Spektrum Gejala PCOS dan Kaitannya dengan Perilaku Seksual

 

Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) selama ini lebih sering dipahami sebagai gangguan hormonal yang berdampak pada siklus menstruasi, kesuburan, dan metabolisme. Namun, semakin banyak penelitian yang menunjukkan bahwa pengaruh PCOS tidak berhenti pada aspek biologis semata. Gejala PCOS juga dapat berkaitan dengan cara perempuan merasakan, mengekspresikan, dan memaknai seksualitasnya.

Sebuah studi yang dipublikasikan pada tahun 2020 mengangkat sudut pandang yang jarang dibahas: PCOS sebagai kondisi dengan spektrum gejala, dan bagaimana spektrum tersebut berhubungan dengan perilaku seksual serta orientasi sosioseksual pada perempuan muda. Pahami lebih dalam yuk! 

PCOS Tidak Selalu Hitam Putih

Penelitian ini berangkat dari gagasan bahwa gejala PCOS tidak hanya hadir dalam bentuk “ada” atau “tidak ada”. Sebaliknya, gejala seperti pertumbuhan rambut pola laki-laki, jerawat, atau ketidakteraturan siklus haid dapat muncul dalam tingkat yang bervariasi, dari sangat ringan hingga memenuhi kriteria klinis PCOS.

Pendekatan spektrum ini penting, karena kadar hormon androgen yang menjadi ciri utama PCOS juga tidak bersifat absolut. Ada perempuan tanpa diagnosis PCOS yang memiliki tanda-tanda hiperandrogen ringan, dan ada pula perempuan dengan PCOS yang gejalanya tidak terlalu menonjol secara fisik.

Menghubungkan Androgen, PCOS, dan Sosioseksualitas

Sosioseksualitas merujuk pada orientasi seseorang terhadap hubungan seksual tanpa komitmen emosional jangka panjang. Dalam psikologi, sosioseksualitas “tidak terbatas” menggambarkan individu yang lebih terbuka terhadap aktivitas seksual kasual.

Penelitian ini menguji hipotesis bahwa karena sosioseksualitas tidak terbatas sering dikaitkan dengan kadar androgen yang lebih tinggi, maka perempuan dengan lebih banyak gejala PCOS yang diasosiasikan dengan hiperandrogenisme juga akan menunjukkan orientasi sosioseksual yang lebih tidak terbatas.

PCOS dan Aktivitas seksual

Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin banyak gejala PCOS yang dilaporkan, semakin tinggi pula skor sosioseksualitas tidak terbatas. Hal ini mencakup:

  • peningkatan ketertarikan pada aktivitas seksual tanpa komitmen,
  • dorongan seksual yang lebih tidak terbatas,
  • frekuensi masturbasi yang lebih tinggi,
  • serta ketertarikan romantik atau seksual terhadap perempuan.

Selain itu, perempuan yang melewati ambang batas skor pada kuesioner skrining PCOS mandiri menunjukkan skor seksualitas yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang berada di bawah ambang tersebut. Ketertarikan terhadap perempuan juga dilaporkan lebih tinggi pada partisipan yang pernah mendapatkan diagnosis PCOS sebelumnya.

Temuan ini menunjukkan adanya hubungan konsisten antara spektrum gejala PCOS, kemungkinan paparan androgen yang lebih tinggi, dan variasi dalam ekspresi seksualitas.

Penting untuk ditekankan bahwa penelitian ini tidak menyimpulkan bahwa PCOS “menyebabkan” orientasi seksual tertentu atau perilaku seksual tertentu. Hubungan yang ditemukan bersifat asosiasi, bukan kausalitas.

Namun, hasil ini mendukung teori bahwa hormon androgen berperan dalam membentuk aspek-aspek perilaku seksual dan sosioseksualitas. PCOS, dalam konteks ini, dapat menjadi model biologis yang membantu peneliti memahami bagaimana variasi hormon memengaruhi pengalaman psikoseksual perempuan.

Ruang untuk Pendekatan yang Lebih Luas

Penulis penelitian juga menekankan perlunya eksplorasi faktor sosiokultural. Pengalaman hidup dengan gejala PCOS seperti hirsutisme atau perubahan tubuh dapat memengaruhi kepercayaan diri, relasi interpersonal, serta cara seseorang membangun relasi intim. Faktor-faktor ini tidak bisa dijelaskan hanya melalui hormon.

Dengan melihat PCOS sebagai spektrum, bukan diagnosis kaku, penelitian di masa depan diharapkan dapat lebih sensitif dalam memahami pengalaman perempuan secara utuh: biologis, psikologis, dan sosial.

PCOS adalah kondisi kompleks yang dampaknya melampaui kesehatan reproduksi. Penelitian ini membuka ruang diskusi bahwa variasi gejala PCOS juga berkaitan dengan keragaman pengalaman dan ekspresi seksualitas perempuan.

Memahami PCOS sebagai spektrum tidak hanya membantu pendekatan klinis yang lebih personal, tetapi juga mendorong percakapan yang lebih empatik dan ilmiah tentang tubuh, hormon, dan seksualitas perempuan tanpa stigma dan tanpa simplifikasi berlebihan. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi
Tzalazidis, R., & Oinonen, K. A. (2021). Continuum of symptoms in polycystic ovary syndrome (PCOS): links with sexual behavior and unrestricted sociosexuality. The Journal of Sex Research, 58(4), 532-544.