Vitamin D dan Polycystic Ovary Syndrome (PCOS): Apa Kata Riset Terbaru?

 

Polycystic ovary syndrome (PCOS) adalah salah satu gangguan hormonal paling umum pada perempuan usia reproduksi, dengan prevalensi global antara 4–20%. Kondisi ini biasanya ditandai oleh tiga hal: menstruasi tidak teratur, kadar androgen berlebih, dan indung telur yang tampak polikistik. Selain memengaruhi kesuburan, PCOS juga erat kaitannya dengan masalah metabolik seperti resistensi insulin, obesitas viseral, hingga peningkatan risiko penyakit kardiovaskular.

Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak penelitian yang menyoroti satu faktor penting yang sering luput diperhatikan: Vitamin D. Defisiensi Vitamin D ternyata sangat umum pada perempuan dengan PCOS dan dapat memperburuk gangguan hormonal maupun metabolik yang menyertainya.

Wah kenapa bisa begitu, yuk ketahui hubungan antara Vitamin D, metabolisme, dan kesehatan reproduksi perempuan dengan PCOS.

Vitamin D: Lebih dari Sekadar Vitamin Tulang

Vitamin D ternyata berperan sangat besar dalam mengatur kadar kalsium dan fosfat untuk menjaga kesehatan tulang, gigi, dan otot. Namun, fungsinya ternyata jauh melampaui itu. Kok bisa begitu? karena Receptor Vitamin D (VDR) ditemukan di ovarium, endometrium, dan plasenta. Vitamin D berperan dalam produksi hormon penting, termasuk progesteron, estradiol, estron, serta human chorionic gonadotropin (hCG). Vitamin D membantu proses decidualization endometrium, yakni persiapan rahim untuk menerima kehamilan. Vitamin D memengaruhi kadar Anti-Müllerian Hormone (AMH) yang sangat penting dalam proses folikulogenesis.

Dengan kata lain, Vitamin D tidak hanya mendukung tulang karena ia ikut mengatur siklus reproduksi perempuan.

Bagaimana Vitamin D Mempengaruhi PCOS? 

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ketika perempuan dengan PCOS diberikan suplementasi vitamin D seringkali dikombinasikan dengan kalsium hasilnya cukup menjanjikan. Dalam 2–3 bulan, banyak peserta mulai kembali mengalami siklus menstruasi yang lebih teratur, ovulasi lebih sering muncul, dan bahkan sebagian di antaranya berhasil hamil hanya dari perbaikan kadar vitamin D. Temuan ini membuka gambaran bahwa vitamin D memainkan peran penting dalam kestabilan siklus dan fungsi ovarium.

Salah satu alasan vitamin D begitu berdampak adalah karena PCOS sangat identik dengan resistensi insulin. Vitamin D membantu meningkatkan sensitivitas tubuh terhadap insulin, memperkuat ekspresi reseptor insulin, dan menurunkan peradangan yang ikut memperburuk kondisi ini. Studi-studi menunjukkan bahwa dosis kurang dari 4000 IU per hari sudah cukup untuk membantu memperbaiki metabolisme glukosa, menurunkan resistensi insulin, mengurangi gejala hiperandrogenisme, serta membuat menstruasi lebih sering muncul dengan ritme yang lebih teratur. Selain faktor metabolik, ada juga aspek genetik: variasi pada gen Vitamin D Receptor (seperti Apa-I, Taq-I, Bsm-I, dan Cdx2) ditemukan lebih banyak pada perempuan dengan PCOS. Polimorfisme ini diduga berhubungan dengan kadar LH, SHBG, testosteron, dan bahkan resistensi insulin, sehingga respons setiap perempuan terhadap vitamin D bisa berbeda-beda.

Dampak vitamin D juga terlihat pada risiko metabolik dan kardiovaskular yang sering menyertai PCOS. Kadar vitamin D yang rendah berhubungan dengan tekanan darah lebih tinggi, kolesterol yang tidak stabil, peningkatan inflamasi, dan metabolisme yang melambat. Banyak perempuan PCOS juga mengalami dislipidemia: trigliserida yang tinggi, HDL rendah, atau kolesterol total yang meningkat. Suplementasi vitamin D terbukti berpotensi menurunkan trigliserida, memperbaiki profil lipid tertentu, mengurangi proses inflamasi, serta mendukung folikulogenesis, menurunkan testosteron, membantu regulasi menstruasi, bahkan meningkatkan peluang kehamilan. Dalam studi tertentu, pemberian 50.000 IU vitamin D setiap dua minggu selama delapan minggu pada perempuan PCOS kandidat IVF mampu menurunkan insulin, menurunkan AMH yang terlalu tinggi, serta memperbaiki metabolisme lipid. Ketika dikombinasikan dengan kalsium atau metformin, efeknya pada ovulasi dan ketereguleran siklus menjadi lebih kuat lagi.

Dengan kata lain: Vitamin D bukan “obat utama” PCOS, tetapi merupakan bagian penting dari manajemen komprehensif, terutama pada pasien dengan defisiensi. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

Mohan, Anmol MBBSa; Haider, Ramsha MBBSa; Fakhor, Hajar MBBSe; Hina, Fnu MBBSd; Kumar, Vikash MDf; Jawed, Aleeza MBBSb; Majumder, Koushik MBBSh; Ayaz, Aliza MBBSa; Lal, Priyanka Mohan MBBSb; Tejwaney, Usha Pharm. Dg; Ram, Nanik FCPSc; Kazeem, Saka MDf. Vitamin D and polycystic ovary syndrome (PCOS): a review. Annals of Medicine & Surgery 85(7):p 3506-3511, July 2023. | DOI: 10.1097/MS9.0000000000000879