Yuk Intip Perkembangan Terbaru dalam Pengobatan Endometrium Tipis

 

Endometrium lapisan dalam rahim memegang peran penting dalam keberhasilan implantasi embrio. Pada fase luteal, ketebalan endometrium idealnya mencapai 7–12 mm agar embrio bisa menempel dan berkembang dengan optimal. Namun pada sebagian perempuan, endometrium tidak mencapai ketebalan yang memadai. Kondisi ini dikenal sebagai thin endometrium (TE), biasanya didefinisikan sebagai ketebalan endometrium ≤7 mm.

Endometrium tipis berdampak besar pada peluang hamil. Studi menunjukkan bahwa semakin tipis endometrium, semakin rendah angka implantasi, klinis pregnancy rate (CPR), hingga live birth rate (LBR) baik pada siklus alami maupun program IVF/ICSI. Bahkan, TE juga dikaitkan dengan peningkatan risiko keguguran, pertumbuhan janin terhambat, dan persalinan prematur.

Mengapa Endometrium Bisa Terlalu Tipis?

Penyebab TE beragam dan seringkali terjadi bersamaan

Faktor inflamasi dan gangguan anatomi

Kondisi seperti endometritis kronis, adhesi intrauterine (Asherman syndrome), endometriosis, dan polip dapat mengganggu lingkungan endometrium. Peradangan yang berlangsung lama terbukti mengubah ekspresi gen tertentu dan menghambat proliferasi sel stroma

Faktor hormonal

Interaksi estrogen–progesteron sangat penting untuk regenerasi endometrium. Ketidakseimbangan hormon, reseptor hormon yang berkurang, atau respons yang buruk terhadap estrogen dapat membuat endometrium tidak bertumbuh optimal.

Penggunaan obat jangka panjang

KB hormonal jangka panjang, atau obat perangsang ovulasi tertentu, dapat memicu penipisan endometrium pada beberapa pasien.

Faktor idiopatik

Sebagian perempuan mengalami endometrium tipis tanpa penyebab jelas, meski tidak memiliki riwayat operasi atau gangguan rahim.

Apa Risiko dari Endometrium Tipis?

Siser harus tahu terlepas dari penyebabnya, endometrium tipis hampir selalu mengarah pada masalah yang sama: angka implantasi rendah, risiko keguguran lebih tinggi, risiko kehamilan ektopik meningkat, gangguan pertumbuhan janin, dua kali lipat risiko bayi lahir dengan berat rendah

Implantasi yang gagal bukan hanya soal embrio; dua pertiga kegagalan IVF berkaitan dengan endometrium yang kurang reseptif.

Terapi Hormonal & Vaskular: Fondasi Pengobatan Endometrium Tipis

Berbagai pendekatan hormonal masih menjadi terapi utama untuk meningkatkan ketebalan endometrium. Estrogen digunakan untuk merangsang proliferasi, dengan respons optimal saat kadar estradiol mendekati ±1000 pg/mL, meski butuh kehati-hatian terhadap risiko hiperplasia. Dukungan terapi lain seperti growth hormone (GH) dan hCG membantu memperbaiki reseptivitas endometrium lewat peningkatan aliran darah dan ekspresi molekul implantasi (VEGF, LIF). Sementara itu, obat seperti GnRH agonist dan tamoxifen dapat meningkatkan ketebalan, namun manfaat klinisnya masih bervariasi. Dari sisi pembuluh darah, aspirin dosis rendah, sildenafil, kombinasi vitamin E–pentoxifylline, hingga penelitian awal botulinum toxin A menunjukkan potensi memperbaiki perfusi serta pertumbuhan endometrium.

Regenerative Medicine: Dari Stem Cell hingga Exosome

Pendekatan regeneratif menjadi harapan baru karena langsung menargetkan perbaikan jaringan endometrium. Stem cell seperti BM MSCs, MenSCs, AD-SCs, dan UC-MSCs menunjukkan kemampuan memperbaiki fibrosis, meningkatkan vaskularisasi, bahkan menghasilkan kehamilan pada beberapa laporan. Namun, terapi ini masih terbatas karena biaya tinggi, sifat invasif, dan minimnya uji klinis besar. Alternatif yang lebih aman, seperti exosome dan extracellular vesicles, mulai dilirik karena dapat menstimulasi regenerasi, membentuk pembuluh darah baru, dan meningkatkan reseptivitas endometrium tanpa membawa risiko sel hidup. PRP juga menjadi terapi yang berkembang pesat berkat kandungan growth factors yang mampu meningkatkan EMT dan peluang kehamilan meski efektivitasnya sangat bergantung pada konsentrasi yang tepat.

Terapi Adjuvan & Arah Masa Depan Pengobatan

Pendekatan komplementer seperti herbal Tiongkok, akupunktur, hingga terapi otot dasar panggul semakin banyak diteliti karena efeknya dalam meningkatkan aliran darah panggul, memperbaiki marker reseptivitas seperti HOXA10, dan membantu ketebalan endometrium. Meski pilihan terapinya semakin beragam, penanganan endometrium tipis tetap menjadi tantangan besar dalam dunia fertilitas. Penelitian skala besar, protokol yang seragam, hingga standar dosis terapi masih sangat dibutuhkan. Namun, dengan berkembangnya regenerative medicine dan teknologi exosome, masa depan terapi endometrium tipis semakin menjanjikan membuka peluang keberhasilan kehamilan yang lebih baik, baik secara natural maupun melalui program ART. Dari penjabaran itu semua sister dan paksu tetap harus melakukan konsultasi dengan dokter ya! Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Wang, Y., Tang, Z., & Teng, X. (2024). New advances in the treatment of thin endometrium. Frontiers in endocrinology, 15, 1269382.