Stres Kerja dan Dampaknya terhadap Fertilitas, Niat Memiliki Anak, dan Terapi Infertilitas

 

Stres kerja merupakan salah satu masalah kesehatan kerja yang paling umum di dunia modern. Tekanan pekerjaan yang tinggi, tuntutan produktivitas, konflik di tempat kerja, hingga rendahnya kontrol terhadap pekerjaan dapat memicu stres kronis pada pekerja. Berbagai laporan menunjukkan bahwa hampir sepertiga pekerja di negara maju mengalami stres kerja dalam tingkat yang signifikan. Dampaknya tidak hanya terbatas pada kesehatan fisik dan mental, tetapi juga merambah pada aspek kehidupan personal, termasuk kesehatan reproduksi.

Dampak stres kerja terhadap proses memiliki anak (childbearing) masih relatif jarang dibahas secara komprehensif. Dalam konteks ini, terdapat tiga komponen utama yang saling berkaitan, yaitu fertilitas, niat memiliki anak (fertility intention), dan proses pengobatan infertilitas. Ketiganya berperan penting dalam menentukan apakah seseorang atau pasangan dapat dan ingin memiliki anak. Namun, bukti ilmiah mengenai pengaruh stres kerja terhadap ketiga aspek tersebut masih menunjukkan hasil yang beragam dan bahkan kontradiktif. Baca lebih dalam yuk, kenapa ini terjadi?

Stres Kerja dan Pengaruhnya terhadap Sistem Reproduksi

Stres kerja dapat dipahami sebagai kondisi ketidakseimbangan antara tuntutan pekerjaan dan kemampuan individu untuk menghadapinya. Kondisi ini memicu respons fisiologis dan psikologis yang berkelanjutan, seperti peningkatan hormon stres, gangguan tidur, kelelahan emosional, serta perubahan perilaku sehari-hari.

Dalam jangka panjang, stres kerja telah dikaitkan dengan berbagai gangguan kesehatan, termasuk gangguan psikologis, penyakit kronis, dan penurunan daya tahan tubuh. Pengaruhnya terhadap sistem reproduksi sering kali kurang mendapat perhatian, padahal sistem ini sangat sensitif terhadap perubahan hormonal, kondisi psikologis, dan gaya hidup.

Lalu apa hubungannya antara Stres Kerja dan Fertilitas?

Stres kerja dapat memengaruhi fungsi reproduksi baik pada laki-laki maupun perempuan. Pada laki-laki, stres berkepanjangan berpotensi mengganggu keseimbangan hormon reproduksi dan kualitas sperma. Sementara itu, pada perempuan, stres dapat memengaruhi regulasi hormon, keteraturan siklus menstruasi, dan proses ovulasi.

Namun, pengaruh stres kerja terhadap fertilitas tidak selalu bersifat tunggal. Faktor lain seperti usia, kondisi kesehatan, dan gaya hidup sering kali berperan secara bersamaan, sehingga hubungan antara stres kerja dan fertilitas menjadi kompleks dan berlapis.

Selain memengaruhi fungsi biologis, stres kerja juga berdampak pada aspek psikososial, termasuk niat untuk memiliki anak. Tekanan pekerjaan, kelelahan mental, serta ketidakpastian ekonomi dapat menurunkan kesiapan individu atau pasangan untuk merencanakan kehamilan.

Stres kerja juga berkaitan dengan penurunan kualitas hidup dan kesejahteraan psikologis. Dalam kondisi tersebut, keputusan terkait reproduksi sering kali ditunda atau bahkan dihindari, bukan semata karena faktor medis, tetapi karena pertimbangan emosional dan sosial.

Stres Kerja dan Proses Pengobatan Infertilitas

Untuk itu baik sister maupun paksu, yang menjalani pengobatan infertilitas stres kerja dapat menjadi tantangan tambahan. Tekanan pekerjaan dapat menghambat kepatuhan terhadap jadwal terapi, membatasi waktu untuk menjalani perawatan, serta memengaruhi kondisi psikologis selama proses pengobatan.

Di sisi lain, proses terapi infertilitas itu sendiri sering kali bersifat emosional dan menuntut, sehingga dapat memperburuk stres yang sudah ada. Interaksi antara stres kerja dan pengalaman infertilitas ini berpotensi membentuk siklus yang saling memengaruhi dan memperberat beban psikologis.

Mekanisme yang Mendasari Hubungan Stres Kerja dan Reproduksi

Secara fisiologis, stres kronis dapat memengaruhi sistem hormonal yang berperan dalam fungsi reproduksi. Perubahan kadar hormon, peningkatan stres oksidatif, serta gangguan pada proses biologis reproduksi merupakan mekanisme yang sering dikaitkan dengan stres berkepanjangan.

Dari sisi perilaku, stres kerja juga berhubungan dengan perubahan gaya hidup, seperti gangguan tidur, pola makan yang kurang sehat, penurunan aktivitas fisik, serta peningkatan kebiasaan merokok atau konsumsi alkohol. Perubahan-perubahan ini secara tidak langsung dapat menurunkan peluang terjadinya kehamilan dan keberhasilan pengobatan infertilitas.

Stres kerja berpotensi memengaruhi kesehatan reproduksi melalui berbagai jalur, baik biologis, psikologis, maupun perilaku. Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan fungsi fertilitas, tetapi juga dengan niat memiliki anak dan pengalaman menjalani pengobatan infertilitas.

Oleh karena itu, pengelolaan stres di tempat kerja menjadi isu penting, tidak hanya untuk meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas pekerja, tetapi juga untuk mendukung kesehatan reproduksi dan perencanaan keluarga. Pendekatan yang melibatkan kebijakan organisasi, dukungan psikososial, serta kesadaran individu diperlukan untuk meminimalkan dampak jangka panjang stres kerja terhadap kehidupan reproduktif. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id ya

Referensi

  • Dehkordi, S. M., Khoshakhlagh, A. H., Yazdanirad, S., Mohammadian-Hafshejani, A., & Rajabi-Vardanjani, H. (2025). The effect of job stress on fertility, its intention, and infertility treatment among the workers: a systematic review. BMC public health, 25(1), 542.