The Fertility Cascade: Ketika Banyak Perempuan Tahu Mereka Infertil, Tapi Hanya Sedikit yang Bisa Mendapatkan Anak

Infertilitas sebenarnya jauh lebih umum daripada yang kita bayangkan. Secara global, sekitar 1 dari 6 perempuan mengalami kesulitan untuk hamil. Bahkan di Amerika Serikat, penelitian terbaru menunjukkan bahwa 12% perempuan usia 20–44 tahun pernah mengalami masalah infertilitas. Dengan angka sebesar ini, hampir setiap orang pasti mengenal seseorang yang sedang berjuang untuk memiliki anak atau mungkin mengalaminya sendiri.

Menariknya, sekitar 70% perempuan yang mengalami infertilitas sebenarnya sadar bahwa mereka memiliki masalah kesuburan. Mereka tahu ada yang tidak berjalan semestinya dan memahami bahwa tubuh mereka membutuhkan bantuan. Namun, kesadaran ini tidak otomatis berujung pada pengobatan atau keberhasilan kehamilan. Ada jurang besar yang oleh para ahli disebut sebagai “fertility care cascade” kesenjangan antara kesadaran untuk mencari bantuan, mendapatkan layanan medis, dan akhirnya berhasil melahirkan.

Ketimpangan Akses: Ketika Identitas Sosial Ikut Menentukan Peluang Memiliki Anak

Keberhasilan program hamil ternyata bukan hanya soal kondisi medis. Faktor-faktor sosial seperti pendapatan, pendidikan, jenis asuransi, dan bahkan ras diam-diam memainkan peran besar dalam menentukan siapa yang memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan anak melalui bantuan teknologi reproduksi.

Penelitian menunjukkan bahwa perempuan kulit putih dan Asia memiliki kemungkinan tertinggi untuk mencapai kelahiran hidup melalui pengobatan infertilitas. Sebaliknya, perempuan kulit hitam dan Hispanik menghadapi angka keberhasilan yang jauh lebih rendah, hanya sekitar 3–4% yang akhirnya berhasil memiliki bayi melalui perawatan kesuburan.

Bukan karena tubuh mereka kurang mampu atau kurang sehat. Tantangan terbesar justru berasal dari faktor eksternal, seperti:

  • biaya pengobatan fertilitas yang sangat mahal,
  • tidak adanya jaminan asuransi untuk prosedur seperti IVF,
  • akses klinik fertilitas yang terbatas,
  • lokasi fasilitas kesehatan yang jauh,
  • stigma sosial yang membuat mereka enggan mencari pertolongan,
  • kurangnya informasi tentang infertilitas,
  • serta regulasi negara bagian yang semakin membatasi penggunaan teknologi reproduksi.

Semua ini menciptakan hambatan besar banyak perempuan tahu mereka membutuhkan bantuan, tetapi sistem tidak menyediakan jalannya. Ketimpangan ini membuat keberhasilan pengobatan infertilitas tidak hanya ditentukan oleh biologi, melainkan juga oleh lingkungan sosial dan ekonomi yang melingkupi mereka.

 

Semakin Restriktif Aturan Negara, Semakin Sempit Peluang Perempuan untuk Punya Anak

Kebijakan yang Membentuk Akses: Ketika Regulasi Memperlebar Kesenjangan

Penelitian ini muncul pada momen yang sensitif, ketika sejumlah negara bagian di Amerika Serikat mulai memperketat regulasi terkait teknologi reproduksi, termasuk IVF, bahkan untuk alasan non-medis. Kebijakan seperti ini tidak hanya mengubah lanskap layanan kesehatan reproduksi, tetapi juga memperlebar kesenjangan yang sudah besar sejak awal.

Perempuan dengan pendapatan tinggi, tingkat pendidikan yang baik, dan akses terhadap asuransi pribadi masih memiliki peluang relatif besar untuk mendapatkan perawatan kesuburan. Namun bagi perempuan dari kelompok minoritas baik ras maupun ekonomi akses itu semakin menjauh. Ironisnya, keinginan untuk menjadi orang tua sama kuatnya, tetapi peluangnya tidak sama.

Jika dilihat dari gambaran besar, penelitian ini menyampaikan pesan yang tegas:

  • banyak perempuan menyadari bahwa mereka infertil,
  • hanya sebagian yang bisa mengakses layanan promil,
  • dan hanya sebagian kecil dari kelompok ini yang akhirnya berhasil melahirkan.

Pada akhirnya, faktor sosial, ekonomi, dan kebijakan negara ikut menentukan siapa yang dapat memiliki anak. Infertilitas bukan hanya persoalan medis, tetapi juga cermin ketidaksetaraan sosial.

Relevansi Global: Ketimpangan Akses yang Juga Nyata di Indonesia

Fenomena ini tidak hanya terjadi di Amerika Serikat. Di Indonesia, tantangan serupa juga dirasakan banyak pasangan yang mengalami infertilitas. Layanan kesehatan reproduksi masih terkonsentrasi di kota-kota besar, membuat akses geografis menjadi masalah utama bagi masyarakat di wilayah lain. Biaya prosedur yang tinggi juga menjadi hambatan signifikan, terutama bagi keluarga berpendapatan rendah.

Selain itu, edukasi publik tentang infertilitas masih minim, sementara stigma sosial bahwa infertilitas adalah sesuatu yang memalukan atau harus disembunyikan membuat banyak pasangan enggan mencari bantuan lebih awal. Di sisi lain, dukungan emosional dan sosial sering kali terbatas, sementara fasilitas yang terjangkau untuk masyarakat menengah ke bawah masih sangat sedikit.

Ketimpangan ini menunjukkan bahwa akses terhadap layanan fertilitas bukan hanya isu kesehatan, tetapi juga isu keadilan sosial. Dan jika negara maju saja menghadapi disparitas sebesar itu, maka negara berkembang seperti Indonesia memiliki tantangan yang jauh lebih besar untuk memastikan bahwa setiap pasangan, tanpa memandang latar belakang sosial atau ekonomi, memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi orang tua.

Referensi

  • Ulnicane I, Eke DO, Knight W, Ogoh G, Stahl BC. Good governance as a response to discontents? Déjà vu, or lessons for AI from other emerging technologies. Interdisciplinary Science Reviews. 2021;46(1-2):71-93. doi:10.1080/03080188.2020.1840220