
Selama ini, ketika bicara soal infertilitas pria, fokus kita hampir selalu berhenti pada tiga hal: jumlah sperma, pergerakannya, dan bentuknya. Kalau hasil analisis sperma terlihat “normal”, sering kali kesimpulan cepatnya adalah tidak ada masalah berarti. Padahal, penelitian beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa sperma membawa sesuatu yang jauh lebih kompleks daripada sekadar DNA.
Infertilitas Pria: Lebih Umum dari yang Kita Kira
Secara global, sekitar 8–12% pasangan mengalami infertilitas, dan hampir separuh kasus melibatkan faktor pria. Namun menariknya, riset genetik klasik baru mampu menjelaskan sebagian kecil penyebab infertilitas pria. Artinya, ada “lapisan lain” yang selama ini luput dari perhatian.
Epigenetik menawarkan penjelasan tersebut. lalu apa itu Epigenetik Sperma?
Epigenetik merujuk pada cara gen “diatur” tanpa mengubah urutan DNA. Pada sperma manusia, regulasi ini sangat spesifik dan berperan besar dalam:
- pematangan sperma
- kualitas sperma
- perkembangan embrio awal setelah pembuahan
Dengan kata lain, sperma bukan hanya membawa kode genetik, tapi juga instruksi tambahan tentang bagaimana gen tersebut akan bekerja.
Saat epigenetik sperma terganggu
berbagai penelitian pada pria infertil menunjukkan pola yang relatif konsisten. Ditemukan adanya perubahan metilasi DNA pada gen-gen kunci yang berperan dalam pembentukan dan pematangan sperma, seperti DAZL, MTHFR, H19, dan RHOX. Selain itu, terjadi ketidakseimbangan rasio protamine PRM1/PRM2 yang seharusnya berfungsi memadatkan DNA sperma secara optimal, sehingga materi genetik menjadi lebih rentan terhadap kerusakan. Perubahan lain juga terlihat pada penanda histon, yang berperan penting dalam menjaga stabilitas dan regulasi materi genetik sperma. Menariknya, gangguan epigenetik ini tidak hanya ditemukan pada kondisi infertilitas berat, tetapi juga pada pria dengan jumlah sperma rendah, gerak sperma yang buruk, bentuk sperma abnormal, hingga kasus infertilitas dengan penyebab yang selama ini dianggap “tidak jelas”.
Menariknya, gangguan epigenetik ini bisa terjadi meski hasil spermiogram tampak normal.
Dampaknya Tidak Berhenti di Sperma
Epigenetik sperma tidak hanya berpengaruh pada kemampuan membuahi sel telur, tetapi juga:
- kualitas embrio
- keberhasilan implantasi
- hasil program IVF dan ICSI
Bagaimana dengan IVF dan ICSI?
Teknologi reproduksi berbantu seperti IVF dan ICSI memang membuka peluang besar bagi pasangan infertil. Namun penelitian juga menunjukkan bahwa:
- sebagian pria yang menjalani ART memiliki pola epigenetik sperma yang menyimpang
- perubahan epigenetik tertentu berkaitan dengan hasil ART yang kurang optimal
Ini tidak berarti ART berbahaya, tetapi menegaskan bahwa kualitas biologis sperma tetap berperan besar, bahkan dalam teknologi secanggih apa pun.
Tujuan dari pembahasan epigenetik sperma adalah setidaknya mengubah cara kita memandang infertilitas pria. Masalahnya tidak selalu terlihat di permukaan, dan tidak selalu bisa dijawab dengan satu angka hasil lab.
Infertilitas pria bukan soal “kurang jantan” atau “sperma sedikit” semata, tapi tentang bagaimana informasi biologis di dalam sperma disiapkan dan diwariskan.
Dengan pemahaman yang lebih utuh, pendekatan terhadap infertilitas pria bisa menjadi lebih adil, lebih presisi dan lebih manusiawi. Karena pada akhirnya, sperma bukan sekadar sel kecil ia membawa cerita biologis panjang yang ikut menentukan awal sebuah kehidupan. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujduagaris.id ya!
Referensi
- Hosseini, M., Khalafiyan, A., Zare, M., Karimzadeh, H., Bahrami, B., Hammami, B., & Kazemi, M. (2024). Sperm epigenetics and male infertility: unraveling the molecular puzzle. Human genomics, 18(1), 57.