh, jujur, dan kontekstual, agar perempuan dapat membuat keputusan reproduksi yang sadar dan berdaya. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id ya
Referensi
- Black, K. I., Vromman, M., & French, R. S. (2024). Common myths and misconceptions surrounding hormonal contraception. Best Practice & Research Clinical Obstetrics & Gynaecology, 102573.